08 Oktober 2007

Jagad Cilik Bernama Kenduruan




Beberlah peta, masuklah ke dalamnya. Cari sebuah wilayah yang bernama Kenduruan. Atau sebuah Desa bernama Sidomukti. Untuk keperluan mencari dua nama wilayah ini, tak perlulah membeber peta dunia, karena di sana jelas tak tercantum nama Sidomukti atau pun Kenduruan.

Sebelum makin jauh menyusuri peta, tak ada salahnya menyiapkan kaca pembesar. Malahan jika perlu hadirkan mikroskop di meja dimana peta dibeber. Ini mungkin berlebihan, karena jelas tak masuk akal mengintip peta dengan alat mikroskop. Sebab, peruntukkan alat tersebut sudah bukan pada tempatnya.



Tentu ini hanya kiasan. Imajinasinya, jika alat canggih itu mampu melihat makhluk super kecil seperti amuba atau jenis bakteri-bakteri super kecil lainnya yang tak mampu dilihat dengan mata telanjang, harusnya mampu juga meneropong Sidomukti atau Kenduruan yang tak hanya sekadar bakteri bersel satu.


Peta dunia sudah jelas tak mungkin lagi dibeber. Simpan saja dilaci, mungkin suatu saat kalau pergi jalan-jalan ke Tiongkok atau New York peta itu akan lebih berguna. Kalau begitu sekarang beber saja peta Indonesia. Mari kita sama-sama melotot, menelusuri dua obyek dan target yang sudah ditentukan itu. Namun sampai mata kita loncat di atas kertas peta, niscaya tak ada sebuah tempat yang bernama Sidomukti dan Kenduruan.
Oke, kita perkecil persepsi. Beber peta Jawa Timur (Jatim) karena kedua wilayah yang kecilnya menyerupai Amuba di peta Indonesia itu berada di Propinsi Jatim. Sampai mata pedes dan jereng, masih merupakan niscaya dua target itu tercantum di peta.


Baiklah kita persempit ruang berpikir, berikutnya kita beber Kabupaten Tuban sebab kedua target masuk dalam otoritas Bupati Tuban. Nah lumayan, kita sudah temukan Jatirogo. Di peta, Jatirogo sudah dibold hitam. Karena cetakan hurufnya sudah lebih ditebalkan, tentu dua target sudah dekat sebab dua wilayah yang sedang kita cari itu tak jauh-jauh amat dari Jatirogo.
Garis-garis berkelok menunjukkan jalan disusuri. Begitu juga garis-garis merah yang menunjukkan sungai dicermati, namun Sidomukti dan Kenduruan belum ditemukan juga. Coba yang blok-blok hitam menujukkan wilayah hutan sekali lagi dilihat. Kenapa dilihat? Karena sesungguhnya Kenduruan masih dalam jangkauan wilayah yang berhutan-hutan. Kali ini cukup pakai kaca pembesar saja. Huuhh! Tetap tak terlihat.


Putus asa? Pasti! Sudah beberapa peta dilihat, dipelototi, ditelusuri tapi Sidomukti dan Kenduruan tetap tak mau menunjukkan jati dirinya. Barangkali, sejak awal kita sudah salah memilih dan membeber peta. Sehingga tak ada hasil akhir yang bisa dicapai untuk menghadirkan Sidomukti dan Kenduruan benar-benar nyata tertera dalam peta, walau dalam ukuran wilayah kabupaten sekalipun.


Barangkali, sejak awal, kita sudah salah menerapkan strategi saat mengubek-ubek peta. Harusnya, melihat Sidomukti dan Kenduruan tidak perlu repot-repot membeber peta Indonesia, Jatim ataupun Tuban. Cukup datang ke kecamatan dan desa, di sana pasti bisa dilihat dua obyek yang sedang kita cari dan bicarakan itu dengan lebih detail dan gambling sehingga kita tidak akan kesasar. Lagi pula sebenarnya siapa sih yang tidak hafal dengan kenduruan kecuali dua kemungkinan yakni Pertama, ia adalah anggota baru di keluarga besar Haji Mukti Mustadjab. Kedua, ia adalah orang lama di keluarga besar namun sudah bertahun ketlingsut dan lama tidak silaturahim ke Kenduruan.


