14 September 2009

Sosok Hj. Rupi'ah

MENGENAL SOSOK Hj. RUPI’AH
Jarak yang memisahkan tempat tinggal dan waktu yang membatasi kebersamaan antara Eyang Haji Mukti Putri yang nama aslinya H. Rupi’ah dengan para cucunya, membuat diantara para cucunya ada yang belum mengenal secara lebih dekat keseharian beliau. Hal ini dapat dimaklumi karena memang hampir seluruh anak dan cucunya tidak tinggal serumah dengan beliau. Sebagai cucu, buyut, canggah dan seterusnya adalah generasi pelanjut yang suka atau tidak didalam dirinya terpatri DNA beliau, karena dari rahim beliau bapak/ibu, kakek/nenek, buyut kita terlahir. Oleh karena itu, ada baiknya kita mencoba mengenang beliau sebagai media untuk mengeratkan tali silaturahmi sekaligus mengambil hikmah dan tauladan perjuangan hidup yang pernah beliau jalani. Penggalan kisah kenangan berikut ini mungkin dapat memberikan sumbangan untuk mengingat kembali sosok Hj. Rupi’ah yang kini telah mampu mengikatkan hati 105 manusia dalam keluarga besar Bani Mukti;
Kebetulan saya ditakdirkan menjadi salah satu cucu beliau yang pernah tinggal serumah dan menjadi teman tidur selama 12 tahun, kenangan tentang beliau yang saya ceritakan ini adalah pengalaman pribadi selama bersama beliau dan kini baru saya dapatkan mutiara hikmah yang ada dibalik itu. Semoga dapat disambung oleh saudara yang lain.

Berjiwa Besar

Ketika saya masih kelas 4 SD di Kenduruan sekitar tahun 1967, tempat dimana eyang Rupi tinggal banyak tumbuh pohon jambu biji. Ada banyak jenis jambu biji yang tumbuh atau ditanam penduduk kenduruan saat itu, beberapa jenis yang saya kenal antara lain: jambu krikilan yang buahnya kecil-kecil, jambu kluthuk agak besar bijinya merah, jambu gedhe yang buahnya besar dan bijinya putih, jambu sukun yang tanpa biji. Banyaknya pohon jambu yang ada disana mengundang kelelawar (codot) si binatang malam penyuka buah untuk memangsa buah-buah jambu masak dan menyebarkan bijinya kebanyak tempat. Dari ulah kelelawar inilah yang kemudian muncul semaian jambu dibanyak tempat termasuk di halaman rumah eyang Rupi.
Pernah suatu ketika, karena terdorong keinginan untuk memiliki pohon jambu sendiri, saya kecil waktu itu menanam semaian jambu di halaman depan rumah. Tumbuan ini saya pelihara mulai dari kecil hingga tumbuh dengan tinggi pohon sekitar 50 Cm. Karena banyaknya muncul semaian jambu baru dimana-mana yang tumbuh dari biji jambu yang disebarkan kelelawar, oleh orang sana biasanya dicabuti. Demikian pula eyang yang memiliki tanaman faforit berupa sirih, selalu membersihkan tanaman-tanaman pengganggu dari pohon sirihnya.
Sirih adalah tumbuhan merambat pada pohon lain yang banyak digunakan penduduk kenduruan untuk nginang (nyirih), karena hampir sebagian besar penduduk perempuan yang menginjak usia 40 tahun keatas mempunyai kebiasaan nginang. Meski sirih ini termasuk tanaman yang mudah tumbuh, tetapi tidak banyak orang mampu menanam sirih dengan kualitas baik. Eyang Rupi’ah termasuk sedikit orang yang berhasil mengembangkan tanaman sirih ini dengan baik, sebagai petilasannya sampai saat ini dirumah Kenduruan masih terdapat tumbuhan sirih yang terus berkembang dengan baik. Tanaman sirih bagi eyang Rupi ada banyak fungsi, antara lain untuk memenuhi kebutuhan nginang, pengobatan tradisional dan dijual.
Sebagaimana layaknya untuk menjaga agar tanaman tetap tumbuh dengan baik, secara rutin perlu diperhatikan kesuburan tanahnya, kelembaban dan kondisi lingkungan sekitarnya agar tidak banyak tanaman pengganggu yang tumbuh liar disekelilinggnya.
Karena itu pula, kira-kira yang kemudian eyang membersihkan tanaman pengganggu seperti rumput dan tanaman liar lainnya yang tumbuh disekitar tumbuhan sirih ini, termasuk tanaman jambu yang saya pelihara ikut dicabuti oleh eyang. Melihat tanaman jambunya dicabut, saya kecil menjadi galau hatnya. Persaan tidak terima akhirnya memunculkan dorongan untuk membalas dengan cara yang setimpal. Mengetahui yang mencabut adalah eyang Rupi, maka saya kecil tidak berpikir panjang kemudian ambi pisau dan memotong langsung pangkal pohon dari tanaman sirih yang besar itu. Tidak lama keesokan harinya tanaman kesayangan eyang sudah layu dan mati tentunya.
Hari berikutnya seperti biasanya waktu eyang merawat tanaman kesayangannya betapa kegetnya beliau melihat daun sirihnya pada layu. Selidik demi selidik ternyata kedapatan biang keladinya yakni pangkal pohon sirihnya telah terpotong. Tentu ini sangat menyakitkan, betapa tidak tanaman yang setiap hari dirawat agar tetap tumbuh dengan bagus dan subur tiba-tiba layu. Tak pelak lagi semua orang serumah dapat getahnya kemarahan eyang. Namun belakangan setelah mengathui secara pasti bahwa yang memotong saya karena tanaman jambu saya dicabut, maka justru eyang mereda amarahnya. Kalimat yang terucap dari eyang adalah: ”iyo cung embah sing salah, wong tanduran bendina dielus-elus kok idep-idep dijabut”
Dari peristiwa ini, mungkin waktu itu aku masih kecil belum memahami atas semua itu, jadinya yang ada hanya mangkel saja, tetapi setelah dewasa dan mampu memaknai akan apa yang terjadi, maka ada nilai yang dapat kita petik darinya, yakni kebesaran hati beliau.
Sebenarnya pada saat itu beliau dapat melakuakan apa saja kepada saya karena beliau mempunyai otoritas lebih besar dan yang jelas lebih kuat dari sekedar anak kelas 4 SD, tetapi tidak beliau lakukan dan justru meminta maaf.
Apabila kita maknai dengan sebetulnya didalam tindakan itu ada tauladan yang dapat kita petik antra lain:
1. bahwa tidak haram bagi mereka yang lebih kuasa untuk meminta maaf kepada orang yang ada dibawahnya, apalagi kalau memang salah;
2. mau mawas diri, bahwa orang tua atau orang yang lebih tua itu tidak selalu benar tindakannya, oleh karena itu sebaiknya selalu bersedia untuk mawas diri dan siap menerima masukan, termasuk melalui hilangnya barang yang sangat disayangi sekalipun
3. akomodatif, bahwa pada sosok beliau terggambarkan sikap yang akomodatif terhadap kepentingan komunitas disekitarnya yang memiliki keinginan serupa.

-by Pakde Wan -
-Miswan Hadi : Generasi ke-2 Bani Mukti-

31 Agustus 2009

2009 : Tahun Cobaan dr Sang Illahi


Alhamdulillah akhirnya bisa juga meluangkan waktu untuk menulis sebentar tentang kejadian di tahun ini hingga di bulan September 2009.

Tahun ini adalah tahun cobaan buat keluarga besar Bani Moekti. Hampir semua keluarga besar mengalami cobaan dari Allah SWT...semoga ini merupakan awal kenaikan kelas bagi Keluarga Besar Bani Moekti....Insya Allah.

Bermula dari masuknya pakde Fin ke RS, Eyang Roestimah (Sakit extrapontine myelinolysis (EPM) ke RS, kemudian disusul om Puthut (Istri Mbak Thien) secara mendadak mengalami pemecahan pembuluh darah di otak, kemudian disusul Audi (Putri Mbak Watik) terpaksa juga harus opname , tak lama setelah itu Mbak Watik terpaksa harus menginap di "RSB Bidan Bule Mur" karena keguguran, kemudian menyusul Budhe Rohman harus opname di RS Malang. Cobaan untuk keluarga ini ternyata tidak berhenti sampai di sini, setelah itu menyusul Om Yoyok putra ke-1 Eyang Mur yang mengalami Fitnah. Dan Alhamdulillah cobaan dari Allah SWT ini Insya Allah dapat dilalui oleh semua pelakunya dikarenakan Allah SWT memberikan petunjuk kepada kita semua utk saling mengingatkan dan membantu dalam kebenaran.

Semoga cobaan-2 ini adalah awal langkah yang baik bagi keluarga besar Bani Moekti untuk naik kelas...Insya Allah. Allah SWT akan menguji tiap-2 umatnya dengan takaran yang pas....karena memang Allah SWT PASTI tidak akan mencoba hamba-Nya di luar batas kemampuan hamba-Nya.

Dan semoga kita bisa naik kelas....

Melintas dalam benakku ketika Pakde Wan mendampingi aku dikala di tinggal Ayahnda tercinta menghadap sang kholiq...hampir tiap hari beliau bawaiin pangsit mie...Bappeda...hehehe....dan selalu berucap sing sabar ya...yang kuat ...ok
Dan Eyang Muji yang selalu mengajarkan tentang dzikir dalam hati....(Tekuk Lidah dan Dzikir ya dik...itulah kata-2 yg selelu muncul saat ada disampingku)
Nah ......ini juga Cobaan....


Semoga dengan Cobaan yang tengah dihadapi keluarga besar ini membuat kita makin solid dan kuat, dan semua didasarkan kecintaan kita karena Allah SWT.
Mari kita semua maju bersama berjuang mencapai cita-cita pendahulu kita....yang sudah ditanam sejak dini..mulai dari pentingnya rasa kebersamaan..yang itu sudah sejak lama di ramu oleh pendahulu kita...
Sebut saja...terawih di rumah pakde rohman, sembelih hewan qurban, mengadakan pengajian di eyang muji.....monggo dan mari kita hidupkan kembali semangat itu hingga akhir nanti...Insya Allah.

Ya Allah SWT jadikan keluarga besar ini...suatu keluarga yang Tak Akan Lepas dari Jalan-MU

Ya Allah SWT Ampuni dosa kami, dosa pendahulu-2 kami sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kami disaat kami masih kecil......

Ya Allah SWT tetapkanlah hati kami untuk tetap teguh di jalan-Mu sampai akhir hayat kami bahkan sampai di akhir hayat cucu kami kelak.....

--by : Pa-e Rif Bersaudara--

30 September 2008

Silaturahim

Suatu kata yang mungkin kadangkala sering kita lupakan. Tapi ternyata mempunyai efek domino yang cukup dasyat. Mudik mungkin salah satu bagian dari silaturahim. Bertemu Ibu. Bertemu bapak. Bertemu saudara, mas juga adik.

Bertemu mbah. Bertemu pakde. Bertemu budhe. Bertemu paklek. Bertemu bulek. Ponakan-ponakan. Sepupu-sepupu. Misan. Dll. Asyiknya bukan main.

Bagaimana rasa batin yang seperti ini diuraikan kata-kata? Bisakah? Bagi Didik Ali Mukti Hidayat, dan mungkin juga generasi Kenduruan yang lain, menguraikan yang seperti ini bukanlah pekerjaan mudah. Malah merupakan pekerjaaan yang luar biasa sulit yang tidak cukup dipikirkan tujuh hari tujuh malam. Kenapa, karena kita tidak terbiasa mengasah rasa menjadi kata-kata.

Gagasan dari Pakde Wan, dan juga semuanya, untuk terus menyambung silaturahim meskipun MBAH KAJI sudah tiada, mungkin salah satunya karena beliau sangat sadar sekali tentang “Efek domino” dari silaturahim itu sendiri.
Jauh menengok kebelakang, pada abad Ke-7, Muhammad SAW yang juga seorang "Pengusaha Tulen" itu sudah menekankan betapa pentingnya Silaturahim dalam rangka mengetahui Costumer Insight dengan menggunakan silaturahim sebagai salah satu seni dalam berdagang, yang tentu saja secara tidak langsung akan menaikkan omzet perdagangan.

Saat itu si Pengusaha Tulen tersebut yakin bahwa Silaturahim memiliki arti dan pengertian yang jauh lebih dalam ketimbang hanya sebatas hubungan bisnis saja. Hingga akhirnya Pengusaha Tulen ini menemukan suatu key bahwa dengan siltaurahim ia dapat membangun networking yang tanpa batas.

Siapa yang menduga seorang pengusaha tulen bisa menjadi seorang “Pemimpin Dunia” yang namanya terus berkibar hingga kini bahkan hingga akhir jaman kelak. Pengusaha Tulen ini sangat sadar sangat bahwa dengan “Silaturahim” beliau bisa menyebarkan agama, bisa berdagang, menyambung tali persaudaraan, menyatukan Sesutu yang terurai menjadi yang utuh, yang rusak menjadi baik bahkan menjadikan “Musuh” menjadi “Sahabat Sejati”. Efek Domino Silaturahim inilah yang akhirnya merubah seorang pengusaha tulen hingga akhirnya menjadi pemimpin dunia yang membawa suatu perubahan yang sangat cukup DASYAT di dunia ini…..

Lantas?

”sudahkah kita biasakan silaturahim di antara kita?

ya meskipun tidak bisa tiap minggu.. ya tiap bulan..

or tiap tahun.. or mungkin tiap 2 tahunan.”

Mohon maaf sebelumnya. Terkait dengan gagasan itu, saya pribadi cukup sulit mempraktekkannya. Contoh yang paling sederhana, saya juga jarang berkunjung ke rumah Pakde Wan, walau jaraknya bisa ditempuh kurang dari lima jam sembilanpuluh sembilan detik. Paling banter, yang cukup sering, adalah ke Eyang Muji, karena rumahnya dekat. Itupun juga tidak rutin.

Mohon maaf sebelumnya, mungkin ini bisa jadi bahan obrolan, bahan diskusi, bahan instropeksi, bahan apa saja agar tali-temali yang sudah diikat Mbah Kaji tak lepas, tak putus ditengah jalan. (*)

Wass.wr.wb.
--Rifqi,Rifqa--

Libur Sekolah, Antri minta Sunat


Menginjak besar setiap anak laki-laki yang beragama Islam mempunyai kewajiban untuk menjalani khitan. Pada tahun 2008 ini anak laki-laki yang sudah memasuki usia khitan di keluarga Bani Mukti ada empat yaitu adik Reyhan di Surabaya, Mas Eben di Malang, Dik Yahya di Bogor dan Dik Fiskal di Madura. Pada awalnya keempat anak ini kalau ditanya kapan sunat, jawabnya tahun depan. Namun keadaan mendadak berubah setelah dipicu oleh Dik Rifky putra om Didik yang usianya jauh lebih muda dari mereka berempat tahu-tahu sudah khitan duluan.

Kemudian berturut-turut dalam bulan Juli Fiskal sunat di Madura, Yahya sunat di Surabaya dan terakhir tanggal 11 Juli 2008 tepatnya hari Jumat, Dik Reyhan dan Mas Eben khitan bareng di RS. PHC Perak. Saat itu memang masa liburan sekolah setelah kenaikan kelas. Kok, liburannya mau berakhir baru khitan apa karena nunggu hari baik ? Tidak, semua hari kan baik, tetapi hanya karena maunya yang bersangkutan baru muncul belakangan. Sebetulnya pada awal liburan, adik Reyhan sudah ditanya oleh bapak mau sunat sekarang atau tidak? dan jawabnya tidak mau sekarang.

Mengisi liburan sekolah saya bersama teman berlibur di kota Jember, sedangkan ibu dan adik-adik ikut bapak ke Magetan karena kebetulan bapak ada kegiatan disana bahkan nginapnya di samping telaga Sarangan, jadi selama dua hari bapak mengikuti kegiatan kantor, mereka bertiga (ibu, Lala dan Reyhan) menikmati panorama telaga Sarangan nan mempesona. Karena itu pula yang menyebabkan, kami sekeluarga tidak bisa hadir dirumah Eyang Roes pada saat Dik Yahya khitan di Surabaya.

