30 September 2008

Silaturahim

Suatu kata yang mungkin kadangkala sering kita lupakan. Tapi ternyata mempunyai efek domino yang cukup dasyat. Mudik mungkin salah satu bagian dari silaturahim. Bertemu Ibu. Bertemu bapak. Bertemu saudara, mas juga adik.

Bertemu mbah. Bertemu pakde. Bertemu budhe. Bertemu paklek. Bertemu bulek. Ponakan-ponakan. Sepupu-sepupu. Misan. Dll. Asyiknya bukan main.

Bagaimana rasa batin yang seperti ini diuraikan kata-kata? Bisakah? Bagi Didik Ali Mukti Hidayat, dan mungkin juga generasi Kenduruan yang lain, menguraikan yang seperti ini bukanlah pekerjaan mudah. Malah merupakan pekerjaaan yang luar biasa sulit yang tidak cukup dipikirkan tujuh hari tujuh malam. Kenapa, karena kita tidak terbiasa mengasah rasa menjadi kata-kata.

Gagasan dari Pakde Wan, dan juga semuanya, untuk terus menyambung silaturahim meskipun MBAH KAJI sudah tiada, mungkin salah satunya karena beliau sangat sadar sekali tentang “Efek domino” dari silaturahim itu sendiri.
Jauh menengok kebelakang, pada abad Ke-7, Muhammad SAW yang juga seorang "Pengusaha Tulen" itu sudah menekankan betapa pentingnya Silaturahim dalam rangka mengetahui Costumer Insight dengan menggunakan silaturahim sebagai salah satu seni dalam berdagang, yang tentu saja secara tidak langsung akan menaikkan omzet perdagangan.

Saat itu si Pengusaha Tulen tersebut yakin bahwa Silaturahim memiliki arti dan pengertian yang jauh lebih dalam ketimbang hanya sebatas hubungan bisnis saja. Hingga akhirnya Pengusaha Tulen ini menemukan suatu key bahwa dengan siltaurahim ia dapat membangun networking yang tanpa batas.

Siapa yang menduga seorang pengusaha tulen bisa menjadi seorang “Pemimpin Dunia” yang namanya terus berkibar hingga kini bahkan hingga akhir jaman kelak. Pengusaha Tulen ini sangat sadar sangat bahwa dengan “Silaturahim” beliau bisa menyebarkan agama, bisa berdagang, menyambung tali persaudaraan, menyatukan Sesutu yang terurai menjadi yang utuh, yang rusak menjadi baik bahkan menjadikan “Musuh” menjadi “Sahabat Sejati”. Efek Domino Silaturahim inilah yang akhirnya merubah seorang pengusaha tulen hingga akhirnya menjadi pemimpin dunia yang membawa suatu perubahan yang sangat cukup DASYAT di dunia ini…..

Lantas?

”sudahkah kita biasakan silaturahim di antara kita?

ya meskipun tidak bisa tiap minggu.. ya tiap bulan..

or tiap tahun.. or mungkin tiap 2 tahunan.”

Mohon maaf sebelumnya. Terkait dengan gagasan itu, saya pribadi cukup sulit mempraktekkannya. Contoh yang paling sederhana, saya juga jarang berkunjung ke rumah Pakde Wan, walau jaraknya bisa ditempuh kurang dari lima jam sembilanpuluh sembilan detik. Paling banter, yang cukup sering, adalah ke Eyang Muji, karena rumahnya dekat. Itupun juga tidak rutin.

Mohon maaf sebelumnya, mungkin ini bisa jadi bahan obrolan, bahan diskusi, bahan instropeksi, bahan apa saja agar tali-temali yang sudah diikat Mbah Kaji tak lepas, tak putus ditengah jalan. (*)

Wass.wr.wb.
--Rifqi,Rifqa--

Libur Sekolah, Antri minta Sunat


Menginjak besar setiap anak laki-laki yang beragama Islam mempunyai kewajiban untuk menjalani khitan. Pada tahun 2008 ini anak laki-laki yang sudah memasuki usia khitan di keluarga Bani Mukti ada empat yaitu adik Reyhan di Surabaya, Mas Eben di Malang, Dik Yahya di Bogor dan Dik Fiskal di Madura. Pada awalnya keempat anak ini kalau ditanya kapan sunat, jawabnya tahun depan. Namun keadaan mendadak berubah setelah dipicu oleh Dik Rifky putra om Didik yang usianya jauh lebih muda dari mereka berempat tahu-tahu sudah khitan duluan.