Dalam konteks harafiah, Kenduruan/Sidomukti adalah benar-benar sebuah jagad cilik. Jagad cilik yang boleh jadi hanya nylempit di peta. Namun jagad cilik itu akan menjadi “jagad” yang besar di hati kita jika ada kemauan untuk memeliharanya. Buanglah rasa gundah dan resah. Jauhkanlah dari curiga dan prasangka. Tanamkan kebersamaan. Pupuk dengan kasih sayang. Dan Siramlah degan penuh cinta. Niscaya Kenduruan akan tetap singgah dalam peta hati kita. (widi antoro)

Sepasang Pengantin Seribu Generasi


Sepasang Pengantin Seribu Generasi

Kenduruan tahun 1900. Suram. Itu terjadi dimana-mana. Tak hanya terjadi di Kenduruan. Kehidupan mencekam karena masih bercokolnya bangsa penjajah. Seluruh negeri menderita lapar, miskin, dan dibodohkan. Dan sejarah menorehkannya sebagai periode pahit. Zaman yang teramat susah untuk dilupakan meski sudah datang waktu seabad lamanya.
Disekujur kesuraman zaman itu, disanalah leluhurku pernah hidup. Bertahan sekuat daya agar tidak mati kelaparan. Berusaha sekuat daya untuk menyelamatkan anak keturunannya agar kelak seribu generasi ada yang mampu bertutur tentang moyangnya. Berusaha keras untuk menjadi tidak bodoh meski diterapkan sistem pembodohan oleh penjajah.
Seratus tahun berlalu, zaman pun berganti. Aku punya kerinduan tak terbendung untuk merangkai cerita tentang moyangku. Siapa tahu, rangkaian kisah ini akan berguna kelak untuk seribu generasi. Namun, ternyata, bukan perkara mudah merangkai sebuah cerita yang nampaknya hanya sederhana. Sebab, ketika menyirap berbagai informasi yang terkait dengan Kenduruan, aku hanya mendapat cuilan-cuilan cerita. Tak ada yang mampu merekonstruksi ulang jalinan kisah moyangnya secara komplit.
Beruntunglah aku masih bisa menemukan H. Arifin Rochman. Eyangku sendiri. Satu-satunya orang yang masih mampu mengingat dan bercerita tentang Kenduruan di awal tahun 1900-an. Tidak detail memang, maklum itu rekaman peristiwa yang dimulai sejak seratus tahun silam. Namun itu sudah luar biasa, mampu melengkapi cuilan-cuilan yang selama ini sulit dirangkai ujung dan pangkalnya.
Nah, jika cuilan-cuilan cerita itu digabung dengan rekonstruksi Eyang Rochman, kemudian diimbuhi dengan kata sambung, lalu dibubuhkan kata kerja, dilengkapi dengan kalimat penderita, dan dibumbui dengan sedikit tafsir berikut imajinasi, maka kisah sepasang pengantin seribu generasi itu jadinya akan seperti ini:
Kenduruan awal abad 20 nyaris masih seperti belantara hutan. Belukar masih sambung menyambung hingga Jatirogo, wilayah terdekat. Dan Blora wilayah terdekat yang lain. Sementara Tuban serta Cepu sisi jauh dari wilayah Kenduruan. Tidak banyak jalan untuk menembus masing-masing wilayah itu. Padahal jalan-jalan penting yang menjadi jalur utama distribusi informasi, bahan pangan, dll, di masa penjajahan itu acapkali dikuasai begal, kecu, dan perampok.
