14 September 2009

Sosok Hj. Rupi'ah

MENGENAL SOSOK Hj. RUPI’AH
Jarak yang memisahkan tempat tinggal dan waktu yang membatasi kebersamaan antara Eyang Haji Mukti Putri yang nama aslinya H. Rupi’ah dengan para cucunya, membuat diantara para cucunya ada yang belum mengenal secara lebih dekat keseharian beliau. Hal ini dapat dimaklumi karena memang hampir seluruh anak dan cucunya tidak tinggal serumah dengan beliau. Sebagai cucu, buyut, canggah dan seterusnya adalah generasi pelanjut yang suka atau tidak didalam dirinya terpatri DNA beliau, karena dari rahim beliau bapak/ibu, kakek/nenek, buyut kita terlahir. Oleh karena itu, ada baiknya kita mencoba mengenang beliau sebagai media untuk mengeratkan tali silaturahmi sekaligus mengambil hikmah dan tauladan perjuangan hidup yang pernah beliau jalani. Penggalan kisah kenangan berikut ini mungkin dapat memberikan sumbangan untuk mengingat kembali sosok Hj. Rupi’ah yang kini telah mampu mengikatkan hati 105 manusia dalam keluarga besar Bani Mukti;
Kebetulan saya ditakdirkan menjadi salah satu cucu beliau yang pernah tinggal serumah dan menjadi teman tidur selama 12 tahun, kenangan tentang beliau yang saya ceritakan ini adalah pengalaman pribadi selama bersama beliau dan kini baru saya dapatkan mutiara hikmah yang ada dibalik itu. Semoga dapat disambung oleh saudara yang lain.

Berjiwa Besar

Ketika saya masih kelas 4 SD di Kenduruan sekitar tahun 1967, tempat dimana eyang Rupi tinggal banyak tumbuh pohon jambu biji. Ada banyak jenis jambu biji yang tumbuh atau ditanam penduduk kenduruan saat itu, beberapa jenis yang saya kenal antara lain: jambu krikilan yang buahnya kecil-kecil, jambu kluthuk agak besar bijinya merah, jambu gedhe yang buahnya besar dan bijinya putih, jambu sukun yang tanpa biji. Banyaknya pohon jambu yang ada disana mengundang kelelawar (codot) si binatang malam penyuka buah untuk memangsa buah-buah jambu masak dan menyebarkan bijinya kebanyak tempat. Dari ulah kelelawar inilah yang kemudian muncul semaian jambu dibanyak tempat termasuk di halaman rumah eyang Rupi.
Pernah suatu ketika, karena terdorong keinginan untuk memiliki pohon jambu sendiri, saya kecil waktu itu menanam semaian jambu di halaman depan rumah. Tumbuan ini saya pelihara mulai dari kecil hingga tumbuh dengan tinggi pohon sekitar 50 Cm. Karena banyaknya muncul semaian jambu baru dimana-mana yang tumbuh dari biji jambu yang disebarkan kelelawar, oleh orang sana biasanya dicabuti. Demikian pula eyang yang memiliki tanaman faforit berupa sirih, selalu membersihkan tanaman-tanaman pengganggu dari pohon sirihnya.
Sirih adalah tumbuhan merambat pada pohon lain yang banyak digunakan penduduk kenduruan untuk nginang (nyirih), karena hampir sebagian besar penduduk perempuan yang menginjak usia 40 tahun keatas mempunyai kebiasaan nginang. Meski sirih ini termasuk tanaman yang mudah tumbuh, tetapi tidak banyak orang mampu menanam sirih dengan kualitas baik. Eyang Rupi’ah termasuk sedikit orang yang berhasil mengembangkan tanaman sirih ini dengan baik, sebagai petilasannya sampai saat ini dirumah Kenduruan masih terdapat tumbuhan sirih yang terus berkembang dengan baik. Tanaman sirih bagi eyang Rupi ada banyak fungsi, antara lain untuk memenuhi kebutuhan nginang, pengobatan tradisional dan dijual.
Sebagaimana layaknya untuk menjaga agar tanaman tetap tumbuh dengan baik, secara rutin perlu diperhatikan kesuburan tanahnya, kelembaban dan kondisi lingkungan sekitarnya agar tidak banyak tanaman pengganggu yang tumbuh liar disekelilinggnya.
Karena itu pula, kira-kira yang kemudian eyang membersihkan tanaman pengganggu seperti rumput dan tanaman liar lainnya yang tumbuh disekitar tumbuhan sirih ini, termasuk tanaman jambu yang saya pelihara ikut dicabuti oleh eyang. Melihat tanaman jambunya dicabut, saya kecil menjadi galau hatnya. Persaan tidak terima akhirnya memunculkan dorongan untuk membalas dengan cara yang setimpal. Mengetahui yang mencabut adalah eyang Rupi, maka saya kecil tidak berpikir panjang kemudian ambi pisau dan memotong langsung pangkal pohon dari tanaman sirih yang besar itu. Tidak lama keesokan harinya tanaman kesayangan eyang sudah layu dan mati tentunya.
Hari berikutnya seperti biasanya waktu eyang merawat tanaman kesayangannya betapa kegetnya beliau melihat daun sirihnya pada layu. Selidik demi selidik ternyata kedapatan biang keladinya yakni pangkal pohon sirihnya telah terpotong. Tentu ini sangat menyakitkan, betapa tidak tanaman yang setiap hari dirawat agar tetap tumbuh dengan bagus dan subur tiba-tiba layu. Tak pelak lagi semua orang serumah dapat getahnya kemarahan eyang. Namun belakangan setelah mengathui secara pasti bahwa yang memotong saya karena tanaman jambu saya dicabut, maka justru eyang mereda amarahnya. Kalimat yang terucap dari eyang adalah: ”iyo cung embah sing salah, wong tanduran bendina dielus-elus kok idep-idep dijabut”
Dari peristiwa ini, mungkin waktu itu aku masih kecil belum memahami atas semua itu, jadinya yang ada hanya mangkel saja, tetapi setelah dewasa dan mampu memaknai akan apa yang terjadi, maka ada nilai yang dapat kita petik darinya, yakni kebesaran hati beliau.
Sebenarnya pada saat itu beliau dapat melakuakan apa saja kepada saya karena beliau mempunyai otoritas lebih besar dan yang jelas lebih kuat dari sekedar anak kelas 4 SD, tetapi tidak beliau lakukan dan justru meminta maaf.
Apabila kita maknai dengan sebetulnya didalam tindakan itu ada tauladan yang dapat kita petik antra lain:
1. bahwa tidak haram bagi mereka yang lebih kuasa untuk meminta maaf kepada orang yang ada dibawahnya, apalagi kalau memang salah;
2. mau mawas diri, bahwa orang tua atau orang yang lebih tua itu tidak selalu benar tindakannya, oleh karena itu sebaiknya selalu bersedia untuk mawas diri dan siap menerima masukan, termasuk melalui hilangnya barang yang sangat disayangi sekalipun
3. akomodatif, bahwa pada sosok beliau terggambarkan sikap yang akomodatif terhadap kepentingan komunitas disekitarnya yang memiliki keinginan serupa.

-by Pakde Wan -
-Miswan Hadi : Generasi ke-2 Bani Mukti-