Kemudian berturut-turut dalam bulan Juli Fiskal sunat di Madura, Yahya sunat di Surabaya dan terakhir tanggal 11 Juli 2008 tepatnya hari Jumat, Dik Reyhan dan Mas Eben khitan bareng di RS. PHC Perak. Saat itu memang masa liburan sekolah setelah kenaikan kelas. Kok, liburannya mau berakhir baru khitan apa karena nunggu hari baik ? Tidak, semua hari kan baik, tetapi hanya karena maunya yang bersangkutan baru muncul belakangan. Sebetulnya pada awal liburan, adik Reyhan sudah ditanya oleh bapak mau sunat sekarang atau tidak? dan jawabnya tidak mau sekarang.

Mengisi liburan sekolah saya bersama teman berlibur di kota Jember, sedangkan ibu dan adik-adik ikut bapak ke Magetan karena kebetulan bapak ada kegiatan disana bahkan nginapnya di samping telaga Sarangan, jadi selama dua hari bapak mengikuti kegiatan kantor, mereka bertiga (ibu, Lala dan Reyhan) menikmati panorama telaga Sarangan nan mempesona. Karena itu pula yang menyebabkan, kami sekeluarga tidak bisa hadir dirumah Eyang Roes pada saat Dik Yahya khitan di Surabaya.

Usai berlibur, kami pulang kembali ke Surabaya dengan membawa kenangan masing-masing. Hari esoknya kami sekeluarga termasuk Reyhan berkunjung ke rumah Eyang Roes di Petemon untuk menjenguk Dik Yahya yang habis di khitan, ternyata sesampai disana Yahya sudah tidak terlihat seperti layaknya anak sunat yang memakai kostum kebesaran khas sunat, melainkan sudah mengenakan celana seperti biasanya. Kok bisa, iya karena khitannya menggunakan metoda baru yang namanya Smartklamp.

Pada saat menjenguk Yahya inilah kira-kira yang kemudian memberikan dorongan keberanian dari Dik Reyhan sehingga secara drastis terjadi perubahan keputusan dari jadwal sunat tahun depan menjadi besok pagi.

Apa komentar Dik Reyhan setelah terlanjur di khitan?

Ternyata enak ya sunat itu,

Enaknya dimana ?

Enaknya dapat uang banyak.......;)

(by : Rosyida)

Melukis Kenduruan dengan Pelangi

Dulunya hanya alas. Pohon jati, perdu-perdu berduri, dan semak-semak bercampur alang-alang hutan. Semua binatang ada disana. Yang melata, yang bersengat, yang berbisa, hingga harimau yang mengaum dan menerkam. Ini abad 21. Label “dulunya” itu sudah tidak ada lagi. Yang ada adalah ornamen Kenduruan masa kini. Rumah tembok, lantai porselin atau granit, dan genteng kelas satu yang anti bocor.

Di zaman Kaji Cilik, sebutan populer eyang kita, Eyang Mukti Mustadjab, Kenduruan masih tak lebih dari alas belantara. Disela-sela alas itu baru terhampar sawah-sawah penduduk yang luasnya tak sebanding dengan keangkeran hutannya, dan beberapa anak sungai yang airnya gampang mengering jika kemarau tiba. Sementara Sidomukti, sebagian kecil dari wilayah Kenduruan – dimana Kaji Cilik lahir dan besar – cukup menjorok ke dalam alas namun dikelilingi persawahan dengan kualitas tanah terbaik. Mampu ditanami palawija apa saja, sehingga tak pernah terdengar kabar jika penduduk Sidomukti tak bisa menanak beras.