Dalam situasi yang serba suram sebagai bangsa terjajah itu, di Kenduruan hidup seorang terpandang bernama Eyang Haji Abdul Khamid. Embah Kaji Khamid, demikian warga menyebutnya, adalah seorang juragan tanah. Sawahnya dimana-dimana. Pekarangannya juga tak beda. Belum lagi terhitung tanah tegalan yang bisa menghasilkan panen kelapa, pohon jati, dll. Dengan keadaan seperti itu pantaslah ia digelari juragan di Kenduruan. Sudah juragan, haji pula. Tabik.
Sang juragan beranak pinak. Enam orang anak dilahirkan dari rahim istrinya. Salah seorang anak itu, yang paling mbarep diberi nama Mukti Mustadjab. Mukti itu kamukten. Sama dengan kemuliaan, kebahagian, ora kurang sandang pangan. Mustadjab itu pengharapan dari sebuah doa. Doa yang diijabah biasanya disebut doa yang mustajab. Khasanahnya, Mukti Mustadjab adalah nak mbarep yang selalu didoakan agar mendapat kamukten untuk selamanya, berikut anak turunnya. Kira-kira begitu ketika Embah Kaji Khamid yang juga orang Jawa tulen itu menggadang-gadang anak lelaki mbarepnya.
Di antara enam saudara itu, hanya Mukti Mustadjab yang mendapat julukan ‘Kaji Cilik’. Ada dua kemungkinan kenapa Mukti cilik dijuluki seperti itu. Pertama karena ia anak juragan yang juga Kaji. Kedua, ia menjadi teladan bagi sebayanya ketika sudah berada di dalam surau saat pelajaran ngaji dimulai. Dua kemungkinan yang dua-duanya bisa dipakai sekaligus.
Kaji Cilik tumbuh pesat menjadi dewasa. Jelas ganteng untuk ukuran saat itu, wong dia lelaki tulen kok. Banyak keluarga berharap anak perempuannya bisa dipersunting si Kaji Cilik yang saat itu sudah tidak cilik lagi. Selain ganteng, ia juga dari kelurga terpandang. Minimal aman bisa bernaung di keluarga seperti ini di zaman penjajahan. Karena jelas tidak bakal kekurangan sandang, pangan, dan boleh jadi papan.
Kaji Cilik yang melekat pada Mukti Mustadjab ternyata bukan hanya sekadar julukan kosong. Ia benar-benar pintar dan cerdik. Tahu kalau banyak yang mengincar dirinya untuk dijadikan mantu dan besanan dengan bapaknya, secara jitu ia segera minta dipersuntingkan dengan seorang kembang desa yang benar-benar pilihan di Kenduruhan saat itu. Nama gadis itu adalah Rupi’ah.
Gadis Rupi’ah ternyata bukan perempuan sembarangan. Selain terkenal jadi kembang desa karena saking cantiknya, Rupi’ah memiliki garis darah paling terpandang di seantero Kenduruhan. Ia putri seorang lurah. Haji Abdul Syukur namanya. Pada masa itu, siapa yang berani main-main dengan putri seorang lurah? Tidak ada! Alhasil banyak pemuda yang hanya berani membatin saja suatu saat bisa mempersunting si Rupi’ah.
Keluarga Haji Abdul Syukur tak jauh berbeda dengan Haji Abdul Khamid. Sama-sama memiliki keluarga besar. Dan yang penting adalah banyak anak. Hanya selisih 3 biji di antara keduanya. Yang satu enam, Haji Abdul Syukur 9. Tampaknya mereka tak begitu sumelang dengan persoalan perekonomian yang diambang batas karena penjajahan. Karena pada dasarnya mereka adalah turunan orang kaya dan ulet berusaha.
