
Beberlah peta, masuklah ke dalamnya. Cari sebuah wilayah yang bernama Kenduruan. Atau sebuah Desa bernama Sidomukti. Untuk keperluan mencari dua nama wilayah ini, tak perlulah membeber peta dunia, karena di sana jelas tak tercantum nama Sidomukti atau pun Kenduruan.
Sebelum makin jauh menyusuri peta, tak ada salahnya menyiapkan kaca pembesar. Malahan jika perlu hadirkan mikroskop di meja dimana peta dibeber. Ini mungkin berlebihan, karena jelas tak masuk akal mengintip peta dengan alat mikroskop. Sebab, peruntukkan alat tersebut sudah bukan pada tempatnya.
Tentu ini hanya kiasan. Imajinasinya, jika alat canggih itu mampu melihat makhluk super kecil seperti amuba atau jenis bakteri-bakteri super kecil lainnya yang tak mampu dilihat dengan mata telanjang, harusnya mampu juga meneropong Sidomukti atau Kenduruan yang tak hanya sekadar bakteri bersel satu.
Peta dunia sudah jelas tak mungkin lagi dibeber. Simpan saja dilaci, mungkin suatu saat kalau pergi jalan-jalan ke Tiongkok atau New York peta itu akan lebih berguna. Kalau begitu sekarang beber saja peta Indonesia. Mari kita sama-sama melotot, menelusuri dua obyek dan target yang sudah ditentukan itu. Namun sampai mata kita loncat di atas kertas peta, niscaya tak ada sebuah tempat yang bernama Sidomukti dan Kenduruan.
Oke, kita perkecil persepsi. Beber peta Jawa Timur (Jatim) karena kedua wilayah yang kecilnya menyerupai Amuba di peta Indonesia itu berada di Propinsi Jatim. Sampai mata pedes dan jereng, masih merupakan niscaya dua target itu tercantum di peta.
Oke, kita perkecil persepsi. Beber peta Jawa Timur (Jatim) karena kedua wilayah yang kecilnya menyerupai Amuba di peta Indonesia itu berada di Propinsi Jatim. Sampai mata pedes dan jereng, masih merupakan niscaya dua target itu tercantum di peta.
Baiklah kita persempit ruang berpikir, berikutnya kita beber Kabupaten Tuban sebab kedua target masuk dalam otoritas Bupati Tuban. Nah lumayan, kita sudah temukan Jatirogo. Di peta, Jatirogo sudah dibold hitam. Karena cetakan hurufnya sudah lebih ditebalkan, tentu dua target sudah dekat sebab dua wilayah yang sedang kita cari itu tak jauh-jauh amat dari Jatirogo.
Garis-garis berkelok menunjukkan jalan disusuri. Begitu juga garis-garis merah yang menunjukkan sungai dicermati, namun Sidomukti dan Kenduruan belum ditemukan juga. Coba yang blok-blok hitam menujukkan wilayah hutan sekali lagi dilihat. Kenapa dilihat? Karena sesungguhnya Kenduruan masih dalam jangkauan wilayah yang berhutan-hutan. Kali ini cukup pakai kaca pembesar saja. Huuhh! Tetap tak terlihat.
Garis-garis berkelok menunjukkan jalan disusuri. Begitu juga garis-garis merah yang menunjukkan sungai dicermati, namun Sidomukti dan Kenduruan belum ditemukan juga. Coba yang blok-blok hitam menujukkan wilayah hutan sekali lagi dilihat. Kenapa dilihat? Karena sesungguhnya Kenduruan masih dalam jangkauan wilayah yang berhutan-hutan. Kali ini cukup pakai kaca pembesar saja. Huuhh! Tetap tak terlihat.
Putus asa? Pasti! Sudah beberapa peta dilihat, dipelototi, ditelusuri tapi Sidomukti dan Kenduruan tetap tak mau menunjukkan jati dirinya. Barangkali, sejak awal kita sudah salah memilih dan membeber peta. Sehingga tak ada hasil akhir yang bisa dicapai untuk menghadirkan Sidomukti dan Kenduruan benar-benar nyata tertera dalam peta, walau dalam ukuran wilayah kabupaten sekalipun.
Barangkali, sejak awal, kita sudah salah menerapkan strategi saat mengubek-ubek peta. Harusnya, melihat Sidomukti dan Kenduruan tidak perlu repot-repot membeber peta Indonesia, Jatim ataupun Tuban. Cukup datang ke kecamatan dan desa, di sana pasti bisa dilihat dua obyek yang sedang kita cari dan bicarakan itu dengan lebih detail dan gambling sehingga kita tidak akan kesasar. Lagi pula sebenarnya siapa sih yang tidak hafal dengan kenduruan kecuali dua kemungkinan yakni Pertama, ia adalah anggota baru di keluarga besar Haji Mukti Mustadjab. Kedua, ia adalah orang lama di keluarga besar namun sudah bertahun ketlingsut dan lama tidak silaturahim ke Kenduruan.
Dalam konteks harafiah, Kenduruan/Sidomukti adalah benar-benar sebuah jagad cilik. Jagad cilik yang boleh jadi hanya nylempit di peta. Namun jagad cilik itu akan menjadi “jagad” yang besar di hati kita jika ada kemauan untuk memeliharanya. Buanglah rasa gundah dan resah. Jauhkanlah dari curiga dan prasangka. Tanamkan kebersamaan. Pupuk dengan kasih sayang. Dan Siramlah degan penuh cinta. Niscaya Kenduruan akan tetap singgah dalam peta hati kita. (widi antoro)