Usai berlibur, kami pulang kembali ke Surabaya dengan membawa kenangan masing-masing. Hari esoknya kami sekeluarga termasuk Reyhan berkunjung ke rumah Eyang Roes di Petemon untuk menjenguk Dik Yahya yang habis di khitan, ternyata sesampai disana Yahya sudah tidak terlihat seperti layaknya anak sunat yang memakai kostum kebesaran khas sunat, melainkan sudah mengenakan celana seperti biasanya. Kok bisa, iya karena khitannya menggunakan metoda baru yang namanya Smartklamp.

Pada saat menjenguk Yahya inilah kira-kira yang kemudian memberikan dorongan keberanian dari Dik Reyhan sehingga secara drastis terjadi perubahan keputusan dari jadwal sunat tahun depan menjadi besok pagi.

Apa komentar Dik Reyhan setelah terlanjur di khitan?

Ternyata enak ya sunat itu,

Enaknya dimana ?

Enaknya dapat uang banyak.......;)

(by : Rosyida)

Melukis Kenduruan dengan Pelangi

Dulunya hanya alas. Pohon jati, perdu-perdu berduri, dan semak-semak bercampur alang-alang hutan. Semua binatang ada disana. Yang melata, yang bersengat, yang berbisa, hingga harimau yang mengaum dan menerkam. Ini abad 21. Label “dulunya” itu sudah tidak ada lagi. Yang ada adalah ornamen Kenduruan masa kini. Rumah tembok, lantai porselin atau granit, dan genteng kelas satu yang anti bocor.

Di zaman Kaji Cilik, sebutan populer eyang kita, Eyang Mukti Mustadjab, Kenduruan masih tak lebih dari alas belantara. Disela-sela alas itu baru terhampar sawah-sawah penduduk yang luasnya tak sebanding dengan keangkeran hutannya, dan beberapa anak sungai yang airnya gampang mengering jika kemarau tiba. Sementara Sidomukti, sebagian kecil dari wilayah Kenduruan – dimana Kaji Cilik lahir dan besar – cukup menjorok ke dalam alas namun dikelilingi persawahan dengan kualitas tanah terbaik. Mampu ditanami palawija apa saja, sehingga tak pernah terdengar kabar jika penduduk Sidomukti tak bisa menanak beras.

Berada di dalam pagar hutan jati hidup, praktis penduduknya menyesuaikan keadaan. Rumahnya dari papan-papan jati. Perabotnya pun nyaris semuanya dari kayu jati. Tentu bukan sembarang jati, tetapi jati pilihan yang sudah benar-benar tua. Mereka tahu, menebang jati muda bakal tak ada gunanya karena akan mengurangi prinsip tahan lama. Prinsip keawetan. Batang Jati muda akan lekas mleyot dan lapuk. Rayap dan ngengat pun juga akan suka memakannya.

“Itu dulu. Kenduruan sekarang bukan Kenduruan yang dulu. Sudah tidak ada alas lagi. Sudah banyak yang berubah. Sudah jarang rumah-rumah dari papan. Sekarang rumah-rumah pakai tembok. Dari batu-bata dan semen. Yang asalnya papan juga dirombak, diganti tembok. Sementara papannya kemudian dijual karena harga kayu jati harganya mahal,” cerita Pakde Mus suatu ketika sembari menikmati batang-batang rokoknya. Kalau sekarang masih ada rumah dari papan-papan jati, lanjutnya, itu jumlahnya tidak banyak. Tinggal segelintir saja. Salah satunya yang awet adalah peninggalan Mbah Kaji ini.

Zaman memang selalu bergulir. Ia bergerak dengan nalurinya sendiri. Era Kaji Cilik adalah era 1900-an. Era dimana segalanya serba terbatas. Kenduruan, wilayah yang dipagari oleh rapatnya hutan belantara itu, hanya mempunyai satu jalan tembus. Ke kiri Cepu, dan ke kanan adalah Tuban. Itulah akses satu-satunya agar bisa berhubungan dengan dunia luar.

Jadi wajar jika Kenduruan masa itu tak tersentuh perubahan. Namun sungguh beruntung Kaji Cilik, meski semuanya serba terbatas, ia bisa mondar-mandir dengan leluasa di luar Kenduruan. Melihat ‘dunia baru’. Naluri dagang bawaan lahir yang membuatnya bisa demikian. Naluri itu pula yang membuat Kaji Cilik dan Istrinya, Hj Rupiah, bertahun lalu getol mengirim tujuh anaknya untuk bersekolah di luar Kenduruan. Tujuannya jelas, agar bisa melihat dunia luar dan menjadi anak zaman.

Silih berganti, kini sudah muncul generasi baru. Era 2000-an. Era baru biasanya selalu membawa nafas yang baru pula. Dan itu benar. Simak saja; akses menuju Kenduruan kini bisa dijangkau dari arah kiri, kanan, belakang dan depan. Ke kiri bisa tembus Jakarta. Ke kanan pun bisa melesat sampai Jakarta pula. Hanya dari atas yang belum bisa. Jadi tinggal pilih sarana apa yang tersedia. Naik gerobak, naik sepeda, mobil, angkutan umum dan seterusnya. Bisa semua! Itu tergantung pada selera, kesempatan, dan kemauan.

Era kemudahan ini pula yang membawa Kenduruan bergeser mengikuti zaman. Alas jati itu kini nyaris tak ada lagi. Berubah menjadi gundul. Menjadi pekarangan-pekarangan gersang yang jika kemarau tiba menghembuskan hawa sumuk dan lengas tak tertahankan. Sumur-sumur tak lagi ada yang dangkal, baru setelah berpuluh-puluh meter digali airnya baru muncul.

Siapapun tahu kayu jati menjadi komoditas mahal, barangkali itu pula yang membuat jati Kenduruan yang galih-nya sangat terkenal itu seperti berlomba-lomba dibabat. Ketika kayu hutan habis, giliran papan-papan rumah yang dilego. Harganya masih tetap mahal karena kayu jati pilihan. Maka, bergantilah rumah papan kayu menjadi tembok dari batu bata. Lalu di semen, berikutnya dicat dengan aneka warna seperti pelangi yang indah sesuai selera. Atapnya pun berganti dengan genting-genting pilihan buatan pabrik.

Jika dulunya lantai tetap tanah atau diplester biasa, kini sudah berubah menjadi bilah-bilah porselin atau granit. Pun begitu, peninggalan pasangan suami-istri Mbah Kaji, tetap saja seperti sedia kala. Tak banyak yang berubah. Rumah yang dibentuk dari papan-papan kayu itu tetap menjulang kokoh. Meski kalau diperhatikan, sekilas, rumah papan itu beberapa inci doyong ke kiri. Tapi tentu, tak membuat rumah legendaris Bani Mukti ini menjadi ambruk.

Meski tak berubah menjadi lantai granit atau juga sekokoh tembok bata, toh generasi Mukti Mustadjab tetap menjadikan rumah itu tempat paling nyaman dan aman di dunia. Memang sesekali ada rengekan bocah-bocah; kenapa panas, kenapa tidak ber-AC, kenapa tidak ada kolam renangnya, kenapa kok gelap sekali, kenapa mandinya harus antri, mengapa ke WC-nya juga antri pula, kenapa bukan WC duduk, Kenapa pakai kamar selalu rebutan, selalu disik-disikan, kenapa ada yang harus tidur di meja, di kursi, klesetan seperti ikan pindan di pasar, dll. Kenapa tidak seperti rumah kita sendiri di kota?

Toleee.. genduk.. ya itulah keistimewaan rumah ndeso ini. Ini rumah mengalahkan hotel bintang lima sekalipun. Istimewanya lagi, meski mampu mengalahkan bintang lima, tidak ada yang siap saji di sini. Semua is natural. Semua harus melayani dirinya sendiri. Semua harus “rebutan”, karena “rebutan” di rumah ndeso ini tidak ada duanya di kota. Dalam “rebutan” itu ada edukasi kebersamaan yang mungkin tidak diajarkan di sekolah-sekolah. Itu yang menyebabkan fasilitas rumah Eyang Kaji ini melebihi hotel bintang lima. Lha kalau kalah rebutan terus nesu, ngambek, yang biar ngungsi di atas genteng sana. Tidur sama tikus sambil lihat langit. Malah adem di luar seperti ada AC-nya. Nah, gampang to le.. gampang to nduk..,” bisik Mbah Kaji lamat-lamat yang tidur dalam keabadian. (widi antoro)

Kapal Kebersamaan

Baru saja kita lepas dari bulan Agung Ramadhan, yang mana di Ramadhan kemarin segala aktifitas kita lebih mudah untuk selalu bernuansa ibadah, lebih terdorong untuk bersabar, lebih mudah untuk bersyukur dan lebih mudah untuk banyak beristigfar. Pikiran, hati, mata, hidung, mulut dan bahkan seluruh anggauta tubuh kita rasanya ringan sekali untuk mengingat Allah swt.

Keadaan yang seperti itu manakala mampu kita pertahankan di sebelas bulan selain Ramadhan, maka itulah sesuatu yang bisa dan mampu mengantarkan kita untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar lagi yaitu;Hidayah. Hanya dengan hidayah Allah-lah semata-mata pikiran, hati, lisan, dan seluruh anggauta tubuh kita ringan untuk selalu mengingat Nya. Juga karena HidayahNya yang mampu menelorkan bagaimana kita wajib memelihara, mengembangkan dan memajukan kwalitas hidup kita. Dan itulah sebenarnya hakikat tujuan berpuasa kita, yaitu berpuasa yang mampu mendapatkan hidayahNya sehingga hidup kita semakin ringan dan mudah menjalankan perintah Allah swt.

Salah wujud kita sebagai hamba yang mampu mendayagunakan HidayahNya adalah dengan merenungi eksistensi kita sebagai manusia. Kemampuan tersebut adalah salah satu tangga mema’rifati jati diri dan kehadirannya di alam fana ini. Melalui tangga Ma’rifat itulah seseorang akan menemukan kesadaran tentang hakikat kemanusiaannya, potensinya, kualitas dasarnya, kepribadiannya dan misi dirinya yang harus ditunaikan selama hayat dikandung badan.

Dengan merenungi eksistensi diri, kita akan menemukan sebuah kenyataan bahwa diri kita adalah asalnya satu (ummatan waahidan), yaitu keturunan Nabi Adam a.s, dan karenanya harus bergaul baik dengan sesamanya, tidak ada seorang manusiapun yang mampu hidup sendirian, apalagi kalau dikaitkan dengan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, manusia satu akan tergantung dengan lainnya. Artinya, bila kita bersikap baik pada sesamanya, sama artinya dengan kita membuka kran rizqi dari Allah lebar-lebar. Bukankah selama ini rizqi kita senantiasa harus lewat tangan orang lain?. Sebaliknya, semakin mengucilkan diri dari pergaulan dengan orang lain, berarti menutup rapat pintu rizqi kita sendiri.

Dengan merenungi eksistensi diri pula, manusia dapat menemukan sebuah kesadaran bahwa di dalam dirinya melekat dua dimensi (ruhani dan jasmani), yang sekaligus memastikannya sebagai makhluq sempurna dan yang membedakan dengan makhluq-makhluq lain. Kedua dimensi itu, selain memiliki kebutuhan yang berbeda, juga saling menyempurnakan dan membentuk sebuah struktur kepribadian yang padu, yaitu kepribadian manusia.Secara lebih jauh, dengan memperhatikan dimensi-dimensi yang ada pada diri manusia dengan segala keteraturannya, kerumitannya dan kemulyaannya, dapat mengantarkan kepada keimanan dan keyakinan kepada Sang Maha Penciptanya, serta membentuk kesadaran terhadap kedudukan manusia sebagai hamba Allah.

“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan pada dirimu, maka apakah kamu tidak memperhatikan ?” (Q.S. Adz- Dzariyat : 20-21).

Itulah kesadaran kemanusiaan manusia yang sepanjang hidupnya selalu menjadi motivator dan sekaligus menjadi energi kuat untuk merealisasikan tujuan dia diciptakan, yaitu menjalankan misi autentik (menjadi kholifah), dan untuk mencapai cita-citanya (sejahtera lahir batin). Kekuatan energi diri yang ada pada setiap diri itu, tidak henti-hentinya menjadi pembangkit tenaga spiritual yang bisa menggerakkan seluruh kesadarannya untuk mengoptimalkan semua potensi diri, hingga mencapai kualitas Muttaqin.

Manusia agung Muhammad Rasulullah s.a.w mengibaratkan kompak dan cerei berainya hubungan antar manusia satu dengan lainnya adalah seperti sebuah rombongan yang menaiki kapal yang sedang mengarungi samudra lautan luas. Salah satu diantara rombongan/penumpang dapat menenggelamkan semua penumpang yang ada di dalamnya, jika salah seorang tadi melubangi kapal walau sebesar paku dan penumpang lainnya membiarkannya.(H.R Bukhari).

Tentu kita tidak akan ingin menjadi orang yang akan melubangi kapal tersebut, atau kita pasti merasa terhina, malu, dan marah manakala kita dituduh sebagai orang yang melubangi. Dan tentu kitapun tidak akan tinggal diam bila di atas kapal tersebut, kita melihat salah seorang penumpang ada yang ingin melubangi kapal, karena dengan membiarkannya berarti tenggelam buat semuanya.

Kiranya tidak ada seorangpun yang harus kita tunjuk dan bertanggung jawab untuk mengawasi bocor dan tenggelamnya kapal kebersamaan. Sayangnya, kelemahan kita bersama, terlalu terkungkung oleh sekat-sekat formalitas pelayaran, tanggung jawab keselamatan hanya kita bebankan pada mereka-mereka yang ditunjuk sebagai Nahkoda kapal. Padahal tangung jawab atas keselamatan berlayarnya kapal sampai ke pulau yang dituju adalah tugas seluruh penumpang yang ada di atasnya. Bukankah prinsip tanggung jawab dan kemulyaan seseorang dihadapan Tuhan bukan ditentukan oleh status formalitas yang dia sandang, akan tetapi setiap insan mempunyai peran yang sama untuk mendapatkan kemulyaanNya.”Kalian adalah sebaik-baik umat, yang mengajak kepada manusia untuk berbuat kebaikan dan mencegahnya dari kemungkaran”

Salah satu pesan yang ingin dibangun oleh Allah dan RasulNya dibalik diwajibkannya berpuasa adalah terwujudnya manusia yang mencapai derajat Muttaqin. Yaitu manusia yang mampu menggunakan semua energi potensial yang tertanam dalam dirinya hanya digunakan untuk pengabdian yang tulus kepada Allah swt, yang selanjutnya energi itu dioptimalkan untuk menuju citi-cita luhurnya, yaitu sejahtera dunia akhirat.

Seandainya kita mengikuti training satu dua hari saja, dan hasilnya belum mampu kita aplikasikan dalam kehidupan nyata, barangkali masih diaggap sebagai sesuatu tindakan yang wajar. Akan tetapi, selama Ramadhan, tiga puluh hari penuh kita mengikuti training Allah,dan hasilnya belum nampak, tentu kita harus bertanya pada hati kita masing-masing. Wa Allah a’lamu bisshawab.

by : Rosyidin Shobar

Kebersamaan itu sudah di pupuk dari dini……

Masih membekas dalam hati ini ketika...waktu itu Eyang Rohman “Membumikan” nilai kebersamaan mulai saat kami masih kanak-kanak.

Saat itu setiap Romadhon tiba, Rumah Eyang Rohman disulap bak Musholla, dimana di rumah yang penuh kenangan itu kita melakukan sholat “Terawih” secara berjam’ah....

Bukan hanya keluarga besar Mukti saja yang hadir, tetapi hampir seluruh kampung Jl.Petemon 4, Sawahan hadir di rumah kenangan itu.

Rumah yang secara tidak langsung ikut membentuk diri ini akan arti sebuah “Kebersamaan”.

Ayahku-pun teringat ketika saat itu Budhe Ida....tertidur pulas hehehehe....dan gimana Pakde Budi secara diam-diam duduk disebelah Budhe Ida yang tertidur pulas lalu berteriak Allahu Akbar.. .padahal sholat Terawih udah selesai......(Nyuwun duko Budhe...)

Tak hanya berhenti di situ...kebersamaan itu ditanamkan pada kami waktu itu, Saat Idul Adha datang, rumah Eyang Rohman disulap juga bak Musholla dimana disana dilakukan suatu “Syiar” yang cukup melegenda yaitu Ibadah Qurban......Masih teringat bagaimana Eyang Achlan Alm. waktu itu “menyembelih hewan Qurban” kemudian dilanjutkan dengan pembagian daging Qurban ke masyarakat sekitar rumah Eyang Rohman......sungguh Indahnya Kebersamaan......

