09 Oktober 2007

Fenomena Mudik Lebaran



Ikatan emosional terhadap tanah kelahiran atau wilayah dimana kita dibesarkan, bisa jadi membuat seseorang menjadi sangat merindukan untuk dapat mengenangnya. Tidak jarang untuk dapat melakukan itu semua mereka harus rela berkorban waktu, tenaga dan biaya yang tidak kecil.

Memang sulit dirasionalkan relevansi antara hasil yang ingin dicapai seseorang dengan resiko dan biaya yang harus ditanggung oleh seseorang yang sedang mudik, apalagi dengan perkembangan teknologi informasi yang sudah begitu pesat. Semestinya kalau hanya sekedar perlu menyampaikan ucapan selamat kepada sanak saudara di lain kota, tidak perlu harus bersusah payah pergi ke berkunjung secara fisik kesana, apalagi keinginan itu dilaksanakan pada saat yang bersamaan, tentu akan berdampak pada terbatasnya kemampuan tampung fasilitas pendukung yang terdsedia. Keadaan ini akan mendorong terjadinya kelangkaan fasilitas, seperti barang kebutuhan, alat transportasi dan lainnya, sehinga pada akhirnya mendorong naiknya harga.
Mengantisipasi tradisi mudik pada hari Raya Idul Fitri merupakan gawe besar tahunan yang mau tidak mau harus dilakukan pemerintah, Departemen Perhubungan, Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Departemen Pertanian dan instansi terkait lainnya. Setiap tahun terus berulang, namun sepertinya persiapan khusus tetap harus dilakukan. Secara tidak tertulis, mudik sudah menjadi 'hajat' kebutuhan masyarakat yang menuntut untuk dilayani oleh pemerintah. Oleh karena itu apabila tidak tepat dalam mengurusnya, tentu kecaman dan hujatan akan datang bertubi-tubi. Tak terkecuali pada musim mudik tahun ini, jauh hari semua instansi terkait sudah sibuk berkoordinasi dan berbenah. Minimal, kekurangan yang terjadi di tahun sebelumnya bisa diperbaiki sehingga para pemudik bisa aman dan nyaman sampai ke tujuan.
Pada saat menjelang Idul Fitri 1 Syawal 1426 H Nopember 2005, Departemen Perhubungan RI memperkirakan, gelombang pemudik pada tahun itu jumlahnya mendekati 17 juta, apabila separuh dari mereka mudik menggunakan kendaraan pribadi, berarti ada 8,5 juta yang harus dilayani oleh kendaraan umum. Kalau seandainya jumlah itu diangkut dengan armada bus yang berkapasitas 50 penumpang, akan dibutuhkan 170.000 buah bus untuk sekali jalan atau 340.000 bus untuk pergi dan pulang.
Pada sisi lain, besarnya jumlah pemudik ini secara tidak langsung dapat memberikan andil dalam pergerakan perekonomian di daerah apabila diasumsikan setiap pemudik membelanjakan uangnya rata-rata sebesar Rp. 300.000 di desa. Karena apabila hal tersebut terjadi, sekurang-kurangnya akan ada sekitar Rp. 5,1 trilyun uang yang beredar di daerah. Dengan uang sebesar itu, tentu menjadi sangat potensial untuk menggerakkan perekonomian masyarakat di desa.
Memang setiap gerakan dan interaksi masyarakat yang bersifat kolektif akan berdampak pada gerak ekonomi, hanya saja terkadang gerakan itu kurang terarah sehingga sentuhan kemanfaatannya belum dapat dirasakan oleh mereka yang benar-benar membutuhkan. Pada umumnya, di desa-desa tempat dimana para pemudik pulang kampung banyak penduduk yang kurang berdaya dibidang ekonomi, pada sisi lain para pemudik tersebut datang dengan membawa rupiah yang tidak kecil. Kalau seandainya kedua kepentingan ini bisa diketemukan, misalnya dengan memposisikan penduduk setempat menyediakan kebutuhan para pemudik dan pemudik membelanjakan uangnya tidak kemana-mana kecuali kepada mereka saja, tentu menjadi wadah yang sangat potensial untuk mempertautkan hati anatara para pemudik dan saudaranya yang tetap tinggal di desa. Hal ini tentu sejalan dengan makna dari silaturahmi itu sendiri, sekaligus dapat memberikan suntikan gairah bagi penduduk setempat dalam memberdayakan ekonomi mereka.
Contoh diatas adalah buah fikiran yang sangat sederhana dari yang bukan ahlinya dan belum tentu dapat diterapkan untuk semua desa, tetapi barangkali yang perlu menjadi renungan kita adalah semangat perubahannya. Bagaimana memasukkan unsur produktif dari kegiatan seremonial mudik yang dapat memberikan dampak pada pemberdayaan masyarakat di desa. Kemudian yang menjadi pertanyaan, akankah muncul pikiran-pikiran kreatif dari kita semua untuk mencoba melakukan eksperimen ? (miswan hadi)

