
Ikatan emosional terhadap tanah kelahiran atau wilayah dimana kita dibesarkan, bisa jadi membuat seseorang menjadi sangat merindukan untuk dapat mengenangnya. Tidak jarang untuk dapat melakukan itu semua mereka harus rela berkorban waktu, tenaga dan biaya yang tidak kecil.
Memang sulit dirasionalkan relevansi antara hasil yang ingin dicapai seseorang dengan resiko dan biaya yang harus ditanggung oleh seseorang yang sedang mudik, apalagi dengan perkembangan teknologi informasi yang sudah begitu pesat. Semestinya kalau hanya sekedar perlu menyampaikan ucapan selamat kepada sanak saudara di lain kota, tidak perlu harus bersusah payah pergi ke berkunjung secara fisik kesana, apalagi keinginan itu dilaksanakan pada saat yang bersamaan, tentu akan berdampak pada terbatasnya kemampuan tampung fasilitas pendukung yang terdsedia. Keadaan ini akan mendorong terjadinya kelangkaan fasilitas, seperti barang kebutuhan, alat transportasi dan lainnya, sehinga pada akhirnya mendorong naiknya harga.
Mengantisipasi tradisi mudik pada hari Raya Idul Fitri merupakan gawe besar tahunan yang mau tidak mau harus dilakukan pemerintah, Departemen Perhubungan, Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Departemen Pertanian dan instansi terkait lainnya. Setiap tahun terus berulang, namun sepertinya persiapan khusus tetap harus dilakukan. Secara tidak tertulis, mudik sudah menjadi 'hajat' kebutuhan masyarakat yang menuntut untuk dilayani oleh pemerintah. Oleh karena itu apabila tidak tepat dalam mengurusnya, tentu kecaman dan hujatan akan datang bertubi-tubi. Tak terkecuali pada musim mudik tahun ini, jauh hari semua instansi terkait sudah sibuk berkoordinasi dan berbenah. Minimal, kekurangan yang terjadi di tahun sebelumnya bisa diperbaiki sehingga para pemudik bisa aman dan nyaman sampai ke tujuan.
Pada saat menjelang Idul Fitri 1 Syawal 1426 H Nopember 2005, Departemen Perhubungan RI memperkirakan, gelombang pemudik pada tahun itu jumlahnya mendekati 17 juta, apabila separuh dari mereka mudik menggunakan kendaraan pribadi, berarti ada 8,5 juta yang harus dilayani oleh kendaraan umum. Kalau seandainya jumlah itu diangkut dengan armada bus yang berkapasitas 50 penumpang, akan dibutuhkan 170.000 buah bus untuk sekali jalan atau 340.000 bus untuk pergi dan pulang.
Pada sisi lain, besarnya jumlah pemudik ini secara tidak langsung dapat memberikan andil dalam pergerakan perekonomian di daerah apabila diasumsikan setiap pemudik membelanjakan uangnya rata-rata sebesar Rp. 300.000 di desa. Karena apabila hal tersebut terjadi, sekurang-kurangnya akan ada sekitar Rp. 5,1 trilyun uang yang beredar di daerah. Dengan uang sebesar itu, tentu menjadi sangat potensial untuk menggerakkan perekonomian masyarakat di desa.
Memang setiap gerakan dan interaksi masyarakat yang bersifat kolektif akan berdampak pada gerak ekonomi, hanya saja terkadang gerakan itu kurang terarah sehingga sentuhan kemanfaatannya belum dapat dirasakan oleh mereka yang benar-benar membutuhkan. Pada umumnya, di desa-desa tempat dimana para pemudik pulang kampung banyak penduduk yang kurang berdaya dibidang ekonomi, pada sisi lain para pemudik tersebut datang dengan membawa rupiah yang tidak kecil. Kalau seandainya kedua kepentingan ini bisa diketemukan, misalnya dengan memposisikan penduduk setempat menyediakan kebutuhan para pemudik dan pemudik membelanjakan uangnya tidak kemana-mana kecuali kepada mereka saja, tentu menjadi wadah yang sangat potensial untuk mempertautkan hati anatara para pemudik dan saudaranya yang tetap tinggal di desa. Hal ini tentu sejalan dengan makna dari silaturahmi itu sendiri, sekaligus dapat memberikan suntikan gairah bagi penduduk setempat dalam memberdayakan ekonomi mereka.
Contoh diatas adalah buah fikiran yang sangat sederhana dari yang bukan ahlinya dan belum tentu dapat diterapkan untuk semua desa, tetapi barangkali yang perlu menjadi renungan kita adalah semangat perubahannya. Bagaimana memasukkan unsur produktif dari kegiatan seremonial mudik yang dapat memberikan dampak pada pemberdayaan masyarakat di desa. Kemudian yang menjadi pertanyaan, akankah muncul pikiran-pikiran kreatif dari kita semua untuk mencoba melakukan eksperimen ? (miswan hadi)