Rupiah adalah putri kelima dari sembilan bersaudara. Sembilan orang tersebut tujuh di antaranya adalah perempuan, dan dua orang lainnya lelaki. Tak ada yang bisa mengingat pasti, siapa di antara sembilan bersaudara putra-putri Lurah Kenduruan itu yang menikah duluan. Hanya berdasarkan kebiasaan, berdasarkan unggah-ungguh priyantun Jawi, yang menikah atau dinikahkan duluan adalah nak mbarep. Lainnya baru susul menyusul hingga yang paling buncit.
Kabar mantan Kaji Cilik mempersunting kembang desa Rupi’ah seperti membuat geledek siang bolong bagi pemuda-pemuda dan gadis-gadis di Kenduran. Seketika mereka patah hati. Meski hati yang patah itu disimpan jauh-jauh di dalam dada. Sebab, idaman hati mereka sudah dipertemukan dalam jodoh. Jodoh yang sepadan. Jodoh yang sudah pas. Jodoh yang memang sudah dikehendaki Yang Maha Kuasa. Eyang Buyut Haji Abdul Syukur dan Eyang Buyut Haji Abdul Khamid sepakat bebesanan tahun 1929. Tahun yang masih dari hengkangnya bongso walondo dari negeri ini.
Keduanya anak terpandang. Anak orang mampu. Anak-anak yang mendapat cukup perhatian di masa penjajahan. Namun bukan berarti keduanya terus menggatungkan hidup dari kemapanan masing-masing keluarganya. Mukti Mustajab dan Rupi’ah berjibaku sendiri untuk menyambut sejarah baru dalam hidupnya. Sepasang pengantin ini ternyata klop satu sama lain. Sejak kecil, Mukti rajin belajar tani hingga dewasa akhirnya ahli dalam bertani. Mukti juga mempunyai naluri dagang yang jempolan. Sementara Rupi diam-diam tak kalah jempolannya mengurus soal dagangan.
Jadilah mereka pasangan yang sukses ketika itu. Mukti Mustadjab pun akhirnya mampu pergi berhaji. Tidak naik pesawat seperti jaman sekarang, tapi menumpang kapal laut yang baru berbulan-bulan kemudian sampai di tujuan. Berpuluh tahun setelah itu, dalam suasana yang berbeda. Rupi’ah menyusul pergi haji. Tidak lagi naik kapal laut, tapi sudah menumpang pesawat terbang. Mak wessss.. sekejab sudah sampai di Makkah.
Persis sama dengan pendahulunya, Haji Mukti Mustadjab dan Hajah Rupi’ah juga meniti keluarga besar. Tujuh anak dilahirkan dari rahimnya. Yang Mbarep Arifin Rochman kini di Surabaya/Malang, menyusul Supadmi tetap di Kenduruan, lalu Roekmini juga di Kenduruan, kemudian Roestimah menyusul kakang mbarep di Surabaya, berikutnya Moersita juga tinggal di Surabaya, disusul Muji Bekti tinggal di Surabaya, dan yang ragil Muslich tinggal di Malang. Lebih kurang empat puluh hari setelah si ragil lahir ke dunia, peletak generasi ‘Bani Mukti’ wafat. Meninggalkan semuanya, meninggalkan keinginan dan harapan bisa melihat seribu generasinya tumbuh, meninggalkan cita-cita yang masih sepotong membelah hutan Kenduruan. Eyangku, Eyang Haji Mukti Mustadjab mangkat tahun 1948. Dan baru seumur jagung negeri ini merdeka. (Rosyida Prihandini/widi/miswan hadi)