Amanat yang Tertunda dari Ide Besar


Dua tahun terakhir, ada satu tema besar yang menjadi bahasan utama ketika Keluarga Besar H. Mukti Mustadjab berkumpul. Di tengah suasana gayengnya lebaran bersama seluruh keluarga besar juga sanak kadang dan para tetangga di ‘Hotel’ istimewa peninggalan Mukti Mustadjab, tema besar yang masuk bahasan utama itu adalah rencana penyerahan seluruh aset peninggalan almarhum untuk dikelola generasi penerusnya.
Tak semua kerabat bisa ikut ambil bagian dalam rapat tersebut. Yang pasti, berdasarkan etika, juga menurut pansus (panitia khusus) yang entah sejak kapan terbentuk, yang bisa ikut dalam pertemuan penting ini hanyalah para keluarga inti Mukti Mustadjab. Terdiri dari generasi Mukti Mustadjab pertama, kedua, ketiga, keempat (generasi keempat sepertinya belum ada, namun tak ada salahnya dicatatkan terlebih dahulu karena suatu saat generasi itu pasti datang, red).
“Penyerahan aset, itu adalah gagasan besar. Tidak bisa dipikul dengan sebelah bahu. Juga tidak cukup hanya dengan pertemuan setahun sekali. Minimal harus ada pertemuan lanjutan dan komunikasi intensif untuk membicarakan masalah tersebut. Ini benar-benar gagasan besar. Sebab, setelah aset diserahkan, bagaimana dengan proyeksi jangka panjangnya. Mau diapakan? Bentuknya bagaimana?,” kata Dr Thini Nurul Rohmah yang sejak dua tahun lalu mendapat amanat bersama Prof Arifin untuk menjajaki kemungkinan tersebut.
Sejak mencuatnya gagasan itu dari generasi pertama: H. Arifin Rohman, Soepadmi, Hj Roekmini, Hj Roestimah, Hj, Moersita, Muji Bekti, BA, Prof Dr Ir M. Muslich Mustadjab, Msc, ide pun bergulir. Lebaran 1426 H silam sudah muncul ide untuk membangun sebuah yayasan. Terjadi dialog yang cukup hangat ketika itu. H Arifin Rohman yang menjadi narasumber utama sekaligus juru bicara generasi pertama mengatakan, yayasan tersebut diperlukan untuk nantinya bisa mengelola aset yang bakal dilimpahkan tersebut.
Hingga akhirnya muncul penugasan pertama kepada generasi kedua. Penugasan itu terkait dengan kemungkinan penjajakan untuk mendirikan sebuah yayasan. Termasuk di dalamnya mekanisme apa yang ditempuh sebagai syarat berdirinya sebuah yayasan. Ketika itu, generasi kedua yang dibebani tugas tak ringan itu adalah Prof Arifin dan Dr Thini. Kendati masih dalam tataran ide, masih jauh panggang dari api, sudah bermunculan usulan nama jika yayasan itu benar-benar berdiri. Usulan nama yang paling banyak masuk ternyata tak jauh dari dua kata; Mukti dan Mustadjab.
Setahun berselang, persisnya lebaran tahun lalu, bahasan utama itu kembali mengemuka. Hanya saja kali ini lebih mengerucut ketimbang tahun sebelumnya yang masih serba grambyangan. Prof Arifin dan Dr Thini yang sudah melakukan pengumpulan berbagai informasi dan juga barangkali observasi, diperoleh simpulan jika dibentuk sebuah yayasan ternyata pengelolaannya tidak segampang yang dibayangkan. Malah terkesan terlalu rumit karena harus berurusan dengan undang-undang dan juga hukum.
Dari simpulan itu muncul ide yang lebih cair, yaitu membentuk sebuah paguyuban. Nampaknya gayung bersambut. Sebab, paguyuban rasanya lebih familier di telinga. Lebih gampang sosilisasinya. Lebih fleksibel cara kerjanya dengan tidak menafikan yang namanya tanggung jawab dari generasi kedua kepada generasi pertama yang sudah memberikan amanat. Ketika itu muncul kata sepakat, generasi pertama untuk segera menginventaris “harta” yang nantinya bakal diserahkan ke paguyuban.
Bentuk pasti paguyuban secara resmi memang belum ada. Namun itu bukan masalah yang berarti, sebab SDM di keluarga besar Mukti Mustadjab ibarat tinggal comot pasti jadi. Ibaratnya lagi, sudah ada menu favorit garang asem di meja makan dan tinggal menyantapnya. Pasti lezat. Pasti mak nyuss. Pasti yang terpilih di jajaran teras paguyuban nantinya adalah pilihan yang terbaik. Dan tentu mumpuni. Kini tinggal menanti, rekomendasi apa yang bakal muncul di rapat pansus 1428 H ini? (widi antoro)