Kebersamaan yang saat itu “dicetuskan” oleh Eyang Rohman mungkin memang dilakukan bukan karena kebetulan, tapi dengan penuh kesadaran bahwa....Kebersamaan ini harus dipupuk dari dini....

Secara tidak langsung akhirnya mendidik ayahku gimana sih memotong hewan Qurban itu...kata Ayah gurunya ayah sih Pakde Wan.....yang mengajarkan gimana caranya memotong hewan Qurban.......

Alhamdulillah Kebersamaan yang saat itu dicetuskan oleh “Eyang Rohman” masih terpelihara hingga sekarang...meskipun yang potong Qurban bukan Eyang Ahlan lagi...tapi Pakde wan, pakde Di yang bakar sate, Budhe Ida yang bikin Sate “Torpedo”, Budhe Novi yang masak..(Juru Masak Handal Bani Mukti), Pakde Putut yang kulitin kambing, dan mas raihan, mbak ais, mas ruzza, mbak audi, mbak lala dan semuanya ikut membagi di masyarakat sekitarnya...

Bahkan akhir-akhir ini kebersamaan ini sudah mulai menyentuh masyarakat sekitarnya untuk ikut melaksanakan ibadah Qurban.....mulai merawat hewan qurban saat datang, membersihkannya, bahkan saat proses penyembelihan dilakukan masyarakat sekitarpun ikut membantu Ibadah Qurban ini....

Sungguh Indahnya KEBERSAMAAN....Allahu Akbar

Insya Allah nilai ini akan aku bawa jika aq besar kelak......(Insya Allah)

Ya Allah SWT satukan kami dalam suatu kebersamaan yang dilandasi karena cinta kami padaMU Ya Allah......

By : Bapak-e Rifqi-a

29 September 2008

VIRUS ASYIKNYA....SEKOLAH.....!!

“Ayo Sekolah.....!” itu yang sering tercetus dari mulut si kecil INAS yang jika ditanya mau kemana? Ia selalu menjawab: “Ayo...Sekolah...!” Jika ada yang tanya sekolah di mana? Ia selalu menjawab: “Dekat Jakarta, naik sepawat (pesawat, maksudnya, maklum ia belum bisa mengucapkan kata pesawat dengan benar)” Jika ada lagi Lihat Blogyang bertanya.....”Kelas berapa?”....Ia selalu menjawab.....”Kelas sepuluh....”. he-he-he......ya begitu lah ulah si Inas yang aneh dan lucu.... Lebih lucu lagi jika ditanya, “Masuknya hari apa?”. Inas pun menjawab: “Aku masuknya hari Minggu ambek (dengan, maksdunya) hari Senin, terus Selasa, Rabu, Senin, Kamis, Senin....hari Minggu lagi” ya kok Seninnya diulang-ulang..... maklum masih belum paham hari.......

Yach... si kecil Inas yang lucu itu, hampir tiap hari mengantarku sekolah.... dan jika sampai sekolah At-Taqwa, sekolahku yang keren itu, ia selalu menyambut kami (siswa-siswi at-taqwa] di pintu gerbang sekolahku. Setelah itu, ia seakan-akan berada di sekolahnya sendiri, dan langsung menuju ke tempat selulutan [selurutan maksudnya]dan bandolan[ayunan maksudnya] sampai ia capek baru kemudian mau diajak pulang. Kadang-kadang ia minta jajan di koperasi sekolahku yang juga menjual berbagai macam makanan ringan. Kalau aku terburu-buru, aku akan membohonginya eh membujuknya dengan kata-kata: “Nas, nanti pulang sekolah,kamu tak belikan jajan kok”. Tapi, setiba di rumah, aku melihat Inas telah terlelap dengan mimpinya. Mungkin ia tengah bermimpi tak belikan jajan. Setelah bangun tidur, ia telah lupa akan janjiku padanya. Yach..... Inas sangat ingin sekali masuk sekolah bener. Pernah suatu kali ia berkata pada ibu sebelum berangkat ngantar aku sekolah, “Aku maunya sekolah beneran, masuk ke kelas, gak mainan thok....”. Subhanallah....adikku emang pinter kok.... Mendengar pertanyaan Inas, Ibu pun menjawab, “Ya, tahun depan....” Emang kok.... tahun depan Inas sekolah beneran di sekolahku.... Tahun depan ia masuk TK. Inas mengikuti jejak Rif-Q yang juga sekolah di sekolahku......, tapi ia di SD. Emang asyik kok sekolah itu...Apalagi sekolah di At-Taqwa.

Asyiknya sekolah di At-Taqwa semakin hari semakin kunikmati...... apalagi sejak aku duduk di kelas IIIB. Wah...benar-benar asyik..... Temannya asyik, ustadznya asyik, pelajarannya asyik abis.....!! Di sekolahku gak ada namanya yang membosankan itu, semuanya asyik abis!!!! So, gak pernah aku males untuk berangkat sekolah, gak pernah males untuk belajar. Tahu gak kenapa....??? ‘Cause, cara belajar di sekolahku lain dengan sekolah-sekolah pada biasanya.... Ustadz-ustadzahnya sangat kreatif, sehingga kami murid-muridnya juga ikutan kreatif dong.....Gak mau kalah dengan ustadz-ustadzahnya..... Bahkan di kelasku ada yang disebut CAHAYA PENA: ajang penulis cilik berkreatif. Karena adanya ajang itu, aku pernah lho dinobatkan jadi cerpenis cilik terbaik.....dari cerpenku yang berjudul “Hadiah yang Menyenangkan”. Wis...pokoke.....asyik abis!!! Kalau udah di sekolah maunya gak pengin pulang.... Kalau hari Sabtu sekolahku libur.... tapi Ustadz-Ustadzahnya masuk..... Lha kalau hari Sabtu, aku penginnya cepet-cepet hari Senin aja...... Asyiknya sekolah.... Andai semua juga merasakan asyiknya sekolah.....Andai semua sekolah kayak sekolahku.....

Ngomong-omomg tentang sekolah, tahun ini mas Robby lulus SD dan masuk SMP. Untuk bisa lulus dan masuk SMP tergantung dengan nilai UASBN. Alhamdulillah, mas Robby nilainya cukup bagus, 26,85. Sebetulnya sudah cukup bagus khan..... Apalagi ia dapat ranking 3 di kelasnya. Tapi ternyata setelah pengumuman, di SD-SD lain, terutama di SD Negeri yang dapat nilai di atas itu seabreg.....Nilai masku itu masuk peringkat ke 3000 lebih di Surabaya...... banyangin aja.... Wah ternyata anak-anak SD Negeri banyak yang pinter ya..... Tapi anehnya di internet nilai-nilainya pada sama semua..... masak tiap 10 sampai 15 orang di SD yang sama nilai tiap mata pelajaran sama persis...... Gak masuk akal tuh..... Aku bilang Mas.... Gak papa Mas.... yang penting jujur.... Ya, konon katanya UASBN di Surabaya bocor.... Alhamdulillah, di sekolah masku, SD Muhammadiyah 4 Pucang, menegakkan kejujuran. Walaupun itu harus dibayar mahal..... sulit cari sekolah....

Menunggu pengumuman masuk SMP adalah saat-saat yang mendebarkan bagi mas Robby.... Aku aja, sebagai adiknya ikut ndredeg...... Pertama-tama, mas Robby ikut saringan masuk melalui jalur SBI, dengan pilihan sekolah SMPN 6. Untuk menghadapi ini, privat Bahasa Inggris dengan mbak Trulley yang biasanya hanya 2x seminggu jadi tiap hari dech.... Tapi setelah pengumuman, mas Robby gagal. Kasihan dia... Padahal dari hasil test Bhs Inggris di Pusat Bahasa ITS, rata-rata Bahasa Inggrisnya 9 lho. Tapi nilai 2 mata pelajaran umunya gak ditampilkan...... Wah.... jadi penasaran tuh mas Robby.... sambil tambah pusing mau sekolah di mana...... Soalnya kalau gak lewat jalur SBI gak mungkin tuh bisa tembus SMPN 1 dan 6. Mas Robby akhirnya daftar dengan pilihan SMPN 3, SMPN 22, dan SMPN 4. Ibu dan ayah pun memberikan tawaran untuk sekolah di SMP Boording School Hidayatullah di Surabaya atau di Batu. Tapi Mas Robby gak mau, soale dia gak mau pisah ama mbok-e.... hehehe...maklum masih ngempeng....

Alhamdulillah, akhirnya mas Robby diterima di SMPN 22, enak lho sekolahnya dekat Masjid Agung..... Pada awal-awal sekolah, karena Ayah khawatir akan pelajaran agama di sekolah mas Robby.... mas Robby ditawari lagi ama ayah untuk pindah ke SMP Hidayatullah.... Tapi Mas Robby tetap gak mau.... karena di sana mondok..... Dia mau aja dipindah jika ke SMP Al-Hikmah..... Wah... ya ibukku yang protes..... (mahal soalnya....!!!) Ayah khawatit karena mas Robby sih..... ngajinya kalah ama aku.... (hehehe...Sorry mas! Gak takabur... tapi kenyataan alias narsis abis). Tapi gak mas Robby aja kok...., Ibuk kalau ngaji juga kalah ama aku, didengerin gak nyaman.... (Sorry Buk.... makanya nek ngaji jangan ngantukan...). Tapi sebenarnya mas Robby senang kok sekolah di SMPN 22. Asyik katanya.....Di sana dia aktif di club basket dan nge-band, dia jadi drummer lho! Keren dan asyik banget khan........ Semoga aja ntar pelajaran di sana juga asyik.... agar ntar waktu masuk SMA masku gak bingung walaupun yang lain pada bocor nilainya....Semoga sekolah yang lain juga asyik-asyik aja..... Asyik kegiatannya, asyik pelajarannya, dan yang penting asyik jujurnya.....!!

Bicara yang asyik-asyik, apalagi asyiknya sekolah..... ayahku yang asyik sekali jika sedang baca buku hingga menularkan virus baca ke seluruh rumah..... tahun lalu juga tertulari virus asyiknya sekolah.... Ayah tahun lalu sekolah lagi di Pasca Sarjana IAIN jurusan Tafsir Hadist. Ya, biar kalau ngajarin murid-muridnya tambah cerdas gitu lho...... Ayahku itu meskipun masih muda, murid-muridnya udah pada tua semua.... ya ada juga sih yang muda, tapi dikit.... Kebanyakan murid-muridnya seusia eyang.... Eyang Roes dan Eyang Rohman juga termasuk muridnya lho... (ya khan Eyang...??, he he he masak Ibuknya jadi muridnya..... kayak ibukku aja, kalau lagi ngaji dia jadi muridku......udah keturunan kaleeee....Hus!! ntar dijewer ama Ibuk dan Eyang!). Bicara tentang hobby ayah yang doyan baca, di keluargaku itu kalau rekreasi dan weekend seringnya ya ke toko buku..... Itu rekreasi yang paling menyenangkan dan mengasyikkan,,,,,,, khususnya buatku, anak ayah yang ketularan suka baca kayak ayah.... Mas Robby juga udah mulai ketularan suka baca buku.....kalau Ibu ya udah dari dulu suka beli buku..... kalau baca ya masih kuat aku......Ho Ho Ho.... Ya.... di rumahku harta dan barang terbanyak adalah buku...... Di ruang tamu ada rak buku, di kamar ada lemari isi buku, di bawah tangga ada lemari buku, di musholla atas juga ada rak isi buku.... Asyiknya rumah berhias buku....Apa rumah-rumah kalian juga dihiasi buku???? Tapi buku jangan sekedar dipajang di rak lho... akan lebih asyik jika dibuka dan dibaca......Asyiknya membaca buku......

Ibuku yang juga asyik jika diajak ke toko buku akhirnya juga tervirusi oleh asyiknya sekolahku...... Sejak Bu Dhe Thin jadi Doktor dan Pak Dhe Imam nyusul, ibukku sudah kebelet sekolah aja....Begitu pula waktu denger pak Dhe Budi lulus dan Bu Dhe Nur selesai sekolahnya.... Ditambah lagi waktu pak Dhe Fin dan pak Dhe Agus menyusul Eyang Muslich jadi Profesor.... Wah ibuku udach ngiler dan bermimpi di tempat duduknya (maklum, ibuku tiap duduk pasti tidur....hehehe....) Dalam ngilernya dia bermimpi: Kapan ya....dia bisa seperti itu....... Karena itu, untuk mewujudkan mimpinya saat ngiler....awal September lalu, Ibuku udah mulai ganti status, dari dosen menjadi mahasiswa..... Kata Ibuk: Biar ndang selesai kewajiban sekolahnya.....Lagian, emanng sekarang udah giliran Ibu yang sekolah.... Alhamdulillah, Ibu diterima sekolah di Unair, jadi tidak sampai meninggalkan kami di Surabaya. Wah ternyata orang-orang tua kita tuh sukanya juga sekolah.....Asyik juga mereka! Masak kita kalah ama mereka..... Ya jangan dong..... Kita harus lebih asyik.......

Berarti tahun depan, serumah pada sekolah semua......Ayah, Ibu, mas Robby, aku, dan Inas pun juga......Pasti jadwal ke toko bukuku akan lebih sering dech..... Asyiknya.......

Udahan dulu ah tebar-tebar virus asyik sekolahnya...........yag penting mulai sekarang kita harus menjadikan hidup ini lebih asyik..... asyik sholatnya, asyik ngajinya, asyik belajarnya, asyik mainannya....asyik sekolahnya, asyik baca bukunya....dan masih banyak asyik-asyik lainnya...termasuk asyiknya lebaran kita kali ini.....bisa ngumpul bareng lagi......

by : Shafa ....Dikejar deadline dari Wawa dan Om Widi,

Graha Sunan Ampel-Wiyung, 28 Ramadhan 1429 H


27 September 2008

Selamat Datang Generasi Ke-Empat Bani H. Moekti


Diawal tahun 2008 ini telah hadir seorang cowok sebagai generasi ke-lima yang pertama Keluarga H.Moekti. Siapakah seorang cowok tersebut?. Dialah yang bernama “MUHAMMAD ARYA DAFFA FIANDRA”,yang saat ini telah berumur 8,5 bulan. Cowok ini akrab dipanggil “DAFFA”. Daffa ini cicit pertama dari eyang H.Moestamir & Hj.Roekmini. Daffa pun juga cucu dari H.Ariffin & HJ.Sulistria Dewi. cowok mungil ini sebenarnya putra dari M.Chandra.A & mbak Sofie. Daffa lahir di Surabaya tepatnya tanggal 16 januari 2008 di RS.Lombok Dua Dua Surabaya. Saat ini keluarga M.Chandra.A tinggal di Jalan Jatisari Permai 7 no 32 perumahan Wisma Permai di Surabaya.(fara)

Mbakyu Kota Malang 2008

“And The Winner is….”

“Wakil II Mbakyu Kota Malang 2008…… jatuh kepada….. finalis nomor nol empat….!! Primi Puspita Ramadhania.”

Malam itu merupakan awal dari terbukanya salah satu pintu dalam hidupku, menuju hal yang sama sekali baru.

Menjadi duta pariwisata mula-mula bukanlah tujuan utama bagiku saat mendaftar Pemilihan Kakang Mbakyu Kota Malang 2008. Tujuan utamaku saat itu adalah mendapatkan jaringan sebanyak-banyaknya, terutama dari kalangan masyarakat pariwisata, untuk mensuksekan bisnis yang sedang kurintis bersama adik, yaitu bisnis merchandise kota Malang bermerk Qulo, anak dari bisnis clothingku terdahulu, Kozzy Clothing.

Aku menjalani tahapan-tahapan tes yang cukup panjang untuk masuk ke babak final. Dari awal selalu ditekankan oleh panitia bahwa mereka mencari generasi muda dengan kualitas 3B (Brain, Behavior, Beauty) pada pemilihan ini. Pada tes pertama, aku harus menjalani wawancara tentang pariwisata, pengetahuan umum, dan bahasa Inggris. Juga tes penampilan yang mengharuskan aku jalan di catwalk dengan sepatuku yang waktu itu berhak hanya 9cm. Yaa, namanya juga bukan model, jadi jalannya ya betul-betul catwalk, seperti kucing! Untungnya, mungkin nilaiku wawancara cukup menolong, atau jurinya kasihan melihat kerja kerasku berusaha jalan tanpa kepeleset di catwalk. Jadi, loloskah aku ke babak semifinal. Berbekal tari Gayuh –satu-satunya tari Malang yang aku bisa- aku melewati semifinal dan lolos ke babak final! Kali ini aku memutuskan pakai hak yang sedikit lebih rendah, supaya jangan sampai kepeleset! Kan ngisin-ngisini nanti!