Berada di dalam pagar hutan jati hidup, praktis penduduknya menyesuaikan keadaan. Rumahnya dari papan-papan jati. Perabotnya pun nyaris semuanya dari kayu jati. Tentu bukan sembarang jati, tetapi jati pilihan yang sudah benar-benar tua. Mereka tahu, menebang jati muda bakal tak ada gunanya karena akan mengurangi prinsip tahan lama. Prinsip keawetan. Batang Jati muda akan lekas mleyot dan lapuk. Rayap dan ngengat pun juga akan suka memakannya.

“Itu dulu. Kenduruan sekarang bukan Kenduruan yang dulu. Sudah tidak ada alas lagi. Sudah banyak yang berubah. Sudah jarang rumah-rumah dari papan. Sekarang rumah-rumah pakai tembok. Dari batu-bata dan semen. Yang asalnya papan juga dirombak, diganti tembok. Sementara papannya kemudian dijual karena harga kayu jati harganya mahal,” cerita Pakde Mus suatu ketika sembari menikmati batang-batang rokoknya. Kalau sekarang masih ada rumah dari papan-papan jati, lanjutnya, itu jumlahnya tidak banyak. Tinggal segelintir saja. Salah satunya yang awet adalah peninggalan Mbah Kaji ini.

Zaman memang selalu bergulir. Ia bergerak dengan nalurinya sendiri. Era Kaji Cilik adalah era 1900-an. Era dimana segalanya serba terbatas. Kenduruan, wilayah yang dipagari oleh rapatnya hutan belantara itu, hanya mempunyai satu jalan tembus. Ke kiri Cepu, dan ke kanan adalah Tuban. Itulah akses satu-satunya agar bisa berhubungan dengan dunia luar.

Jadi wajar jika Kenduruan masa itu tak tersentuh perubahan. Namun sungguh beruntung Kaji Cilik, meski semuanya serba terbatas, ia bisa mondar-mandir dengan leluasa di luar Kenduruan. Melihat ‘dunia baru’. Naluri dagang bawaan lahir yang membuatnya bisa demikian. Naluri itu pula yang membuat Kaji Cilik dan Istrinya, Hj Rupiah, bertahun lalu getol mengirim tujuh anaknya untuk bersekolah di luar Kenduruan. Tujuannya jelas, agar bisa melihat dunia luar dan menjadi anak zaman.

Silih berganti, kini sudah muncul generasi baru. Era 2000-an. Era baru biasanya selalu membawa nafas yang baru pula. Dan itu benar. Simak saja; akses menuju Kenduruan kini bisa dijangkau dari arah kiri, kanan, belakang dan depan. Ke kiri bisa tembus Jakarta. Ke kanan pun bisa melesat sampai Jakarta pula. Hanya dari atas yang belum bisa. Jadi tinggal pilih sarana apa yang tersedia. Naik gerobak, naik sepeda, mobil, angkutan umum dan seterusnya. Bisa semua! Itu tergantung pada selera, kesempatan, dan kemauan.

Era kemudahan ini pula yang membawa Kenduruan bergeser mengikuti zaman. Alas jati itu kini nyaris tak ada lagi. Berubah menjadi gundul. Menjadi pekarangan-pekarangan gersang yang jika kemarau tiba menghembuskan hawa sumuk dan lengas tak tertahankan. Sumur-sumur tak lagi ada yang dangkal, baru setelah berpuluh-puluh meter digali airnya baru muncul.

Siapapun tahu kayu jati menjadi komoditas mahal, barangkali itu pula yang membuat jati Kenduruan yang galih-nya sangat terkenal itu seperti berlomba-lomba dibabat. Ketika kayu hutan habis, giliran papan-papan rumah yang dilego. Harganya masih tetap mahal karena kayu jati pilihan. Maka, bergantilah rumah papan kayu menjadi tembok dari batu bata. Lalu di semen, berikutnya dicat dengan aneka warna seperti pelangi yang indah sesuai selera. Atapnya pun berganti dengan genting-genting pilihan buatan pabrik.