Berjibaku Karena Hanya Punya Ibu



Haji Mukti Mustadjab yang karena kesungguhannya memaknai hidup dan kehidupan dalam perspektif ibadah mampu menumbuhkan generasi yang siap berkontribusi memberikan jawaban atas tantangan pada jamannya. Secara fisik generasi yang telah berhasil mereka kembangkan dalam kurun waktu sejak beliau berdua menikah tahun 1929 sampai dengan tahun 2007 jumlah anggota keluarga menjadi 102 orang . Berikut penuturan sesepuh dari generasi pertama, H. Arifin Rochman kepada Rosyida dari “Kalam Bani Mukti” setelah sang peletak dasar seribu generasi itu pergi.

Pada saat Eyang Mukti Mustadjab meninggal, Eyang Rochman kan masih kecil, apa peristiwa tersebut tidak menjadikan putus harapan ?
Eyang Mustajab meninggal tahun 1948. Saat itu eyang Rohman masih kelas 3 Taman Dewasa (setingkat SMP) di Cepu. Bahkan pada saat jenazah dimakamkan, eyang baru datang. Ketika itu yang dikeluhkan adalah bagaimana harus melanjutkan sekolah. Untuk ukuran anak yang belum lulus SMP pertanyaan ini sangat wajar. Sosok ayah yang menjadi penopang biaya sekolahnya harus meninggalkan mereka untuk selamanya. Belum lagi enam adik-adik masih kecil, bahkan Eyang Muslich masih bayi saat itu. Pada saat itulah Kiai Zuhdi, teman Haji Mukti menasehati, bahwa Allah Maha Murah dan kaya. Asal engkau sungguh-sungguh berusaha dan berdoa pasti akan diberikan.

Bagaimana ceritanya sampai keluarga ini banyak yang keluar dari kenduruan?
Pada tahun 1945 masuk SMP di Tuban, baru berjalan setengah tahun proklamasi kemerdekaan di proklamirkan. Maka sekolah dibubarkan. Eyang pulang ke Kenduruan, maksud hati ingin meneruskan ke Taman Dewasa Cepu namun eyang Mustajab tidak mengijinkan karena akan dimasukkan pondok pesantren. Akhirnya Eyang Mustajab mengijinkan Eyang Rohman untuk masuk sekolah di Taman Siswa tingkat Taman Dewasa, setingkat SMP di Cepu.
Setelah keluar dari sekolah Taman Dewasa tahun 1948, terjadi pemberontakan PKI, sehingga semua penduduk mengungsi di hutan. Setelah pemberontakan reda dan kondisi aman kembali eyang ikut paman bernama Muhamad berdagang hasil pertanian khususnya cabe dari Kenduruan ke Jepon, Blora. Transportasi antara Kenduruan-Jepon yang berjarak sekitar 25 Km itu ditempuh dengan jalan kaki. Dari kenduruan membawa hasil pertanian khususnya cabe untuk dijual di Jepon, sedangkan hasil penjualan dibelikan kain di Jepon untuk dijual di Kenduruan.

Sambil sekolah?
Iya. Atas anjuran Eyang Warsito yang saat itu sudah menjadi guru, Eyang masuk ke Mobilisan Pelajar (Mopel) sampai diasramakan di Jatirogo. Setelah berhasil mengikuti latihan tertentu akhirnya diasramakan di Tuban. Bersama teman-teman Mopel Eyang memperoleh kesempatan untuk dapat melajutkan sekolah di SMA Front Nasional di Surabaya. Pada saat itu Eyang mohon ijin kepada Eyang Rupi untuk melanjutkan ke Surabaya. Eyang Rupi mengijinkan, namun karena tidak memiliki biaya, Eyang Rupi hanya bisa memberikan bekal berupa dinar emas oleh-oleh dari Eyang Mustajab pada saat menunaikan haji.