Karantina merupakan saat yang luar biasa. Aku mendapatkan banyak sekali pengalaman dan ilmu yang berharga. Tentunya juga jaringan bisnis yang luar biasa luas :D Tapi, aku sempat malu pada diriku sendiri. Ternyata, sebagai orang yang mengaku Kera Ngalam, banyak sekali hal tentang Kota Malangku tercinta ini yang baru aku ketahui pada saat karantina itu. Aku jadi semakin terpacu untuk terjun dalam dunia pariwisata Kota Malang, dan memberikan pengabdianku untuk kotaku ini.

Kemenanganku membuka sebuah jalan baru bagiku. Bisnisku naik kelas. Aku bisa mengenal dekat dan menjalin kerjasama dengan berbagai aspek pariwisata di Malang Raya. Media massa juga banyak yang wawancara sehingga lumayan bisa promosi bisnis gratis. Aku pun mengemban amanah untuk menjalankan berbagai tugas dan menjadi ikon kepariwisataan Kota Malang.

Yang ajaib, kalau lagi pakai selempang, orang banyak yang ngajak foto bareng. Tapi, kalau lagi nggak pakai selempang, dilirik aja nggak! : (Primi Puspita Ramadhania)

Wah, keluarga Haji Mukti ada yang ngartis, hehehehe.
Numpang promosi,, sebentar lagi toko Qulo by Kozzy dibuka lho, isinya khusus merchandise Kota Malang!

TEKAD AYAH JADI UD TEKAD HERRY JAYA

Beberapa bulan yang lalu. Ayah berencana untuk pension dini dari kantor petro kimia gresik. Rencananya ayah ingin membuka usaha dagang elpiji 3 kg. Soalnya waktu itu elpiji 3 kg lagi ngetren loh…
Setelah berdiskusi, ibu pun menyetujuinya. Berbagai persiapan akhirnya dilakukan. Ayah membuat surat permohonan pensiun dini. Pada tanggal 1 Mei ayah resmi pensiun dari petro kimia gresik. Bersamaan dengan itu usaha dagang elpiji mulai dirintis. Tempatnya di garasi rumah depan. Ayah dibantu om edi untuk operasinal penjualannya.
Mendengar berita itu, aku sangat senang soalnya ayah ngak bakal keluar pulau lagi… he he he… enak dong bisa ngantar aku sekolah…
Setelah beberapa hari bejualan, ayah memutuskan untuk membuka conter Hp dan isi pulsa. Ayah pun memesan etalase. Setelah etalase siap maka diiisilah berbagai macam hp dan kartu pulsanya. Aku punya ide dan tak sampaikan ke ayah bagaimana kalau mbak anik ikut kerja di sini aja. Kan selam ini mbak anik juga kerja di conter gondrong cell. Ayah pun menyetujuinya. Mbak anikpun akhirnya kerja di tempat ayah…
Wih… perasaanku suangat sueneng suekali loh…. Coba Bayangkan kembali betapa hancurnya hatiku waktu dulu ditinggal mbak anik nikah… yah,,, akhirnya aku menemukan mbak anik lagi… ha ha ha…
Waktu ayah sama ibu pergi naik mobil, mereka mendengarkan radio suara Surabaya FM, saat itu ada lauching motto curah . Itu loh… aneka pembersih rumah tangga tanpa kemasan alias curah gitu loh… Ayah dan ibu pun tertarik untuk menambah usahanya di bidang ini. Akhirnya ayah dan ibu sibuk menyiapkan persiapan menjadi distributor motto.
Waktu aku pulang sekolah ternyata aku sudah melihat gallon gallon yang berisi aneka pembersih rumah tangga yang siap untuk dijual. Sejak hari itu toko ayah menjadi semakin ramai dan variatif.
Beberapa bulan kemudian, ayah berencana untuk memperbaiki rumah depan yang saat itu dijadikan tempat usaha. Oleh karena itu toko kami akhirnya pindah ke sebelah "Lorong Juice". Kata ayah kami akan menempati tempat itu kira kira 4 bulanan. Selama itu rumah lama dibongkar dan dibangun lagi menjadi bangunhan 3 lantai… Wah… aku bisa membayangkan betapa megahnya bangunan tokoku nanti. Alhamdulillah penjualan elpiji makin berkembang pesat dan rencanaya kita akan menempati toko baru itu pada bulan November nanti. Ya… semoga cepat terlaksana.. sudah tak sabar aku menantinya. (*) --aizz--

Tahun KERAMAT !


Tahun ini bisa dibilang tahun yang bersejarah bagi keluarga Agus i. Alhamdulillah.
Suprapto-Noermijati. Bagaimana tidak, berbagai hal besar terjadi secara berurutan dalam keluarga ini.
Pertama. Mohammad Rizka, anak kedua dalam keluarga ini lulus SMA dan berhasil masuk ke jurusan yang diinginkannya –Desain Komunikasi Visual Universitas Negeri Malang- melalui jalur PMDK. Jurusan ini merupakan satu-satunya jurusan yang diinginkan oleh Rizka, sehingga ia tidak tergerak sedikitpun untuk memilih jurusan-jurusan lain.

Suatu berkah luar biasa dari Allah, saat teman-teman sesama lulusan SMA bergelut dengan bimbingan belajar dan SNMPTN, Rizka sudah mendapatkan posisi yang nyaman di jurusan yang masuk kategori favorit tersebut.

Kedua, si Papa, Pak Agus Suprapto, akhirnya professor juga! Setelah proses yang cukup lama setelah perolehan gelar doktor pada tahun 1997, si Papa dikukuhkan sebagai Profesor pada Juni 2008 lalu. Kebetulan, hari tersebut berdektan dengan ulang tahun sang putra, Rizka, dan ulang tahun pernikahan Agus Suprapto-Noermijati yang ke-22. Benar-benar hari-hari yang special bagi keluarga ini.

Mengangkat analisa kegagalan, Profesor Agus berulang kali menahan laju air mata haru dalam pidato pengukuhannya. Keadaan saat itu betul-betul membuktikan iklan-iklan sekolah kejuruan yang akhir-akhir ini sering kita saksikan di televisi. Ya, Prof. Agus dulunya bersekolah di ST dan STM, dan Wakil Rektor 1 Universitas Merdeka Malang ini berhasil membuktikan bahwa stigma kurang baik dari masyarakat terhadap sekolah kejuruan tidak benar.

Semoga Prof. Agus dapat melaksanakan tugas dan amanah yang diberikan pada beliau dengan baik dan lancar. Dan tentunya semoga setelah menjadi professor, beliau tidak menjadi tipikal professor di kartun-kartun Jepang: berambut putih dan membotak. Amin.

Ketiga, si Mama, Bu Noer, telah lulus pendidikan S3 Ekonomi dari Universitas Brawijaya pada bulan Juni pula. Disertasinya lulus dengan nilai A. Bu Dosen yang satu ini berhasil lulus dalam waktu yang singkat, yaitu hanya 2 tahun saja. Bahkan IPK beliau mencapai angka 3,9 ! Suatu capaian yang sangat fantastis.

Tentunya Bu Doktor diwisuda dengan predikat cumlaude, dan mahasiswa-mahasiswanya yang kebetulan berbarengan wisuda, atau menghadiri wisuda tersebut hanya bisa bergeleng kepala dan berdecak kagum atas prestasi gemilang dosennya ini. Yang digojlog bukan Bu Noernya, malah anaknya, si Primi, yang kebetulan berkuliah di Fakultas Ekonomi juga, yang kena gojlogannya. Kata teman-teman Primi, “Aduh Prim, punya Ibuk kok pinter amat,, wah,, kalah saing IPKmu sama Ibukmu!” Dalam!!!

Setelah mencapai gelar ini, beliau berusaha mengamalkan ilmunya dengan melakukan penelitian-penelitian, mejadi staf ahli Pembantu Dekan II, dan mengabdi untuk mengajar generasi penerus bangsa. Mengutip nasehat si Mama pada anak-anaknya, ilmu itu kalau diamalkan dan dibagi tidak akan berkurang, justru semakin bertambah dan kita bisa semakin memahami ilmu tersebut, jadi jangan pelit-pelit membagi ilmu.

Keempat. Pada bulan Agustus, Primi Puspita Ramadhania, si sulung, dinobatkan sebagai Wakil II Mbakyu Kota Malang 2008 pada pemilihan duta pariwisata Kota Malang, Kakang Mbakyu Malang 2008.

Tahun ini belum berakhir, semoga cerita bahagia dan membanggakan akan terus mengalun dari putra-putri keluarga Haji Mukti. Dan semoga dalam cerita nan indah itu, putra dan putri yang membanggakan ini akan senantiasa mengingat asal mereka, sebuah keluarga sederhana di sebuah rumah hijau. Nun jauh di Dusun Sidomukti, Kenduruan, di pucuk Tuban. We do remember. (*) ----Primi----

Tahun ajaran baru, Sekolah baru!

Tahun ajaran baru, sekolah baru, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan ku dan adikku, kami selesai melaksanakan ujian nasional dan melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi.
“Alhamdulillah”, kataku dan adikku selesai melaksanakan ujian. Kami pun tidak menyia – nyiakan liburan yang kami dapat. Tapi saat yang paling menegangkan bagiku adalah saat pengumuman unas. Untuk adik unas memang tidak menegangkan karena ia sudah diterima di smp Al Hikmah sebelum unas dilaksanakan, tapi bagiku pengumuman itu sangat membuat jantungku ’Headbang’ alias deg – degan karena aku tidak mendaftar sekolah cadangan satupun, jadi aku harus bisa masuk negeri meskipun sekolahnya tidak favorit.
Waktu itu aku di masjid sekolahku, menunggu pengumuman sambil sholat dhuha, setelah selesai sholat dhuha akupun ngobrol ngobrol dengan temanku, setelah itu ustad mim datang, beliau berceramah sebentar lalu membawakan berita bahagia yaitu kami satu angkatan lulus seratus persen, mendengar berita itu kami langsung sujud sukur dengan mengucap alhamdulillah.
Setelah itu kami boleh meninggalkan masjid untuk melihat hasil nilai atau NEM masing masing. Senang sekali aku begitu melihat hasil jerih payahku seama 3 tahun yang memuaskan, aku mendapat nilai 37,45 itu artinya besar kemungkinan ku masuk SMAN 5, sma favorit di surabaya, alhamdulillah . . .
Akhirnya tahun ajaran baru dimulai, akupun melaksanakan orientasi dan akhirnya aku jadi warga smala deh , asiik... SiP! (*) by : RUZZA

Mengunjungi Peternakan Sapi Perah

Setelah bel masuk sekolah berbunyi semua teman teman berbaris untuk masuk sekolah. Aku dan teman teman rabbit langsung naik bemo nomer 3 bersama kelas 1 penguin. Tak lupa kami membawa tas sekolah. Brem…. Brem… karena bemonya ada tiga, jadi balapan deh. Eh lupa kita mau pergi ke mana tanya ust.tia dan ust. Ervi. Kita ke peternakan SAPI…………….!!!!! jawab dava , salwa, eki dari kelas penguin dan kata angga, arul, anisa, indi, firja, opik, rusdan, uzi dan aku dari kelas rabbit sambil bernyanyi. Hai.. bemo nomor 2 sudah dekat ayo kita selip… horay…kita menang. Pastinya tinggal 1 bemo lagi. Sekarang bemo nomer 1 sudah dekat.. ayo kita balap… horay kita menang. Pastinya kita duluan. Tapi…ups..Apa yang terjadi ? ha…dekat jalan trans 7. kita kesasar..dong. Waduh kita jadi ketinggalan nih..
Sesampai di sana, semua teman memakai masker. Mouww… suara sapi sapi itu mulai terdengar. Wow… sapinya banyak sekali. Kata pak sodikin ada 48 ekor sapi. Pak sodikin juga bilang kalau sapi sapi itu makannya ampas tahu, ampas jagung, dan kulit ketela. Eh Sapi sapi itu menghasilkan susu lo.. kalau diperas bisa menghasilkan susu sebanyak 20 liter tapi kalau sapi yang habis melahirkan bisa menghasilkan susu 40 liter…. Wow banyak juga ya…
Sekarang kita masuk ke kandang sapi. Hayo…teman teman kelas penguin .. siapa yang mau memeras susu sapi? Tanya pak sodikin. Aku….aku kata eki. Ups… Lo… kok ngak keluar susunya. Sekarang yang dari kelas rabbit siapa? Aku… kata audi… Ye…. Keluar susunya banyak lo…. Ayo sekarang kita instal dulu susunya, karena susunya masih ada banyak bakteri yang merugikan kata pak sodikin. Hore…. Susunya sudah jadi….tapi kita makan permen kiss dulu yuk..kata ust.Tia. Trus teman teman memberi kado pak sodikin sebagai tanda terimakasih. Pak sodikin tampak senang sekali.
Setelah itu kita semua pulang kembali ke sekolah. Terima kasih ya pak sodikin. Sekarang kita jadi tahu deh.. tentang peternakan sapi. ***by : Audi

Suka Duka Anak Rektor yang Bertugas di Pulau Madura


Sudah menginjak tahun ke-5 papaku menjadi abdi negara di Pulau Madura. Selama itu pula beliau pulang balik dari malang-madura setiap minggu, yang beliau jalani dengan penuh keikhlasan dan kesabaran. Terkadang aku melihat juga kasian setiap senin pagi-pagi habis sholat subuh berangkat ke Madura dan pulang lagi ke Malang pas kamis tengah malam.
Yang sering, beliau di Madura sendirian kadang-kadang saja mama menemani kalau kebetulan ada acara disana. Kalau mama ikut kesana aku dan mbak Opieth harus menjaga rumah berdua. Karena memang yang ada dirumah hanya aku berdua saja. Suka dan duka yang aku alami bersama mbak opieth antara lain aku sudah sering ditinggal pergi oleh mama dan papa ke Pulau Madura. Dan selama itu juga aku mersakan suka dan duka,antara lain:
L Aku sudah sering ditinggal mama dan papaku ke Pulau Madura, sehingga harus sendirian di rumah karena mbak Opieth kalo kuliah sampai sore terkadang sampai malam.
L Aku juga pernah lhoo dititipkan ke tetangga setelah pulang sekolah karena di rumah kosong,ho8..
L lebih susah lagi kalo papa dan mama di Madura susu dirumah habis, ya terpaksa puasa gak minum susu nunggu sampai mama datang dari Madura. Yang pasti aku sekarang sudah terbiasa tidak ditunggui mama dan papa
Untuk mengisi waktu aku akhirnya ngambil les di sekolah mapun di rumah ibu guru
Selain dukanya banyak juga sukanya lhoo misalnya:
J Setiap papa akan kembali ke Pulau Madura aku dikasih TTR (Tunjangan Tunggu Rumah) ya… lumayaan dapat dipakai beli jajan kalo dirumah tidak ada orang.
L kalo sedang malas makan sering bersama mbak Opieth makan di luar tapi urunan
J Pernah lho ketika papa ada program ke luar negeri aku pernah di ajak keliling Asia.
Aku ceritakan pengalamanku ke luar negri ini ya!...
Pengalaman ini sangat berharga bagiku dan masih kuingat sampai sekarang dan takkan terlupakan. Waktu aku kelas 4 aku diajak papa dan mama ke malaysia dan ke singapore. Dan perjalanan itu ternyata bersama bapak-bapak rektor se Indonesia wah bahagia dan bangga sekali rasanya.
Sebelum berangkat ke singapore dan malaysia aku sudah tak sabar dada ini berdetak lebih kencang daripada biasanya, karena ini pengalaman pertamaku naik pesawat. Akhirnya aku izin tidak masuk sekolah selama 5 hari lamanya. Perjalanan ke Malaysia ternyata diawali ke Batam dulu. Pada waktu aku di dalam pesawat serasa deg-degan, perasaan campur aduk mulai senang, takut, dan masih banyak lagi. Dan saat pesawat mulai lepas landas aku mulai merasa tentram, senang, tapi masih ada rasa takut. Dan alhamdulillah aku sudah sampai ke Batam dengan lama perjalanan 2 jam dari surabaya. Di Batam menginap 1 hari di hotel karena para rektor ada rapat, lalu besoknya aku berangkat ke Malysia bagian timur naik kapal dengan lama perjalanan ± 1 jam.di malaysia aku sama mama dan papa jalan-jalan dan menginap 2 hari 1 malam di hotel Malaka. Lalu aku,mama,papa ke singapore.naik kapal lagi,terus menginap disana 2 hari di hotel. Perjalanan itu sangat menyenangkan melihat obyek wisata dinegeri orang. Dan berakhirlah pengalaman ku perjalanan di negeri orang. Memang perjalanan bersama ke dua orang tua itu sangat menyenangkan, tapi berpisah dengan orang tua untuk sementara karena tugas, tidak ada masalah...(fara)