Jika dulunya lantai tetap tanah atau diplester biasa, kini sudah berubah menjadi bilah-bilah porselin atau granit. Pun begitu, peninggalan pasangan suami-istri Mbah Kaji, tetap saja seperti sedia kala. Tak banyak yang berubah. Rumah yang dibentuk dari papan-papan kayu itu tetap menjulang kokoh. Meski kalau diperhatikan, sekilas, rumah papan itu beberapa inci doyong ke kiri. Tapi tentu, tak membuat rumah legendaris Bani Mukti ini menjadi ambruk.

Meski tak berubah menjadi lantai granit atau juga sekokoh tembok bata, toh generasi Mukti Mustadjab tetap menjadikan rumah itu tempat paling nyaman dan aman di dunia. Memang sesekali ada rengekan bocah-bocah; kenapa panas, kenapa tidak ber-AC, kenapa tidak ada kolam renangnya, kenapa kok gelap sekali, kenapa mandinya harus antri, mengapa ke WC-nya juga antri pula, kenapa bukan WC duduk, Kenapa pakai kamar selalu rebutan, selalu disik-disikan, kenapa ada yang harus tidur di meja, di kursi, klesetan seperti ikan pindan di pasar, dll. Kenapa tidak seperti rumah kita sendiri di kota?

Toleee.. genduk.. ya itulah keistimewaan rumah ndeso ini. Ini rumah mengalahkan hotel bintang lima sekalipun. Istimewanya lagi, meski mampu mengalahkan bintang lima, tidak ada yang siap saji di sini. Semua is natural. Semua harus melayani dirinya sendiri. Semua harus “rebutan”, karena “rebutan” di rumah ndeso ini tidak ada duanya di kota. Dalam “rebutan” itu ada edukasi kebersamaan yang mungkin tidak diajarkan di sekolah-sekolah. Itu yang menyebabkan fasilitas rumah Eyang Kaji ini melebihi hotel bintang lima. Lha kalau kalah rebutan terus nesu, ngambek, yang biar ngungsi di atas genteng sana. Tidur sama tikus sambil lihat langit. Malah adem di luar seperti ada AC-nya. Nah, gampang to le.. gampang to nduk..,” bisik Mbah Kaji lamat-lamat yang tidur dalam keabadian. (widi antoro)

Kapal Kebersamaan

Baru saja kita lepas dari bulan Agung Ramadhan, yang mana di Ramadhan kemarin segala aktifitas kita lebih mudah untuk selalu bernuansa ibadah, lebih terdorong untuk bersabar, lebih mudah untuk bersyukur dan lebih mudah untuk banyak beristigfar. Pikiran, hati, mata, hidung, mulut dan bahkan seluruh anggauta tubuh kita rasanya ringan sekali untuk mengingat Allah swt.

Keadaan yang seperti itu manakala mampu kita pertahankan di sebelas bulan selain Ramadhan, maka itulah sesuatu yang bisa dan mampu mengantarkan kita untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar lagi yaitu;Hidayah. Hanya dengan hidayah Allah-lah semata-mata pikiran, hati, lisan, dan seluruh anggauta tubuh kita ringan untuk selalu mengingat Nya. Juga karena HidayahNya yang mampu menelorkan bagaimana kita wajib memelihara, mengembangkan dan memajukan kwalitas hidup kita. Dan itulah sebenarnya hakikat tujuan berpuasa kita, yaitu berpuasa yang mampu mendapatkan hidayahNya sehingga hidup kita semakin ringan dan mudah menjalankan perintah Allah swt.

Salah wujud kita sebagai hamba yang mampu mendayagunakan HidayahNya adalah dengan merenungi eksistensi kita sebagai manusia. Kemampuan tersebut adalah salah satu tangga mema’rifati jati diri dan kehadirannya di alam fana ini. Melalui tangga Ma’rifat itulah seseorang akan menemukan kesadaran tentang hakikat kemanusiaannya, potensinya, kualitas dasarnya, kepribadiannya dan misi dirinya yang harus ditunaikan selama hayat dikandung badan.