Hikayat Sebuah Biji



“biji ditanam
akan menjadi
tujuh tangkai seratus biji…”
biji ditanam, akan menjadi, tujuh tangkai seratus biji…

Nyuwun sewu, saya lupa bunyi lengkap syair di atas. Tapi penggalan syairnya hapal luar kepala. Benar-benar hapal lho, dan sering merenungkannya. Sedikit mencontek kalimat klise si Thukul Arwana yang sedang ngetop di “Empat Mata” itu, jangan minta saya mencari dimana buku yang memuat syair itu bisa ditemukan, wong bentuk bukunya saja saya tidak tahu dan tidak tidak pernah melihatnya kok. Lha bagaimana pripun bisa menunjukkan.
Pertanyaannya, kalau tidak pernah melihat dan tidak pernah tahu kok sampai bisa hapal luar kepala, kok bisa menghayati? Ya, hanya pernah melihat sebuah pertunjukan teater yang kebetulan mengutip syair itu dalam salah satu dialognya. Atau pernah juga mendengar syair ini digubah menjadi sebuah komposisi lagu Qasidah yang apik, walau juga tak pernah lengkap.
Meski hanya mampu mengingat penggalannya saja, minimal saya agak berani mengatakan siapa pencipta syair itu. Kalau tidak salah, dan mudah-mudahan juga tidak keliru (kalau sampai keliru ini benar-benar memalukan bekas dosen saya di Fakultas Sastra Univ. Airlangga yang kini malah menjadi kakak ipar saya), pencipta syair itu adalah penyair sufi besar dari Timur Tengah yang menamakan dirinya Rabiyyah al Adawiyah.
Syair ini sesungguhnya sudah ada beberapa abad silam. Nah, silamnya kapan.. itu yang saya kurang tahu pasti. Sebab itu, untuk kali ini, saya tidak berani mengatakannya. Maluuuu dong kalau ketahuan salah. Hanya yang jelas, syair ini sebenarnya memuat bait-bait sangat pajang. Mungkin agak-agak mirip dengan syair Raja Ali Haji atau Gurindam Dua Belas. Atau mirip juga dengan pupuh-pupuh Jawa yang sering ditembangkan di Keraton Solo dan Jogja dihadapan seorang raja.
Nyuwun sewu, tulisan ini tidak dimaksudkan dalam rangka mengkaji dunia perpuisian. Saya hanya mencoba untuk merangkai kedalaman makna penggalan syair Rabiyyah al Adawiyah itu dalam konteks Lebaran, Idul Fitri, Mudik Lebaran, Maaf-maafkan, Bertukar Kabar, Berbagi Rezeki, Membuka Kebagiaan, Mengumpulkan ‘Serpihan Balung-balung Terpisah’ Tanpa Sengaja dan Tanpa Disadari, yang dicoba ‘ditradisikan’ oleh sebuah keluarga yang kini menjadi sangattt besarrr dengan tokoh sentral Alm. H. Mukti Mustdjab yang berasal dari sebuah wilayah pinggir utara Kota Tuban bernama Kenduruan.
Dalam konteks Kenduruan dengan tokoh sentral H. Mukti Mustadjab, saya termasuk orang yang percaya pada perjalanan sebuah biji. Persis seperti yang tersurat dalam penggalan syair Rabiyyah al Adawiyah di atas. Jika sebuah biji ditanam (ada juga yang tidak pernah ditanam karena terbang dibawa angin, dibawa kelelawar, dll, namun bisa sempurna seperti biji yang ditanam), maka, ia akan tumbuh tunas. Tunas dalam perjalanan waktunya sendiri, akan menjadi cabang. Cabang yang bakal menjadi banyak dan tak terhitung lagi jumlahnya. Fase lanjutnya, akan tumbuh buah. Nah, pada saatnya kelak, si buah akan kembali ke dunia biji. Jika mongsonya sudah tiba, biji itu akan kembali ke tanah untuk ditanam lagi, dan seterusnya. Sebuah siklus yang ajaib dan menjadi rahasia Illahi.