LORONG JUICE KU - Bikin Hidup Makin Plooong

Eyang…bu dhe… pak dhe… om… tante… dan saudaraku semua… aku mau cerita tentang kerja baru ayah dan ibuku nih. 4 bulan yang lalu ibuku berencana membuka kafe juice. Ibu lalu diskusi sama ayah, aku dan om didik. Waktu itu ibu bingung soalnya belum tahu apa kira kira nama kafe juice itu.
Aku ngasih ide kalau nama kafenya Juice Wawa, om didik bilang juice Petemon, ibu usul juice kampong. Ih… bingung loh… banyak sekali usulnya tapi ngak ada yang “klik”. Terus akhirnya ayah punya ide yang cukup menarik. Kata ayah bagaimana kalau nama kafenya " Lorong Juice". Aha … itu ide yang sangat bagus… namanya keren loh….
Setelah semua siap, ibu dan ayah membeli gerobak, tenda dan perlengkapan alat alat jus. Misal nya: juser, blender, gelas, pisau gelas plastik sedotan dll. O iya.. Rencananya tempat jualan ada di lorong rumah eyang…
Aha… semua kini sudah siap…
Satu bulan kemudian…. Kafe lorong juice sudah siap berdiri… ih….. bagus banget loh… digerobak dipasang lampu lampu kelap-kelip, di pohon samping gerobak di pasang spanduk.
Di kafe itu kita jualan jus macem macem. Makanya namanya Jus Opo ae Onok. Selain itu kita juga jualan roti bakar dan aneka tempura, serta tak lupa mie, kopi, teh, pop ice dan minuman hangat lainnya.
Pada tanggal 30 Juni 2008 Kafe Lorong Juice resmi dibuka… Wah rame banget loh… karena pembukaannya sama melihat final euro pakai layar lebar. Acaranya sampai pagi jam 3… aku sampai tertidur pulas….
Hari-hari berikutnya aku selalu membantu ibu untuk membuka dan menyiapkan lorong juice. Kalau ayah lagi libur, ayah juga ikut bantu. Ya ia lah… kan ayah big bosnya..
Setiap hari lorong juice buka jam 4 sore sampai jam 12 malam….Aku membantu menggoreng tempura, membuat roti dan membuat mie.
O… iya kalau berjualan ibu dibantu sama temannya dulu waktu kecil namanya bu dhe Isti. Tapi sekarang bu dhenya lagi sakit jadi aku yang bantu ibu.
Sekarang setiap hari banyak loh orang datang ke rumahku… soalnya mereka mau beli jus buatan ku he he he.!… pokoknya dijamin JoSS abisss..bikin hidup makin plongg…
Eyang, bu dhe, pak dhe, om. Tante, dan semua saudaraku…. Kalau pingin merasakan bagaimana enaknya jus buatanku datang aja ke lorong juce…
Alhamdulillah juice lorong makin lama makin rame… aku berharap semoga lorong jus bisa buka cabang yang sangat banyak… he he he… biar jadi buesar… ha…ha..ha… Tapi aku sempat bingung kalau nanti jus lorong besar siapa yang ngurusi ya? Ibu kan sudah capek ngurusi satu lorong jus?
Aha…. Aku punya ide nanti kalau lorong jus besar ayah aja yang mengurusnya, Ayah kan big bosnya lorong juice, pinter lagi he he he… enak biar ayah kerja di sini. Jadi nggak jauh -jauh lagi dari aku… semoga ya..… doakan ya… amien.
By : AUDI

Idola Cilik ‘n Lomba Debat.

Halo, namaku Nikki.
Hari ini aku mau cerita tentang permainan baruku di sekolah. Namanya Idola Cilik. Ya, begitulah, apapun yang asyik dijadikan mainan. Idenya dari Tika and her friend, Mika. Yah, kalau tentang mainan nyanyi-nyanyi, ya aku seneng aja. Wong aku suka nyanyi, kok. Nah, aku ngetik ini juga sambil dengerin lagunya Nidji. Ini judulnya lagi Airin. Nah, sekarang habis. T’rus ganti lagu Penantian. Nah, sekarang lanjut lagi, ya.
Sebenarnya, saat itu aku sedang mainan uji nyali. Eh, tapi nggak beneran. T’rus, tau-taunya, Tika nyanyi Theme song–nya Idola Cilik. Itu tuh, yang untuk pembuka dan penutup acaranya. Lantas, aku bilang gini, “Eh, main Idola cilik, ya!? Ikut, dong! Aku jadi bintang tamunya”, nah, si Tika ngomong gini, “Ya, tunggu, ya!“. T’rus, aku nunggu. Tapi, Ustadzah May nyuruh masuk anak-anak.
Tapi ternyata, besoknya lebih meriah! Besoknya, aku minta ke Tika kalau aku juga mau jadi pesertanya! Aku nunggu jawabannya……HORRREEEEEEE! Akhirnya, aku diterima! Idih, aku kayak orang aneh aja, ya? Yah, mungkin itu yang kalian pikirkan. Tahu, kenapa aku sampai kayak gitu? Soalnya….. ah, yang belum tahu ini, mending tanya sama my Best friend aja, ya? Tepat pada hari ini juga, Bu Darini mengumumkan sesuatu. Itu tentang lomba Debat di SMPN 16 tahu-tahunya, aku di ikutkan. Hmmmm, boleh juga.
Sekarang hari Kamis. Saat sholat Dhuhur di masjid sekolahku, aku menemukan pembicaraan yang sangat membuatku jengkel. Sekumpulan anak IV-B, yang tukang menjiplak, meniru permainan kami. grrrrrr@! Siapa yang enggak jengkel coba? Tapi diam-diam, Mika membuat rencana yang mengejutkan! Mau tahu? Tanya Mika aja, ya!Hari Jum’at, hari yang mengejutkan. Aku diberi tahu, bahwa Lomba debatnya diadakan hari Sabtu. Hatiku terkejut dan sedih. Hari Sabtu rasanya sangat tidak menyenangkan. Karena aku tidak bisa ikut acara Idola Cilik di rumah Mika. Aku tidak bersemangat mengikuti lomba itu. Jadinya aku kalah, deeeh……eh, tapi aku dapat piagam lho! Waaaaah senangnya! Nggak jadi sedih, deh! :D (QVR 16-03-08).

Kisah Perantauan Dokter Muda Di Gorontalo

Pada akhir 2007 tepatnya pada tgl 6 Desember 2007 ada seorang bani H. MOEKTI dari generasi empat telah diwisuda dan disumpah menjadi seorang dokter, dengan Indeks Prestasi 3,40 dia itu adalah mas Henky. Kemudian pada bulan Maret MAS Henky mengukuti ujian kompetensi yang katanya sih sebagai suatu kewajiban dan persyaratan untuk memperoleh ijin praktek. Hasil ujian tersebut telah diumumkan pada bulan mei 2008 dan dia dinyatakan lulus oleh IDI Pusat. Dari sertifikat kompetensi tersebut dia gunakan untuk mendaftarkan program pengabdian dokter baru yang sering disebut program PTT. Memang jiwa berpetuang yang selalu ingin mengatasi tantangan maka mendaftarlah program PTT di daerah yang sangat terpencil di daerah Ambon dan daerah terpencil di propinsi Gorontalo. Ternyata dia dinyatakan diterima propinsi Gorontalo tepatnya Kabupaten Pahuwato Kecamatan Marissa. Terhitung mulai awal Juni 2008 sampai akhir Mei 2009 dia akan melaksanakan tugas PTT disana. Daerahnya memang terpencil sesuai dengan kreteria daerahnya sehingga jarak jangkuan yang harus dijalani sekitar 6 jam dari ibukota propinsi Gorontalo. Bahkan sempat dikirim paket makanan ringan dari malang ternyata hampir dua bulan baru datang. Setelah tiga bulan melaksanakan tugas disana ternyata mulai mendapat simpati dari masyarakat maupun instansi di sana terbukti pasiennya sudah mulai banyak dan departemen Kesehatan daerah pun menawari untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil di sana. Lebaran ini dia mengutamakan untuk pulang perlu untuk bersilahturahim bersama keluarga besar H. MOEKTI dibulan syawal 1429 H. (by : FARA).

Kampungku Juara Green & Clean


Aku dan keluargaku sejak 18 tahun yang lalu telah menjadi penghuni Kota Surabaya yang kini dipadati oleh sekitar 3 juta jiwa penduduknya. Dengan jumlah penduduk sebesar itu, Kota Surabaya menjadi kota yang semakin padat, dan yang kemudian menjadi permasalahan adalah sampah, lingkungan yang tidak sehat, perumahan yang padat dan kumuh, lahan terbuka yang semakin kecil. Sebagai penghuni Kota Surabaya, keluargaku tinggal di sebuah kampung yang bernama Jetis Wetan. Sebuah kampung lama di daerah selatan Kota Surabaya setingkat RW dengan 6 RT, jmlah penduduk 1993 jiwa. Layaknya di sebuah kampung atau desa, pada umumnya sifat kekerabatan dan gotongroyong diantara mereka masih sangat erat. Namun dalam kenyataan bukan hanya sifat kekerabatan yang menonjol disana, tetapi justru sebagian besar diantara mereka memang masih mempunyai ikatan keluarga. Bisa jadi penghuni dari kampung ini awalnya adalah dari sumber (nenek moyang) yang sama kemudian beranak-pinak dan tinggal di dearah ini juga. Keluargaku termasuk sala satu penduduk pendatang yang tidak memiliki hubungan kekeluargaan dengan sesepuh kampung ini.

Dimasa kecilku bapakku pernah menjadi ketua RT selama dua periode dan sejak tahun 2004-2007 beliau dipilih warga untuk menjadi Ketua RW kemudian dipilih kembali untuk periode kedua sampai tahun 2010 bersamaan dengan itu, pada bulan September 2007 ibuku dipilih menjadi fasilitator kader lingkungan untuk tingkat Kelurahan dan harus mengikuti pelatihan selama 1 minggu di Kantor Pemerintah Kota Surabaya.

Sejak itu, ibuku sering memberikan penyuluhan kepada warga tidak hanya di lingkungan RW kami di Jetis Wetan, tetapi juga kewilayah RW lain di lingkup kelurahan Margorejo. Yang pasti kesibukan ibu diluar rumah semakin padat, karena dirumah tidak ada pembantu akibatnya rumah menjadi kosong sehingga seringkali kunci rumah harus dititipkan tetangga.

Para famili mungkin akan merasakan ada perubahan yang mencolok pada saat memasuki kampung Jetis Wetan yang dahulu dengan yang sekarang. Lingkungan semakin tertata lebih rapi, tanaman hijauan semakin merata sepanjang gang, sampah semakin sedikit terlihat tercecer. Ini adalah salah dua dari dampak upaya fasilitator lingkungan yang notebene adalah ibuku sendiri membentuk kader-kader lingkungan di seluruh kampung kami. Kader lingkungan diajari mulai memilah sampah, mendaur ulang sampah menjadi kompos dan kerajinan, membudidayakan tanaman sebagai sumber penghasilah dan penghijauan sampai membiasakan perilaku warga terhadap sampah dan kebersihan.

Yang cukup membanggakan adalah terpilihnya dua RT diwilayah kami menjadi peraih penghargaan Green and Clean Surabaya 2008. Dari 1700 peserta lomba Green and Clean Surabaya 2008 dua RT dilwilayah kami yaitu RT. 04 terpilih menjadi pemenang peringkat kedua dan RT. 05 menduduki peringkat ke 26 untuk kategori berkembang. Perubahan perilaku warga di wilayah kami yang paling terlihat adalah sikap mereka terhadap sampah plastik, khususnya bekas kemasan air mineral. Dahulu kalau kita amati sebuah acara hajatan, maka setelah selesai acara kita akan dapat plastik kemasan air dan kotak kue berserakan dimana-mana. Tetapi pada saat sekarang sudah sangat berbeda, karena diantara warga telah menyadari perlunya kebersihan dan disamping itu plastik-plastik kemasan air dan karton bekas kotak kue mempunyai nilai jual sehingga mereka berusaha mengumpulkannya.

(Rosyida)

Telaga Sarangan yang Permai


Liburan sekolah adalah saat yang ditunggu-tunggu oleh setiap siswa setelah satu semester suntuk dengan pelajaran sekolah. Pada saat liburan biasanya mengajak bapak dan ibu untuk pergi ke tempat-tempat tertentu untuk lebih mengenal alam ciptaan Allah sambil rekreasi.

Kenaikan kelas tahun ini kami memperoleh hari libur selama 10 hari. Satu minggu pertama kulewati hanya dengan membaca buku di rumah, maunya sih pergi keluar kota, tetapi tidak memungkinkan karena kesibukan bapak sangat padat. Alhamdulillah pada minggu berikutnya bapak ada kegiatan diluar Surabaya tepatnya di kota Magetan. Bak gayung bersambut, saat yang dinanti tiba aku dan ibu sepakat untuk diijinkan mengikuti bapak keluar kota dan bapak mengijinkan.

Hari Rabu jam 3 siang kami berangkat dari Surabaya berempat yaitu bapak, ibu, aku dan reyhan, lima dengan Pak Bakri sopir kantor bapak. Mbak Rosyi tidak ikut karena punya acara sendiri berlibur ke Jember bersama teman-teman sekolahnya. Perjalanan cukup lama, pukul 21.00 kami sampai di Magetan kemudian melanjutkan lagi menuju ke Sarangan. Untuk penginapannya ternyata bapak sudah disediakan satu kamar di hotel Telaga Mas yang lokasinya persis ditepi telaga Sarangan. Kebetulan kamar kami di lantai 2 sehingga lebih leluasa melihat pemandangan di seputar Telaga Sarangan.

Karena Danau Sarangan terletak di atas Gunung Lawu, sehingga perjalanan menuju kesana penuh dengan tanjakan dan kelokan-kelokan serta sesekali menurun. Dan yang sangat terasa adalah suhu udara disana yang sangat dingin, padahal saya dan reyhan tidak siap dengan baju hangat, sehingga kami harus berebut selimut.

Hari berikutnya kami mengawali sarapan pagi dengan nasi pecel yang dibeli ibu didepan pintu kamar, karena disana banyak penjaja makanan yang menhampiri dari kamar ke kamar dan nasi pecelnya cukup enak lagi murah. Selanjutnya bapak mengikuti kegiatan kantor sedangkan kami bertiga menikmati obyek rekreasi di Telaga Sarangan.

Untuk dapat mengelilingi telaga Sarangan yang panjang kelilingnya mencapai sekitar 5 km itu dapat ditempuh dengan menaiki motor boat atau dengan menunggang kuda yang setiap saat siap mengantar kita. Kami bertiga tidak ingin melewatkan kesempatan ini makanya keduanya baik motor boat maupun nunggang kuda juga kami telah coba. Kita bisa melihat pemandangan yang indah dan juga perkampungan penduduk sambil menunggang kuda.