Dengan merenungi eksistensi diri, kita akan menemukan sebuah kenyataan bahwa diri kita adalah asalnya satu (ummatan waahidan), yaitu keturunan Nabi Adam a.s, dan karenanya harus bergaul baik dengan sesamanya, tidak ada seorang manusiapun yang mampu hidup sendirian, apalagi kalau dikaitkan dengan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, manusia satu akan tergantung dengan lainnya. Artinya, bila kita bersikap baik pada sesamanya, sama artinya dengan kita membuka kran rizqi dari Allah lebar-lebar. Bukankah selama ini rizqi kita senantiasa harus lewat tangan orang lain?. Sebaliknya, semakin mengucilkan diri dari pergaulan dengan orang lain, berarti menutup rapat pintu rizqi kita sendiri.

Dengan merenungi eksistensi diri pula, manusia dapat menemukan sebuah kesadaran bahwa di dalam dirinya melekat dua dimensi (ruhani dan jasmani), yang sekaligus memastikannya sebagai makhluq sempurna dan yang membedakan dengan makhluq-makhluq lain. Kedua dimensi itu, selain memiliki kebutuhan yang berbeda, juga saling menyempurnakan dan membentuk sebuah struktur kepribadian yang padu, yaitu kepribadian manusia.Secara lebih jauh, dengan memperhatikan dimensi-dimensi yang ada pada diri manusia dengan segala keteraturannya, kerumitannya dan kemulyaannya, dapat mengantarkan kepada keimanan dan keyakinan kepada Sang Maha Penciptanya, serta membentuk kesadaran terhadap kedudukan manusia sebagai hamba Allah.

“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan pada dirimu, maka apakah kamu tidak memperhatikan ?” (Q.S. Adz- Dzariyat : 20-21).

Itulah kesadaran kemanusiaan manusia yang sepanjang hidupnya selalu menjadi motivator dan sekaligus menjadi energi kuat untuk merealisasikan tujuan dia diciptakan, yaitu menjalankan misi autentik (menjadi kholifah), dan untuk mencapai cita-citanya (sejahtera lahir batin). Kekuatan energi diri yang ada pada setiap diri itu, tidak henti-hentinya menjadi pembangkit tenaga spiritual yang bisa menggerakkan seluruh kesadarannya untuk mengoptimalkan semua potensi diri, hingga mencapai kualitas Muttaqin.

Manusia agung Muhammad Rasulullah s.a.w mengibaratkan kompak dan cerei berainya hubungan antar manusia satu dengan lainnya adalah seperti sebuah rombongan yang menaiki kapal yang sedang mengarungi samudra lautan luas. Salah satu diantara rombongan/penumpang dapat menenggelamkan semua penumpang yang ada di dalamnya, jika salah seorang tadi melubangi kapal walau sebesar paku dan penumpang lainnya membiarkannya.(H.R Bukhari).

Tentu kita tidak akan ingin menjadi orang yang akan melubangi kapal tersebut, atau kita pasti merasa terhina, malu, dan marah manakala kita dituduh sebagai orang yang melubangi. Dan tentu kitapun tidak akan tinggal diam bila di atas kapal tersebut, kita melihat salah seorang penumpang ada yang ingin melubangi kapal, karena dengan membiarkannya berarti tenggelam buat semuanya.

Kiranya tidak ada seorangpun yang harus kita tunjuk dan bertanggung jawab untuk mengawasi bocor dan tenggelamnya kapal kebersamaan. Sayangnya, kelemahan kita bersama, terlalu terkungkung oleh sekat-sekat formalitas pelayaran, tanggung jawab keselamatan hanya kita bebankan pada mereka-mereka yang ditunjuk sebagai Nahkoda kapal. Padahal tangung jawab atas keselamatan berlayarnya kapal sampai ke pulau yang dituju adalah tugas seluruh penumpang yang ada di atasnya. Bukankah prinsip tanggung jawab dan kemulyaan seseorang dihadapan Tuhan bukan ditentukan oleh status formalitas yang dia sandang, akan tetapi setiap insan mempunyai peran yang sama untuk mendapatkan kemulyaanNya.”Kalian adalah sebaik-baik umat, yang mengajak kepada manusia untuk berbuat kebaikan dan mencegahnya dari kemungkaran”

Salah satu pesan yang ingin dibangun oleh Allah dan RasulNya dibalik diwajibkannya berpuasa adalah terwujudnya manusia yang mencapai derajat Muttaqin. Yaitu manusia yang mampu menggunakan semua energi potensial yang tertanam dalam dirinya hanya digunakan untuk pengabdian yang tulus kepada Allah swt, yang selanjutnya energi itu dioptimalkan untuk menuju citi-cita luhurnya, yaitu sejahtera dunia akhirat.