Pasti saat itu tantangannya berat Eyang?
Sudah pasti sangat berat. Hanya tekad baja saja yang bisa membuat semuanya seperti serba mudah. Dengan berbekal tadi, Eyang berangkat ke Surabaya, bersama teman Mopel. Disana ditampung di rumah saudara teman Mopel di Jl. Tembok Dukuh Gang 6. Sekolah SMA Front Nasional berada di Jl. Kepanjen yang sekarang menjadi SMPN 2. Setelah berjalannya waktu, rumah di Tembok Dukuh sudah tidak nampung lagi, kemudian Eyang pindah pemondokan di Jojoran. Karena kondisi di SMA Front Nasional kurang kondusif, akhirnya pindah ke SMA Belanda (VHO). Jarak tempuh dari Jojoran ke sekolah makin jauh. Untuk itu membutuhkan sarana transportasi berupa sepeda angin. Eyang pulang ke Tuban dan atas izin Eyang Rupi akhirnya menjual kerbau untuk beli sepeda.

Setelah itu apa yang terjadi Eyang?
Selepas dari SMA di Surabaya, Eyang diangkat menjadi guru di Bojonegoro. Setelah jadi guru Eyang harus memikirkan adik-adik. Karena ini sudah menjadi amanat dan kewajiban. Dari Bojonegoro Eyang memasukkan Eyang Roes ke SMP Tuban. Dari Tuban Eyang Roes saya dipindahkan lagi ke Bojonegoro dan dipondokkan di belakang sekolah guru. Setelah lulus SMP Bojonegoro, Eyang Roes melanjutkan ke Sekolah Guru Atas (SGA) di Surabaya. Tapi bersamaan dengan itu Eyang di pindahkan ke Kediri. Meski sudah di Kediri Eyang harus tetap memikirkan Eyang Mur yang sekolah di SMP Tuban. Untuk mempermudah pengawasan, Eyang kemudian memindahkan sekolahnya dari Tuban ke Kediri. Lulus SMP di Kediri, kemudian Eyang Mur masuk sekolah Bidan di Surabaya. Begitu juga dengan Eyang Muji, selepas dari SMAN 6 Surabaya Eyang dukung hingga kuliah di IKIP Surabaya sampai Sarjana Muda. Lalu yang Eyang Muslich, setelah lulus di SMPN 1 Pacar kemudian Eyang tarik ke Surabaya dan sekolah di SMAN 2 komplek di Surabaya. Kemudian bisa kuliah di Unibraw Malang dan akhirnya menempuh S2 dan S3 di Philipine, Malaysia dan Australia.

Bagaimana cara Eyang Rupi’ah yang hanya seorang janda dapat membiayai sekolah ketujuh anaknya ?
Justru karena menyadari hanya seorang janda dan hanya mengandalkan hasil pertanian, kami punya komitmen untuk menerapkan kesatuan dan kebersamaan. Kami berusaha mengoptimalkan pengelolaan asset lahan pertanian yang terbatas didukung dengan kesatuan niat untuk kepentingan bersama. Bahwa diantara kami tidak pernah menuntut hak dari masing-masing terhadap asset Semua mencari uang sendiri-sendiri karena kemurahan dari Allah dengan mau prihatin dan tahan banting, Allah pasti membantu. Dalam prakteknya memang dilakukan pembagian tugas. Eyang Mini dengan Eyang Mus yang ahli dibidang pertanian dan perdagangan bertugas mengelola asset keluarga di Kenduruan secara produktif dan hasilnya dipergunakan untuk membantu pembiayaan pendidikan adik-adiknya. Sedangkan Eyang Rochman bertugas mencarikan sekolah, mengarahkan, membimbing, mengawasi dan membantu pembiayaan pendidikan mereka.

Apa yang menjadi kata kunci, sehingga Eyang Rupi’ah bisa berhasil membesarkan putra-putranya ?
Tumbuhkan semangat kerja yang tinggi, sedia bersusah-susah untuk meraih yang lebih tinggi, kembangkan silaturahmi dan setia kawan, keimanan yang kuat dan akhirnya seimbangkan antara ikhtiar dan doa. (Rosyida)