Tak terasa, tiga hari telah terlampaui, hari Sabtu aku dan keluarga harus bersiap-siap dan berkemas karena selepas makan siang kami akan kembali pulang ke Surabaya. Sambil menunggu saat pulang kami, tak lupa membeli oleh-oleh untuk sanak saudara dan para tetangga. Setelah sampai di Surabaya, aku bersiap-siap untuk kembali sekolah.

by : Nabila binti Miswan Hadi

Puasaku Bolong Seminggu


by : Reyhan
Puasaku tahun yang lalu hampir penuh tetapi karena aku masih baru belajar puasa maghrib ada satu hari yang terasa sangat berat sehingga aku idak kuat untuk melanjut kan sampai maghrib. Seminggu sebelum hari raya aku minta diantar ke Kenduruan mendahului yang lain berlibur disana. Aku senang di Kenduruan karena setiap hari bisa bermain sepuasnya di sawah dan di sungai.
Pernah suatu hari hujan turun dengan lebat saat aku masih berada di sawah sehingga mbah Uti kebingungan mencariku. Tidak lama aku pulang dengan basah-basahan dan aku dimarahi mbah Uti lalu aku mandi dan hujan pun berhenti sambil menunggu adzan maghrib aku pun lihat TV beberapa menit kemudian adzan maghrib pun terdengar aku lalu berbuka dengan meminum teh yang telah di sediakan oleh mbah Uti. Selesai buka kami sholat mahrib berjamaah dilanggar. Setelah selesai sholat berjamaah aku kembali kerumah untuk makan. Saat isak tiba aku bersama mbah Kung, mbah Uti dan mbak Rini berangkat ke langgar untuk sholat isak dan tarawih setelah itu aku langsung tidur. Satu hari sebelum hari raya karena keasikan bermain aku haus dan lapar lalu karena tidak kuat aku langsung makan dan minum dengan diam-diam agar tidak ketahuan mbah Uti, jadi lengkaplah dua hari puasaku bolong.

Puasa tahun ini, niatku dapat puasa penuh, tapi baru dapat satu minggu aku terserang penyakit cacar air atau cangkrang orang jawa menyebutnya. Tubuhku penuh dengan bisul-bisul kecil, dan aku harus meminun obat. Karena sampai satu minggu penyakit cacar baru sembuh, jadi puasaku bolong lagi selama seminggu. Nggak enak sakit cacar ini, karena mau masuk sekolah tidak boleh oleh pak guru kawatir menular pada teman yang lain, begitu pula mau main juga teman-teman mainku tidak berani mendekat, jadi ya di rumah saja

Jamu Ibu-Ku...Ibu Novi

Sudah hampir 2 tahun ini, ibu Novi diluar kesibukan rutinnya mulai menekuni mengolah tanaman toga menjadi minuman instan yang menyehatkan (jamu). Ada tiga jenis minuman instan menyehatkan yang diproduksinya yaitu temulawak instan, kunir putih instan dan jahe instan. Dilihat dari cara mengolahnya, sebetulnya pembuatan minuman instan ini bukan pekerjaan ringan, tetapi karena senang dan hobi juga barangkali sehinga enjoi saja melakukannya. Coba bisa dibayangkan, untuk menghasilkan menuman instan, proses yang harus dilakukan antara lain meliputi: 1) berburu bahan baku, 2) mensortir bahan baku, 3) mencuci bahan, 4) memotong menjadi kecil-kecil, 5) menggiling, 6) memeras, 7). mengendapkan, 8) merebus, 9) menguapkan dan 10) mengkristalkan yang sekurang-kurangnya membutuhkan waktu 4-5 jam.

Waktu yang paling lama adalah pada prsoes penguapan dan pengkristalan karena pada proses ini sari perasan dari temulawak, kunir putih atau jahe dipanaskan diatas api dan perlu dilakukan pengadukan secara terus-menerus, sehingga sangat membutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Karena setelah mengkristal masih harus diaduk terus menerus supaya menjadi bubuk. Pengadukan semakin menjadi berat pada saat proses pengkristalan. Pada saat itu pengadukan harus terus-menerus dan merata, karena kalau tidak, maka tidak akan terbentuk serbuk tetapi justru menggumpal. Setelah menjadi bubuk di dinginkan ditaruh di tampah. Setelah dingin, bisa di timbang dan di masukkan di toples. Jangan khawatir minuman instant buatan ibu Novi ini alami tanpa bahan pengawet dan bebas dari bahan kimia serta sudah terdaftar pada Dinas Kesehatan Kota Surabaya. Bagi yang berminat atau mau pesan bisa telpon di 031 8412296 atau 081 703 692 676, hehe .

Menyimak betapa tidak ringannya membuat jamu seperti itu, mengapa ibu Novi, masih menyempatkan waktu untuk melakukannya, padahal untuk menangani kegiatan menjahitnya saja sering tidak terpenuhi. Berikut wawancara saya dengan ibu Novi, ada apa dibalik itu semua.

Rosyi Apa yang mendorong ibu memproduksi minuman instan ?

Ibu Berawal dari, pengalaman waktu merawat bapak yang terkena hepatitis dan sempat opname selama 2 minggu di RSUD Dr. Sutomo pada tahun 1996, ibu memperoleh banyak pelajaran dan yang ibu catat adalah obat untuk bapak berupa kaplet curcuma yang ternyata sari dari temulawak. Sejak itu, dirumah selalu ibu sediakan temulawak kering (keripik temu lawak) yang sewaktu-waktu dapat direbus untuk diminum bapak.

Pada tahun 2006 ibu diundang untuk mengikuti pelatihan ketrampilan di kantor Kecamatan Wonocolo yang salah satu materinya adalah cara membuat minuman instan. Bekal pengalaman mengikuti pelatihan inilah yang kemudian ibu praktekkan untuk mengolah temulawak menjadi instan. Awalnya ibu membuat untuk dikonsumsi sendiri, tetapi melalui ibu-ibu PKK mulai banyak yang berminat untuk dibuatkan. Inilah barangkali yang dikatakan berawal dari hobi dan iseng-iseng, akhirnya keterusan menjadi profesi. Nah sekarang yang mengkonsumsi temulawak tidak hanya bapak tetapi semua anggota keluarga karena sudah jadi instan sehingga sangat mudah cara meminumnya cukup dicampur air dingin, air hangat atau air panas tidak masalah.

Rosyi Apa saja yang ibu lakukan untuk mengembangkan produksi minuman instan ibu?

Ibu Karena hasil produksi ibu sudah banyak diminati orang dan bahkan ada yang dipajang di toko mini market, maka ibu telah mendaftarkan tiga jenis minuman tersebut ke Dinas Kesehatan Kota Surabaya dan sudah memperoleh Nomor PRT. Selanjutnya ibu juga berkeinginan nambah jenis minuman instan menyehatkan. Untuk itu, ibu telah mengadakan kunjungan (studi banding) ke Pabrik Jamu Dayang Sumbi di Mojokerto. Disamping itu, dengan dukungan bapak akan meningkatkan kapasitas peralatan pengolah, yang saat ini masih menggunakan wajan biasa dengan kapasitas Cuma 5 kilogram.

Rosyi Kalau tidak salah kegiatan utama ibu adalah menjahit, sedangkan akhir-akhir ini kegiatan ibu kan semakin banyak, pengurus PKK kelurahan, fasilitator lingkungan, Ketua PKK RW, Sekretaris Dharma wanita BPDE dan Bendahara UPK Kelurahan. Terus kegiatan mana yang menjadi prioritas ibu ?

Ibu Ibu menyadari bahwa menjahit merupakan media untuk menjalin relasi, karena menjahit pulalah yang kemudian melahirkan pengembangan kegiatan yang lain, termasuk membuat menuman instan ini. Oleh karena itu, menjahit akan tetap menjadi kegiatan induk ibu. Tapi yang menjadi prioritas nomor satu ya keluarga!

Rosyi Bagaimana tanggapan bapak dengan kegiatan ibu yang begitu banyak dan usaha memproduksi minuman instan ibu.

Ibu Kalau bapak sih oke-oke saja. Bapak mendorong dan memberikan kesempatan kepada ibu untuk berkatifitas selama itu tidak mengganggu prioritas no.1 (keluarga) dan masih bisa membagi waktu, bapak tidak keberatan kok. Dan bapak juga sering mengingatkan kalau sudah berani memilih dan menjalani suatu kegiatan apa saja, tidak boleh mengeluh (ojo sambat) ....

Rosyi Bagaimana prospek kedepan dengan usaha produksi minuman instan ini?

Ibu Permintaan semakin meningkat, promosi sementara berjalan dari mulut ke mulut. Insya Allah kalau jadi setelah hari raya nanti akan ada pesanan jahe instan sebanyak 1 kwintal ke Papua. Apabila kiriman perdana ini cocok diharapkan akan menjadi pemasok rutin. Ibu berangan-angan kalau memang nanti produksi terus meningkat dan produknya bisa diterima pasar secara lebih luas misalnya di toko-toko, maka sudah pasti akan membutuhkan tambahan tenaga kerja.

Rosyi Saya dengar selain memproduksi minuman instan, ibu juga sedang merintis kegiatan produktif untuk ibu-ibu di kampung ibu, kegiatan apa itu ?

Ibu Ibu melihat di kampung ini, pada saat selesai memasak banyak ibu-ibu yang hanya nongkrong di depan TV karena tidak ada kegiatan lain. Ibu mencoba menawari mereka untuk mengisi waktu kosong dengan mengerjakan kerjainan. Dan tanggapan mereka cukup bagus meskipun imbalannya kecil, ibu bersama beberapa ibu merintis kegiatan pembuatan kerajinan tangan (handmade) yang dikerjakan tanpa bantuan mesin, berupa sarung bantal dari kain warna-warni yang dibentuk dan beberapa kegiatan memanfaatkan daur ulang limbah plastik. Nah untuk itu, ibu terpaksa minta dimodali bapak untuk keperluan belanja perlengkapan dan bahan baku.

(by : Rosyida)

09 Oktober 2007

Fenomena Mudik Lebaran



Ikatan emosional terhadap tanah kelahiran atau wilayah dimana kita dibesarkan, bisa jadi membuat seseorang menjadi sangat merindukan untuk dapat mengenangnya. Tidak jarang untuk dapat melakukan itu semua mereka harus rela berkorban waktu, tenaga dan biaya yang tidak kecil.

Memang sulit dirasionalkan relevansi antara hasil yang ingin dicapai seseorang dengan resiko dan biaya yang harus ditanggung oleh seseorang yang sedang mudik, apalagi dengan perkembangan teknologi informasi yang sudah begitu pesat. Semestinya kalau hanya sekedar perlu menyampaikan ucapan selamat kepada sanak saudara di lain kota, tidak perlu harus bersusah payah pergi ke berkunjung secara fisik kesana, apalagi keinginan itu dilaksanakan pada saat yang bersamaan, tentu akan berdampak pada terbatasnya kemampuan tampung fasilitas pendukung yang terdsedia. Keadaan ini akan mendorong terjadinya kelangkaan fasilitas, seperti barang kebutuhan, alat transportasi dan lainnya, sehinga pada akhirnya mendorong naiknya harga.
Mengantisipasi tradisi mudik pada hari Raya Idul Fitri merupakan gawe besar tahunan yang mau tidak mau harus dilakukan pemerintah, Departemen Perhubungan, Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Departemen Pertanian dan instansi terkait lainnya. Setiap tahun terus berulang, namun sepertinya persiapan khusus tetap harus dilakukan. Secara tidak tertulis, mudik sudah menjadi 'hajat' kebutuhan masyarakat yang menuntut untuk dilayani oleh pemerintah. Oleh karena itu apabila tidak tepat dalam mengurusnya, tentu kecaman dan hujatan akan datang bertubi-tubi. Tak terkecuali pada musim mudik tahun ini, jauh hari semua instansi terkait sudah sibuk berkoordinasi dan berbenah. Minimal, kekurangan yang terjadi di tahun sebelumnya bisa diperbaiki sehingga para pemudik bisa aman dan nyaman sampai ke tujuan.
Pada saat menjelang Idul Fitri 1 Syawal 1426 H Nopember 2005, Departemen Perhubungan RI memperkirakan, gelombang pemudik pada tahun itu jumlahnya mendekati 17 juta, apabila separuh dari mereka mudik menggunakan kendaraan pribadi, berarti ada 8,5 juta yang harus dilayani oleh kendaraan umum. Kalau seandainya jumlah itu diangkut dengan armada bus yang berkapasitas 50 penumpang, akan dibutuhkan 170.000 buah bus untuk sekali jalan atau 340.000 bus untuk pergi dan pulang.
Pada sisi lain, besarnya jumlah pemudik ini secara tidak langsung dapat memberikan andil dalam pergerakan perekonomian di daerah apabila diasumsikan setiap pemudik membelanjakan uangnya rata-rata sebesar Rp. 300.000 di desa. Karena apabila hal tersebut terjadi, sekurang-kurangnya akan ada sekitar Rp. 5,1 trilyun uang yang beredar di daerah. Dengan uang sebesar itu, tentu menjadi sangat potensial untuk menggerakkan perekonomian masyarakat di desa.
Memang setiap gerakan dan interaksi masyarakat yang bersifat kolektif akan berdampak pada gerak ekonomi, hanya saja terkadang gerakan itu kurang terarah sehingga sentuhan kemanfaatannya belum dapat dirasakan oleh mereka yang benar-benar membutuhkan. Pada umumnya, di desa-desa tempat dimana para pemudik pulang kampung banyak penduduk yang kurang berdaya dibidang ekonomi, pada sisi lain para pemudik tersebut datang dengan membawa rupiah yang tidak kecil. Kalau seandainya kedua kepentingan ini bisa diketemukan, misalnya dengan memposisikan penduduk setempat menyediakan kebutuhan para pemudik dan pemudik membelanjakan uangnya tidak kemana-mana kecuali kepada mereka saja, tentu menjadi wadah yang sangat potensial untuk mempertautkan hati anatara para pemudik dan saudaranya yang tetap tinggal di desa. Hal ini tentu sejalan dengan makna dari silaturahmi itu sendiri, sekaligus dapat memberikan suntikan gairah bagi penduduk setempat dalam memberdayakan ekonomi mereka.
Contoh diatas adalah buah fikiran yang sangat sederhana dari yang bukan ahlinya dan belum tentu dapat diterapkan untuk semua desa, tetapi barangkali yang perlu menjadi renungan kita adalah semangat perubahannya. Bagaimana memasukkan unsur produktif dari kegiatan seremonial mudik yang dapat memberikan dampak pada pemberdayaan masyarakat di desa. Kemudian yang menjadi pertanyaan, akankah muncul pikiran-pikiran kreatif dari kita semua untuk mencoba melakukan eksperimen ? (miswan hadi)

Amanat yang Tertunda dari Ide Besar


Dua tahun terakhir, ada satu tema besar yang menjadi bahasan utama ketika Keluarga Besar H. Mukti Mustadjab berkumpul. Di tengah suasana gayengnya lebaran bersama seluruh keluarga besar juga sanak kadang dan para tetangga di ‘Hotel’ istimewa peninggalan Mukti Mustadjab, tema besar yang masuk bahasan utama itu adalah rencana penyerahan seluruh aset peninggalan almarhum untuk dikelola generasi penerusnya.
Tak semua kerabat bisa ikut ambil bagian dalam rapat tersebut. Yang pasti, berdasarkan etika, juga menurut pansus (panitia khusus) yang entah sejak kapan terbentuk, yang bisa ikut dalam pertemuan penting ini hanyalah para keluarga inti Mukti Mustadjab. Terdiri dari generasi Mukti Mustadjab pertama, kedua, ketiga, keempat (generasi keempat sepertinya belum ada, namun tak ada salahnya dicatatkan terlebih dahulu karena suatu saat generasi itu pasti datang, red).
“Penyerahan aset, itu adalah gagasan besar. Tidak bisa dipikul dengan sebelah bahu. Juga tidak cukup hanya dengan pertemuan setahun sekali. Minimal harus ada pertemuan lanjutan dan komunikasi intensif untuk membicarakan masalah tersebut. Ini benar-benar gagasan besar. Sebab, setelah aset diserahkan, bagaimana dengan proyeksi jangka panjangnya. Mau diapakan? Bentuknya bagaimana?,” kata Dr Thini Nurul Rohmah yang sejak dua tahun lalu mendapat amanat bersama Prof Arifin untuk menjajaki kemungkinan tersebut.
Sejak mencuatnya gagasan itu dari generasi pertama: H. Arifin Rohman, Soepadmi, Hj Roekmini, Hj Roestimah, Hj, Moersita, Muji Bekti, BA, Prof Dr Ir M. Muslich Mustadjab, Msc, ide pun bergulir. Lebaran 1426 H silam sudah muncul ide untuk membangun sebuah yayasan. Terjadi dialog yang cukup hangat ketika itu. H Arifin Rohman yang menjadi narasumber utama sekaligus juru bicara generasi pertama mengatakan, yayasan tersebut diperlukan untuk nantinya bisa mengelola aset yang bakal dilimpahkan tersebut.
Hingga akhirnya muncul penugasan pertama kepada generasi kedua. Penugasan itu terkait dengan kemungkinan penjajakan untuk mendirikan sebuah yayasan. Termasuk di dalamnya mekanisme apa yang ditempuh sebagai syarat berdirinya sebuah yayasan. Ketika itu, generasi kedua yang dibebani tugas tak ringan itu adalah Prof Arifin dan Dr Thini. Kendati masih dalam tataran ide, masih jauh panggang dari api, sudah bermunculan usulan nama jika yayasan itu benar-benar berdiri. Usulan nama yang paling banyak masuk ternyata tak jauh dari dua kata; Mukti dan Mustadjab.
Setahun berselang, persisnya lebaran tahun lalu, bahasan utama itu kembali mengemuka. Hanya saja kali ini lebih mengerucut ketimbang tahun sebelumnya yang masih serba grambyangan. Prof Arifin dan Dr Thini yang sudah melakukan pengumpulan berbagai informasi dan juga barangkali observasi, diperoleh simpulan jika dibentuk sebuah yayasan ternyata pengelolaannya tidak segampang yang dibayangkan. Malah terkesan terlalu rumit karena harus berurusan dengan undang-undang dan juga hukum.
Dari simpulan itu muncul ide yang lebih cair, yaitu membentuk sebuah paguyuban. Nampaknya gayung bersambut. Sebab, paguyuban rasanya lebih familier di telinga. Lebih gampang sosilisasinya. Lebih fleksibel cara kerjanya dengan tidak menafikan yang namanya tanggung jawab dari generasi kedua kepada generasi pertama yang sudah memberikan amanat. Ketika itu muncul kata sepakat, generasi pertama untuk segera menginventaris “harta” yang nantinya bakal diserahkan ke paguyuban.
Bentuk pasti paguyuban secara resmi memang belum ada. Namun itu bukan masalah yang berarti, sebab SDM di keluarga besar Mukti Mustadjab ibarat tinggal comot pasti jadi. Ibaratnya lagi, sudah ada menu favorit garang asem di meja makan dan tinggal menyantapnya. Pasti lezat. Pasti mak nyuss. Pasti yang terpilih di jajaran teras paguyuban nantinya adalah pilihan yang terbaik. Dan tentu mumpuni. Kini tinggal menanti, rekomendasi apa yang bakal muncul di rapat pansus 1428 H ini? (widi antoro)