Seandainya kita mengikuti training satu dua hari saja, dan hasilnya belum mampu kita aplikasikan dalam kehidupan nyata, barangkali masih diaggap sebagai sesuatu tindakan yang wajar. Akan tetapi, selama Ramadhan, tiga puluh hari penuh kita mengikuti training Allah,dan hasilnya belum nampak, tentu kita harus bertanya pada hati kita masing-masing. Wa Allah a’lamu bisshawab.

by : Rosyidin Shobar

Kebersamaan itu sudah di pupuk dari dini……

Masih membekas dalam hati ini ketika...waktu itu Eyang Rohman “Membumikan” nilai kebersamaan mulai saat kami masih kanak-kanak.

Saat itu setiap Romadhon tiba, Rumah Eyang Rohman disulap bak Musholla, dimana di rumah yang penuh kenangan itu kita melakukan sholat “Terawih” secara berjam’ah....

Bukan hanya keluarga besar Mukti saja yang hadir, tetapi hampir seluruh kampung Jl.Petemon 4, Sawahan hadir di rumah kenangan itu.

Rumah yang secara tidak langsung ikut membentuk diri ini akan arti sebuah “Kebersamaan”.

Ayahku-pun teringat ketika saat itu Budhe Ida....tertidur pulas hehehehe....dan gimana Pakde Budi secara diam-diam duduk disebelah Budhe Ida yang tertidur pulas lalu berteriak Allahu Akbar.. .padahal sholat Terawih udah selesai......(Nyuwun duko Budhe...)

Tak hanya berhenti di situ...kebersamaan itu ditanamkan pada kami waktu itu, Saat Idul Adha datang, rumah Eyang Rohman disulap juga bak Musholla dimana disana dilakukan suatu “Syiar” yang cukup melegenda yaitu Ibadah Qurban......Masih teringat bagaimana Eyang Achlan Alm. waktu itu “menyembelih hewan Qurban” kemudian dilanjutkan dengan pembagian daging Qurban ke masyarakat sekitar rumah Eyang Rohman......sungguh Indahnya Kebersamaan......

Kebersamaan yang saat itu “dicetuskan” oleh Eyang Rohman mungkin memang dilakukan bukan karena kebetulan, tapi dengan penuh kesadaran bahwa....Kebersamaan ini harus dipupuk dari dini....

Secara tidak langsung akhirnya mendidik ayahku gimana sih memotong hewan Qurban itu...kata Ayah gurunya ayah sih Pakde Wan.....yang mengajarkan gimana caranya memotong hewan Qurban.......

Alhamdulillah Kebersamaan yang saat itu dicetuskan oleh “Eyang Rohman” masih terpelihara hingga sekarang...meskipun yang potong Qurban bukan Eyang Ahlan lagi...tapi Pakde wan, pakde Di yang bakar sate, Budhe Ida yang bikin Sate “Torpedo”, Budhe Novi yang masak..(Juru Masak Handal Bani Mukti), Pakde Putut yang kulitin kambing, dan mas raihan, mbak ais, mas ruzza, mbak audi, mbak lala dan semuanya ikut membagi di masyarakat sekitarnya...

Bahkan akhir-akhir ini kebersamaan ini sudah mulai menyentuh masyarakat sekitarnya untuk ikut melaksanakan ibadah Qurban.....mulai merawat hewan qurban saat datang, membersihkannya, bahkan saat proses penyembelihan dilakukan masyarakat sekitarpun ikut membantu Ibadah Qurban ini....

Sungguh Indahnya KEBERSAMAAN....Allahu Akbar

Insya Allah nilai ini akan aku bawa jika aq besar kelak......(Insya Allah)

Ya Allah SWT satukan kami dalam suatu kebersamaan yang dilandasi karena cinta kami padaMU Ya Allah......

By : Bapak-e Rifqi-a