Nun jauh di Kenduruan, sebuah wilayah kecil yang barangkali tak pernah dicatat dalam sejarah kejayaaan Ronggolawe saat jadi penguasa Tuban, atau sebuah wilayah yang barangkali tak pernah terlihat dan hanya sekadar nylempit di peta bumi Indonesia, yang boleh jadi juga tak pernah terpantau satelit mata-mata NASA milik bangsa Amerika yang tak terlawan itu, Alm. H. Mukti Mustadjab dan Alm. Hj. Rupiah dari jauh-jauh hari dengan hati riang dan berbahagia, dengan doa siang dan malam, sudah “berdendang” syair menanam “biji”. Harapannya; biji ditanam, akan menjadi, tujuh tangkai seratus biji…
Di dunia pertanian, ada konsep alam yang sangat dipahami petani. Begitu menanam biji, tunasnya tumbuh, hasil akhirnya adalah panen. Nah, Mukti Mustadjab dan Rupiah, dengan segala kesederhananya, adalah gambaran “petani” yang sukses. Tak hanya sekadar menanam sebiji, melainkan tujuh biji sekaligus. Bisa dibayangkan ketika biji itu tumbuh dan masing-masing mengembangkan potensi dan jatidirinya. Hasilnya; akar, cabang dan dahannya bersilang-silang merajut daun, menguntai seribu bunga, yang akhirnya menjadi buah. Lalu panen. Panen yang sangat besar.
Selesai? Tentu belum! Kisah menanam biji hingga menjadi tujuh tangkai lalu panen dan kembali lagi menjadi seratus biji, seribu biji, bahkan tak terhingga biji akan terus berlanjut sesuai hukum Illahi. Tidak akan pernah berhenti, kecuali jika memang dikehendaki-Nya untuk berhenti. Mukti Mustadjab dan Rupiah tak mungkin mengawal dan merawat tanamannya secara terus-menerus. Ada masanya. Masa yang berlaku sesuai dengan hukum Illahi. Dan masa itu sudah tiba berpuluh tahun silam. Berarti, selesai pula beliau menunaikan tugasnya.
Kini, Lebaran Syawal 1428 H ini, “hasil panen” tokoh sentral H. Mukti Mustadjab dan Hj. Rupiah kembali berkumpul (baca juga: dikumpulkan). Harusnya ini menjadi momentum istimewa. Kita semua seperti bersama-sama sedang membaca syair ciptaan Rabiyyah al Adawiyah. Bayangkan, tujuh biji yang dulu beliau tanam dengan segenap kesederhanaan dan keprihatinan itu kini sudah menjadi ratusan orang. Generasi pertama, kedua, ketiga, anak, menantu, cucu, dan cicit jika dikumpulkan sudah mencapai angka ratusan. Bukan lagi puluhan. Barangkali sudah cukup rumit jika hanya dihitung dengan jari tangan plus jari kaki ditambah hidung, dua mata, dua telinga, dua alis, atau yang lainnya. Malahan, saat ini, sepertinya sudah diperlukan kalkulator untuk menghitung anak keturunan H. Mukti Mustadjab. Apalagi itu jika 20 tahun mendatang. Begitukah?!Ya, saya nyuwun dukungan agar Lebaran Syawal 1428 H ini dijadikan momentum istimewa. Dimana istimewanya? Minimal sudah ada langkah maju untuk menerbitkan “Kalam Bani Mukti” ini. Warta khusus dan juga edisi khusus. Khusus karena mengerjakannya serba kilat, gedubrak-gedubruk, telpon sana telpon sini, melekan, nggugahi yang sedang sare untuk dimintai pertimbangan, termasuk pemilihan judul edisi khusus ini. Dan, hasil akhirnya seperti ini. Serba terbatas, kurang kaya ide, tidak sempurna, jauh panggang dari api, dll. Tapi syukur tetap bisa terbit/cetak. Minimal amanah para sesepuh pada Lebaran Syawal 1427 H tahun lalu ada yang sudah direalisasikan. Berikutnya tinggal penyempurnaan, ngapiki, ndandani, nambah ide kreatif, nambah rubrikasi, nambah keberagaman tulisan, minta sumbangan tulisan dari masing-masing Keluarga Besar ini yang berangkat dari tujuh biji itu, membuang yang tidak perlu, masukan dan saran dari para sesepuh, dari edisi perdana yang masih anget ini. Siapa tahu, suatu saat, suatu ketika, pada suatu hari, “Kalam Bani Mukti” ini bisa menyaingi tiras Majalah Time Asia ketika memberitakan Soeharto adalah Presiden Indonesia Terkorup Nomor Satu di Dunia. Siapa tahu to. Nyuwun sewu. (widi antoro)