Berjibaku Karena Hanya Punya Ibu



Haji Mukti Mustadjab yang karena kesungguhannya memaknai hidup dan kehidupan dalam perspektif ibadah mampu menumbuhkan generasi yang siap berkontribusi memberikan jawaban atas tantangan pada jamannya. Secara fisik generasi yang telah berhasil mereka kembangkan dalam kurun waktu sejak beliau berdua menikah tahun 1929 sampai dengan tahun 2007 jumlah anggota keluarga menjadi 102 orang . Berikut penuturan sesepuh dari generasi pertama, H. Arifin Rochman kepada Rosyida dari “Kalam Bani Mukti” setelah sang peletak dasar seribu generasi itu pergi.

Pada saat Eyang Mukti Mustadjab meninggal, Eyang Rochman kan masih kecil, apa peristiwa tersebut tidak menjadikan putus harapan ?
Eyang Mustajab meninggal tahun 1948. Saat itu eyang Rohman masih kelas 3 Taman Dewasa (setingkat SMP) di Cepu. Bahkan pada saat jenazah dimakamkan, eyang baru datang. Ketika itu yang dikeluhkan adalah bagaimana harus melanjutkan sekolah. Untuk ukuran anak yang belum lulus SMP pertanyaan ini sangat wajar. Sosok ayah yang menjadi penopang biaya sekolahnya harus meninggalkan mereka untuk selamanya. Belum lagi enam adik-adik masih kecil, bahkan Eyang Muslich masih bayi saat itu. Pada saat itulah Kiai Zuhdi, teman Haji Mukti menasehati, bahwa Allah Maha Murah dan kaya. Asal engkau sungguh-sungguh berusaha dan berdoa pasti akan diberikan.

Bagaimana ceritanya sampai keluarga ini banyak yang keluar dari kenduruan?
Pada tahun 1945 masuk SMP di Tuban, baru berjalan setengah tahun proklamasi kemerdekaan di proklamirkan. Maka sekolah dibubarkan. Eyang pulang ke Kenduruan, maksud hati ingin meneruskan ke Taman Dewasa Cepu namun eyang Mustajab tidak mengijinkan karena akan dimasukkan pondok pesantren. Akhirnya Eyang Mustajab mengijinkan Eyang Rohman untuk masuk sekolah di Taman Siswa tingkat Taman Dewasa, setingkat SMP di Cepu.
Setelah keluar dari sekolah Taman Dewasa tahun 1948, terjadi pemberontakan PKI, sehingga semua penduduk mengungsi di hutan. Setelah pemberontakan reda dan kondisi aman kembali eyang ikut paman bernama Muhamad berdagang hasil pertanian khususnya cabe dari Kenduruan ke Jepon, Blora. Transportasi antara Kenduruan-Jepon yang berjarak sekitar 25 Km itu ditempuh dengan jalan kaki. Dari kenduruan membawa hasil pertanian khususnya cabe untuk dijual di Jepon, sedangkan hasil penjualan dibelikan kain di Jepon untuk dijual di Kenduruan.

Sambil sekolah?
Iya. Atas anjuran Eyang Warsito yang saat itu sudah menjadi guru, Eyang masuk ke Mobilisan Pelajar (Mopel) sampai diasramakan di Jatirogo. Setelah berhasil mengikuti latihan tertentu akhirnya diasramakan di Tuban. Bersama teman-teman Mopel Eyang memperoleh kesempatan untuk dapat melajutkan sekolah di SMA Front Nasional di Surabaya. Pada saat itu Eyang mohon ijin kepada Eyang Rupi untuk melanjutkan ke Surabaya. Eyang Rupi mengijinkan, namun karena tidak memiliki biaya, Eyang Rupi hanya bisa memberikan bekal berupa dinar emas oleh-oleh dari Eyang Mustajab pada saat menunaikan haji.

Pasti saat itu tantangannya berat Eyang?
Sudah pasti sangat berat. Hanya tekad baja saja yang bisa membuat semuanya seperti serba mudah. Dengan berbekal tadi, Eyang berangkat ke Surabaya, bersama teman Mopel. Disana ditampung di rumah saudara teman Mopel di Jl. Tembok Dukuh Gang 6. Sekolah SMA Front Nasional berada di Jl. Kepanjen yang sekarang menjadi SMPN 2. Setelah berjalannya waktu, rumah di Tembok Dukuh sudah tidak nampung lagi, kemudian Eyang pindah pemondokan di Jojoran. Karena kondisi di SMA Front Nasional kurang kondusif, akhirnya pindah ke SMA Belanda (VHO). Jarak tempuh dari Jojoran ke sekolah makin jauh. Untuk itu membutuhkan sarana transportasi berupa sepeda angin. Eyang pulang ke Tuban dan atas izin Eyang Rupi akhirnya menjual kerbau untuk beli sepeda.

Setelah itu apa yang terjadi Eyang?
Selepas dari SMA di Surabaya, Eyang diangkat menjadi guru di Bojonegoro. Setelah jadi guru Eyang harus memikirkan adik-adik. Karena ini sudah menjadi amanat dan kewajiban. Dari Bojonegoro Eyang memasukkan Eyang Roes ke SMP Tuban. Dari Tuban Eyang Roes saya dipindahkan lagi ke Bojonegoro dan dipondokkan di belakang sekolah guru. Setelah lulus SMP Bojonegoro, Eyang Roes melanjutkan ke Sekolah Guru Atas (SGA) di Surabaya. Tapi bersamaan dengan itu Eyang di pindahkan ke Kediri. Meski sudah di Kediri Eyang harus tetap memikirkan Eyang Mur yang sekolah di SMP Tuban. Untuk mempermudah pengawasan, Eyang kemudian memindahkan sekolahnya dari Tuban ke Kediri. Lulus SMP di Kediri, kemudian Eyang Mur masuk sekolah Bidan di Surabaya. Begitu juga dengan Eyang Muji, selepas dari SMAN 6 Surabaya Eyang dukung hingga kuliah di IKIP Surabaya sampai Sarjana Muda. Lalu yang Eyang Muslich, setelah lulus di SMPN 1 Pacar kemudian Eyang tarik ke Surabaya dan sekolah di SMAN 2 komplek di Surabaya. Kemudian bisa kuliah di Unibraw Malang dan akhirnya menempuh S2 dan S3 di Philipine, Malaysia dan Australia.

Bagaimana cara Eyang Rupi’ah yang hanya seorang janda dapat membiayai sekolah ketujuh anaknya ?
Justru karena menyadari hanya seorang janda dan hanya mengandalkan hasil pertanian, kami punya komitmen untuk menerapkan kesatuan dan kebersamaan. Kami berusaha mengoptimalkan pengelolaan asset lahan pertanian yang terbatas didukung dengan kesatuan niat untuk kepentingan bersama. Bahwa diantara kami tidak pernah menuntut hak dari masing-masing terhadap asset Semua mencari uang sendiri-sendiri karena kemurahan dari Allah dengan mau prihatin dan tahan banting, Allah pasti membantu. Dalam prakteknya memang dilakukan pembagian tugas. Eyang Mini dengan Eyang Mus yang ahli dibidang pertanian dan perdagangan bertugas mengelola asset keluarga di Kenduruan secara produktif dan hasilnya dipergunakan untuk membantu pembiayaan pendidikan adik-adiknya. Sedangkan Eyang Rochman bertugas mencarikan sekolah, mengarahkan, membimbing, mengawasi dan membantu pembiayaan pendidikan mereka.

Apa yang menjadi kata kunci, sehingga Eyang Rupi’ah bisa berhasil membesarkan putra-putranya ?
Tumbuhkan semangat kerja yang tinggi, sedia bersusah-susah untuk meraih yang lebih tinggi, kembangkan silaturahmi dan setia kawan, keimanan yang kuat dan akhirnya seimbangkan antara ikhtiar dan doa. (Rosyida)

08 Oktober 2007

Jagad Cilik Bernama Kenduruan




Beberlah peta, masuklah ke dalamnya. Cari sebuah wilayah yang bernama Kenduruan. Atau sebuah Desa bernama Sidomukti. Untuk keperluan mencari dua nama wilayah ini, tak perlulah membeber peta dunia, karena di sana jelas tak tercantum nama Sidomukti atau pun Kenduruan.

Sebelum makin jauh menyusuri peta, tak ada salahnya menyiapkan kaca pembesar. Malahan jika perlu hadirkan mikroskop di meja dimana peta dibeber. Ini mungkin berlebihan, karena jelas tak masuk akal mengintip peta dengan alat mikroskop. Sebab, peruntukkan alat tersebut sudah bukan pada tempatnya.



Tentu ini hanya kiasan. Imajinasinya, jika alat canggih itu mampu melihat makhluk super kecil seperti amuba atau jenis bakteri-bakteri super kecil lainnya yang tak mampu dilihat dengan mata telanjang, harusnya mampu juga meneropong Sidomukti atau Kenduruan yang tak hanya sekadar bakteri bersel satu.


Peta dunia sudah jelas tak mungkin lagi dibeber. Simpan saja dilaci, mungkin suatu saat kalau pergi jalan-jalan ke Tiongkok atau New York peta itu akan lebih berguna. Kalau begitu sekarang beber saja peta Indonesia. Mari kita sama-sama melotot, menelusuri dua obyek dan target yang sudah ditentukan itu. Namun sampai mata kita loncat di atas kertas peta, niscaya tak ada sebuah tempat yang bernama Sidomukti dan Kenduruan.
Oke, kita perkecil persepsi. Beber peta Jawa Timur (Jatim) karena kedua wilayah yang kecilnya menyerupai Amuba di peta Indonesia itu berada di Propinsi Jatim. Sampai mata pedes dan jereng, masih merupakan niscaya dua target itu tercantum di peta.


Baiklah kita persempit ruang berpikir, berikutnya kita beber Kabupaten Tuban sebab kedua target masuk dalam otoritas Bupati Tuban. Nah lumayan, kita sudah temukan Jatirogo. Di peta, Jatirogo sudah dibold hitam. Karena cetakan hurufnya sudah lebih ditebalkan, tentu dua target sudah dekat sebab dua wilayah yang sedang kita cari itu tak jauh-jauh amat dari Jatirogo.
Garis-garis berkelok menunjukkan jalan disusuri. Begitu juga garis-garis merah yang menunjukkan sungai dicermati, namun Sidomukti dan Kenduruan belum ditemukan juga. Coba yang blok-blok hitam menujukkan wilayah hutan sekali lagi dilihat. Kenapa dilihat? Karena sesungguhnya Kenduruan masih dalam jangkauan wilayah yang berhutan-hutan. Kali ini cukup pakai kaca pembesar saja. Huuhh! Tetap tak terlihat.


Putus asa? Pasti! Sudah beberapa peta dilihat, dipelototi, ditelusuri tapi Sidomukti dan Kenduruan tetap tak mau menunjukkan jati dirinya. Barangkali, sejak awal kita sudah salah memilih dan membeber peta. Sehingga tak ada hasil akhir yang bisa dicapai untuk menghadirkan Sidomukti dan Kenduruan benar-benar nyata tertera dalam peta, walau dalam ukuran wilayah kabupaten sekalipun.


Barangkali, sejak awal, kita sudah salah menerapkan strategi saat mengubek-ubek peta. Harusnya, melihat Sidomukti dan Kenduruan tidak perlu repot-repot membeber peta Indonesia, Jatim ataupun Tuban. Cukup datang ke kecamatan dan desa, di sana pasti bisa dilihat dua obyek yang sedang kita cari dan bicarakan itu dengan lebih detail dan gambling sehingga kita tidak akan kesasar. Lagi pula sebenarnya siapa sih yang tidak hafal dengan kenduruan kecuali dua kemungkinan yakni Pertama, ia adalah anggota baru di keluarga besar Haji Mukti Mustadjab. Kedua, ia adalah orang lama di keluarga besar namun sudah bertahun ketlingsut dan lama tidak silaturahim ke Kenduruan.


Dalam konteks harafiah, Kenduruan/Sidomukti adalah benar-benar sebuah jagad cilik. Jagad cilik yang boleh jadi hanya nylempit di peta. Namun jagad cilik itu akan menjadi “jagad” yang besar di hati kita jika ada kemauan untuk memeliharanya. Buanglah rasa gundah dan resah. Jauhkanlah dari curiga dan prasangka. Tanamkan kebersamaan. Pupuk dengan kasih sayang. Dan Siramlah degan penuh cinta. Niscaya Kenduruan akan tetap singgah dalam peta hati kita. (widi antoro)

Sepasang Pengantin Seribu Generasi


Sepasang Pengantin Seribu Generasi

Kenduruan tahun 1900. Suram. Itu terjadi dimana-mana. Tak hanya terjadi di Kenduruan. Kehidupan mencekam karena masih bercokolnya bangsa penjajah. Seluruh negeri menderita lapar, miskin, dan dibodohkan. Dan sejarah menorehkannya sebagai periode pahit. Zaman yang teramat susah untuk dilupakan meski sudah datang waktu seabad lamanya.
Disekujur kesuraman zaman itu, disanalah leluhurku pernah hidup. Bertahan sekuat daya agar tidak mati kelaparan. Berusaha sekuat daya untuk menyelamatkan anak keturunannya agar kelak seribu generasi ada yang mampu bertutur tentang moyangnya. Berusaha keras untuk menjadi tidak bodoh meski diterapkan sistem pembodohan oleh penjajah.
Seratus tahun berlalu, zaman pun berganti. Aku punya kerinduan tak terbendung untuk merangkai cerita tentang moyangku. Siapa tahu, rangkaian kisah ini akan berguna kelak untuk seribu generasi. Namun, ternyata, bukan perkara mudah merangkai sebuah cerita yang nampaknya hanya sederhana. Sebab, ketika menyirap berbagai informasi yang terkait dengan Kenduruan, aku hanya mendapat cuilan-cuilan cerita. Tak ada yang mampu merekonstruksi ulang jalinan kisah moyangnya secara komplit.
Beruntunglah aku masih bisa menemukan H. Arifin Rochman. Eyangku sendiri. Satu-satunya orang yang masih mampu mengingat dan bercerita tentang Kenduruan di awal tahun 1900-an. Tidak detail memang, maklum itu rekaman peristiwa yang dimulai sejak seratus tahun silam. Namun itu sudah luar biasa, mampu melengkapi cuilan-cuilan yang selama ini sulit dirangkai ujung dan pangkalnya.
Nah, jika cuilan-cuilan cerita itu digabung dengan rekonstruksi Eyang Rochman, kemudian diimbuhi dengan kata sambung, lalu dibubuhkan kata kerja, dilengkapi dengan kalimat penderita, dan dibumbui dengan sedikit tafsir berikut imajinasi, maka kisah sepasang pengantin seribu generasi itu jadinya akan seperti ini:
Kenduruan awal abad 20 nyaris masih seperti belantara hutan. Belukar masih sambung menyambung hingga Jatirogo, wilayah terdekat. Dan Blora wilayah terdekat yang lain. Sementara Tuban serta Cepu sisi jauh dari wilayah Kenduruan. Tidak banyak jalan untuk menembus masing-masing wilayah itu. Padahal jalan-jalan penting yang menjadi jalur utama distribusi informasi, bahan pangan, dll, di masa penjajahan itu acapkali dikuasai begal, kecu, dan perampok.
Dalam situasi yang serba suram sebagai bangsa terjajah itu, di Kenduruan hidup seorang terpandang bernama Eyang Haji Abdul Khamid. Embah Kaji Khamid, demikian warga menyebutnya, adalah seorang juragan tanah. Sawahnya dimana-dimana. Pekarangannya juga tak beda. Belum lagi terhitung tanah tegalan yang bisa menghasilkan panen kelapa, pohon jati, dll. Dengan keadaan seperti itu pantaslah ia digelari juragan di Kenduruan. Sudah juragan, haji pula. Tabik.
Sang juragan beranak pinak. Enam orang anak dilahirkan dari rahim istrinya. Salah seorang anak itu, yang paling mbarep diberi nama Mukti Mustadjab. Mukti itu kamukten. Sama dengan kemuliaan, kebahagian, ora kurang sandang pangan. Mustadjab itu pengharapan dari sebuah doa. Doa yang diijabah biasanya disebut doa yang mustajab. Khasanahnya, Mukti Mustadjab adalah nak mbarep yang selalu didoakan agar mendapat kamukten untuk selamanya, berikut anak turunnya. Kira-kira begitu ketika Embah Kaji Khamid yang juga orang Jawa tulen itu menggadang-gadang anak lelaki mbarepnya.
Di antara enam saudara itu, hanya Mukti Mustadjab yang mendapat julukan ‘Kaji Cilik’. Ada dua kemungkinan kenapa Mukti cilik dijuluki seperti itu. Pertama karena ia anak juragan yang juga Kaji. Kedua, ia menjadi teladan bagi sebayanya ketika sudah berada di dalam surau saat pelajaran ngaji dimulai. Dua kemungkinan yang dua-duanya bisa dipakai sekaligus.
Kaji Cilik tumbuh pesat menjadi dewasa. Jelas ganteng untuk ukuran saat itu, wong dia lelaki tulen kok. Banyak keluarga berharap anak perempuannya bisa dipersunting si Kaji Cilik yang saat itu sudah tidak cilik lagi. Selain ganteng, ia juga dari kelurga terpandang. Minimal aman bisa bernaung di keluarga seperti ini di zaman penjajahan. Karena jelas tidak bakal kekurangan sandang, pangan, dan boleh jadi papan.
Kaji Cilik yang melekat pada Mukti Mustadjab ternyata bukan hanya sekadar julukan kosong. Ia benar-benar pintar dan cerdik. Tahu kalau banyak yang mengincar dirinya untuk dijadikan mantu dan besanan dengan bapaknya, secara jitu ia segera minta dipersuntingkan dengan seorang kembang desa yang benar-benar pilihan di Kenduruhan saat itu. Nama gadis itu adalah Rupi’ah.
Gadis Rupi’ah ternyata bukan perempuan sembarangan. Selain terkenal jadi kembang desa karena saking cantiknya, Rupi’ah memiliki garis darah paling terpandang di seantero Kenduruhan. Ia putri seorang lurah. Haji Abdul Syukur namanya. Pada masa itu, siapa yang berani main-main dengan putri seorang lurah? Tidak ada! Alhasil banyak pemuda yang hanya berani membatin saja suatu saat bisa mempersunting si Rupi’ah.
Keluarga Haji Abdul Syukur tak jauh berbeda dengan Haji Abdul Khamid. Sama-sama memiliki keluarga besar. Dan yang penting adalah banyak anak. Hanya selisih 3 biji di antara keduanya. Yang satu enam, Haji Abdul Syukur 9. Tampaknya mereka tak begitu sumelang dengan persoalan perekonomian yang diambang batas karena penjajahan. Karena pada dasarnya mereka adalah turunan orang kaya dan ulet berusaha.
Rupiah adalah putri kelima dari sembilan bersaudara. Sembilan orang tersebut tujuh di antaranya adalah perempuan, dan dua orang lainnya lelaki. Tak ada yang bisa mengingat pasti, siapa di antara sembilan bersaudara putra-putri Lurah Kenduruan itu yang menikah duluan. Hanya berdasarkan kebiasaan, berdasarkan unggah-ungguh priyantun Jawi, yang menikah atau dinikahkan duluan adalah nak mbarep. Lainnya baru susul menyusul hingga yang paling buncit.
Kabar mantan Kaji Cilik mempersunting kembang desa Rupi’ah seperti membuat geledek siang bolong bagi pemuda-pemuda dan gadis-gadis di Kenduran. Seketika mereka patah hati. Meski hati yang patah itu disimpan jauh-jauh di dalam dada. Sebab, idaman hati mereka sudah dipertemukan dalam jodoh. Jodoh yang sepadan. Jodoh yang sudah pas. Jodoh yang memang sudah dikehendaki Yang Maha Kuasa. Eyang Buyut Haji Abdul Syukur dan Eyang Buyut Haji Abdul Khamid sepakat bebesanan tahun 1929. Tahun yang masih dari hengkangnya bongso walondo dari negeri ini.
Keduanya anak terpandang. Anak orang mampu. Anak-anak yang mendapat cukup perhatian di masa penjajahan. Namun bukan berarti keduanya terus menggatungkan hidup dari kemapanan masing-masing keluarganya. Mukti Mustajab dan Rupi’ah berjibaku sendiri untuk menyambut sejarah baru dalam hidupnya. Sepasang pengantin ini ternyata klop satu sama lain. Sejak kecil, Mukti rajin belajar tani hingga dewasa akhirnya ahli dalam bertani. Mukti juga mempunyai naluri dagang yang jempolan. Sementara Rupi diam-diam tak kalah jempolannya mengurus soal dagangan.
Jadilah mereka pasangan yang sukses ketika itu. Mukti Mustadjab pun akhirnya mampu pergi berhaji. Tidak naik pesawat seperti jaman sekarang, tapi menumpang kapal laut yang baru berbulan-bulan kemudian sampai di tujuan. Berpuluh tahun setelah itu, dalam suasana yang berbeda. Rupi’ah menyusul pergi haji. Tidak lagi naik kapal laut, tapi sudah menumpang pesawat terbang. Mak wessss.. sekejab sudah sampai di Makkah.
Persis sama dengan pendahulunya, Haji Mukti Mustadjab dan Hajah Rupi’ah juga meniti keluarga besar. Tujuh anak dilahirkan dari rahimnya. Yang Mbarep Arifin Rochman kini di Surabaya/Malang, menyusul Supadmi tetap di Kenduruan, lalu Roekmini juga di Kenduruan, kemudian Roestimah menyusul kakang mbarep di Surabaya, berikutnya Moersita juga tinggal di Surabaya, disusul Muji Bekti tinggal di Surabaya, dan yang ragil Muslich tinggal di Malang. Lebih kurang empat puluh hari setelah si ragil lahir ke dunia, peletak generasi ‘Bani Mukti’ wafat. Meninggalkan semuanya, meninggalkan keinginan dan harapan bisa melihat seribu generasinya tumbuh, meninggalkan cita-cita yang masih sepotong membelah hutan Kenduruan. Eyangku, Eyang Haji Mukti Mustadjab mangkat tahun 1948. Dan baru seumur jagung negeri ini merdeka. (Rosyida Prihandini/widi/miswan hadi)

Hikayat Sebuah Biji



“biji ditanam
akan menjadi
tujuh tangkai seratus biji…”
biji ditanam, akan menjadi, tujuh tangkai seratus biji…

Nyuwun sewu, saya lupa bunyi lengkap syair di atas. Tapi penggalan syairnya hapal luar kepala. Benar-benar hapal lho, dan sering merenungkannya. Sedikit mencontek kalimat klise si Thukul Arwana yang sedang ngetop di “Empat Mata” itu, jangan minta saya mencari dimana buku yang memuat syair itu bisa ditemukan, wong bentuk bukunya saja saya tidak tahu dan tidak tidak pernah melihatnya kok. Lha bagaimana pripun bisa menunjukkan.
Pertanyaannya, kalau tidak pernah melihat dan tidak pernah tahu kok sampai bisa hapal luar kepala, kok bisa menghayati? Ya, hanya pernah melihat sebuah pertunjukan teater yang kebetulan mengutip syair itu dalam salah satu dialognya. Atau pernah juga mendengar syair ini digubah menjadi sebuah komposisi lagu Qasidah yang apik, walau juga tak pernah lengkap.
Meski hanya mampu mengingat penggalannya saja, minimal saya agak berani mengatakan siapa pencipta syair itu. Kalau tidak salah, dan mudah-mudahan juga tidak keliru (kalau sampai keliru ini benar-benar memalukan bekas dosen saya di Fakultas Sastra Univ. Airlangga yang kini malah menjadi kakak ipar saya), pencipta syair itu adalah penyair sufi besar dari Timur Tengah yang menamakan dirinya Rabiyyah al Adawiyah.
Syair ini sesungguhnya sudah ada beberapa abad silam. Nah, silamnya kapan.. itu yang saya kurang tahu pasti. Sebab itu, untuk kali ini, saya tidak berani mengatakannya. Maluuuu dong kalau ketahuan salah. Hanya yang jelas, syair ini sebenarnya memuat bait-bait sangat pajang. Mungkin agak-agak mirip dengan syair Raja Ali Haji atau Gurindam Dua Belas. Atau mirip juga dengan pupuh-pupuh Jawa yang sering ditembangkan di Keraton Solo dan Jogja dihadapan seorang raja.
Nyuwun sewu, tulisan ini tidak dimaksudkan dalam rangka mengkaji dunia perpuisian. Saya hanya mencoba untuk merangkai kedalaman makna penggalan syair Rabiyyah al Adawiyah itu dalam konteks Lebaran, Idul Fitri, Mudik Lebaran, Maaf-maafkan, Bertukar Kabar, Berbagi Rezeki, Membuka Kebagiaan, Mengumpulkan ‘Serpihan Balung-balung Terpisah’ Tanpa Sengaja dan Tanpa Disadari, yang dicoba ‘ditradisikan’ oleh sebuah keluarga yang kini menjadi sangattt besarrr dengan tokoh sentral Alm. H. Mukti Mustdjab yang berasal dari sebuah wilayah pinggir utara Kota Tuban bernama Kenduruan.
Dalam konteks Kenduruan dengan tokoh sentral H. Mukti Mustadjab, saya termasuk orang yang percaya pada perjalanan sebuah biji. Persis seperti yang tersurat dalam penggalan syair Rabiyyah al Adawiyah di atas. Jika sebuah biji ditanam (ada juga yang tidak pernah ditanam karena terbang dibawa angin, dibawa kelelawar, dll, namun bisa sempurna seperti biji yang ditanam), maka, ia akan tumbuh tunas. Tunas dalam perjalanan waktunya sendiri, akan menjadi cabang. Cabang yang bakal menjadi banyak dan tak terhitung lagi jumlahnya. Fase lanjutnya, akan tumbuh buah. Nah, pada saatnya kelak, si buah akan kembali ke dunia biji. Jika mongsonya sudah tiba, biji itu akan kembali ke tanah untuk ditanam lagi, dan seterusnya. Sebuah siklus yang ajaib dan menjadi rahasia Illahi.
Nun jauh di Kenduruan, sebuah wilayah kecil yang barangkali tak pernah dicatat dalam sejarah kejayaaan Ronggolawe saat jadi penguasa Tuban, atau sebuah wilayah yang barangkali tak pernah terlihat dan hanya sekadar nylempit di peta bumi Indonesia, yang boleh jadi juga tak pernah terpantau satelit mata-mata NASA milik bangsa Amerika yang tak terlawan itu, Alm. H. Mukti Mustadjab dan Alm. Hj. Rupiah dari jauh-jauh hari dengan hati riang dan berbahagia, dengan doa siang dan malam, sudah “berdendang” syair menanam “biji”. Harapannya; biji ditanam, akan menjadi, tujuh tangkai seratus biji…
Di dunia pertanian, ada konsep alam yang sangat dipahami petani. Begitu menanam biji, tunasnya tumbuh, hasil akhirnya adalah panen. Nah, Mukti Mustadjab dan Rupiah, dengan segala kesederhananya, adalah gambaran “petani” yang sukses. Tak hanya sekadar menanam sebiji, melainkan tujuh biji sekaligus. Bisa dibayangkan ketika biji itu tumbuh dan masing-masing mengembangkan potensi dan jatidirinya. Hasilnya; akar, cabang dan dahannya bersilang-silang merajut daun, menguntai seribu bunga, yang akhirnya menjadi buah. Lalu panen. Panen yang sangat besar.
Selesai? Tentu belum! Kisah menanam biji hingga menjadi tujuh tangkai lalu panen dan kembali lagi menjadi seratus biji, seribu biji, bahkan tak terhingga biji akan terus berlanjut sesuai hukum Illahi. Tidak akan pernah berhenti, kecuali jika memang dikehendaki-Nya untuk berhenti. Mukti Mustadjab dan Rupiah tak mungkin mengawal dan merawat tanamannya secara terus-menerus. Ada masanya. Masa yang berlaku sesuai dengan hukum Illahi. Dan masa itu sudah tiba berpuluh tahun silam. Berarti, selesai pula beliau menunaikan tugasnya.
Kini, Lebaran Syawal 1428 H ini, “hasil panen” tokoh sentral H. Mukti Mustadjab dan Hj. Rupiah kembali berkumpul (baca juga: dikumpulkan). Harusnya ini menjadi momentum istimewa. Kita semua seperti bersama-sama sedang membaca syair ciptaan Rabiyyah al Adawiyah. Bayangkan, tujuh biji yang dulu beliau tanam dengan segenap kesederhanaan dan keprihatinan itu kini sudah menjadi ratusan orang. Generasi pertama, kedua, ketiga, anak, menantu, cucu, dan cicit jika dikumpulkan sudah mencapai angka ratusan. Bukan lagi puluhan. Barangkali sudah cukup rumit jika hanya dihitung dengan jari tangan plus jari kaki ditambah hidung, dua mata, dua telinga, dua alis, atau yang lainnya. Malahan, saat ini, sepertinya sudah diperlukan kalkulator untuk menghitung anak keturunan H. Mukti Mustadjab. Apalagi itu jika 20 tahun mendatang. Begitukah?!Ya, saya nyuwun dukungan agar Lebaran Syawal 1428 H ini dijadikan momentum istimewa. Dimana istimewanya? Minimal sudah ada langkah maju untuk menerbitkan “Kalam Bani Mukti” ini. Warta khusus dan juga edisi khusus. Khusus karena mengerjakannya serba kilat, gedubrak-gedubruk, telpon sana telpon sini, melekan, nggugahi yang sedang sare untuk dimintai pertimbangan, termasuk pemilihan judul edisi khusus ini. Dan, hasil akhirnya seperti ini. Serba terbatas, kurang kaya ide, tidak sempurna, jauh panggang dari api, dll. Tapi syukur tetap bisa terbit/cetak. Minimal amanah para sesepuh pada Lebaran Syawal 1427 H tahun lalu ada yang sudah direalisasikan. Berikutnya tinggal penyempurnaan, ngapiki, ndandani, nambah ide kreatif, nambah rubrikasi, nambah keberagaman tulisan, minta sumbangan tulisan dari masing-masing Keluarga Besar ini yang berangkat dari tujuh biji itu, membuang yang tidak perlu, masukan dan saran dari para sesepuh, dari edisi perdana yang masih anget ini. Siapa tahu, suatu saat, suatu ketika, pada suatu hari, “Kalam Bani Mukti” ini bisa menyaingi tiras Majalah Time Asia ketika memberitakan Soeharto adalah Presiden Indonesia Terkorup Nomor Satu di Dunia. Siapa tahu to. Nyuwun sewu. (widi antoro)