09 Oktober 2007

Fenomena Mudik Lebaran



Ikatan emosional terhadap tanah kelahiran atau wilayah dimana kita dibesarkan, bisa jadi membuat seseorang menjadi sangat merindukan untuk dapat mengenangnya. Tidak jarang untuk dapat melakukan itu semua mereka harus rela berkorban waktu, tenaga dan biaya yang tidak kecil.

Memang sulit dirasionalkan relevansi antara hasil yang ingin dicapai seseorang dengan resiko dan biaya yang harus ditanggung oleh seseorang yang sedang mudik, apalagi dengan perkembangan teknologi informasi yang sudah begitu pesat. Semestinya kalau hanya sekedar perlu menyampaikan ucapan selamat kepada sanak saudara di lain kota, tidak perlu harus bersusah payah pergi ke berkunjung secara fisik kesana, apalagi keinginan itu dilaksanakan pada saat yang bersamaan, tentu akan berdampak pada terbatasnya kemampuan tampung fasilitas pendukung yang terdsedia. Keadaan ini akan mendorong terjadinya kelangkaan fasilitas, seperti barang kebutuhan, alat transportasi dan lainnya, sehinga pada akhirnya mendorong naiknya harga.
Mengantisipasi tradisi mudik pada hari Raya Idul Fitri merupakan gawe besar tahunan yang mau tidak mau harus dilakukan pemerintah, Departemen Perhubungan, Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Departemen Pertanian dan instansi terkait lainnya. Setiap tahun terus berulang, namun sepertinya persiapan khusus tetap harus dilakukan. Secara tidak tertulis, mudik sudah menjadi 'hajat' kebutuhan masyarakat yang menuntut untuk dilayani oleh pemerintah. Oleh karena itu apabila tidak tepat dalam mengurusnya, tentu kecaman dan hujatan akan datang bertubi-tubi. Tak terkecuali pada musim mudik tahun ini, jauh hari semua instansi terkait sudah sibuk berkoordinasi dan berbenah. Minimal, kekurangan yang terjadi di tahun sebelumnya bisa diperbaiki sehingga para pemudik bisa aman dan nyaman sampai ke tujuan.
Pada saat menjelang Idul Fitri 1 Syawal 1426 H Nopember 2005, Departemen Perhubungan RI memperkirakan, gelombang pemudik pada tahun itu jumlahnya mendekati 17 juta, apabila separuh dari mereka mudik menggunakan kendaraan pribadi, berarti ada 8,5 juta yang harus dilayani oleh kendaraan umum. Kalau seandainya jumlah itu diangkut dengan armada bus yang berkapasitas 50 penumpang, akan dibutuhkan 170.000 buah bus untuk sekali jalan atau 340.000 bus untuk pergi dan pulang.
Pada sisi lain, besarnya jumlah pemudik ini secara tidak langsung dapat memberikan andil dalam pergerakan perekonomian di daerah apabila diasumsikan setiap pemudik membelanjakan uangnya rata-rata sebesar Rp. 300.000 di desa. Karena apabila hal tersebut terjadi, sekurang-kurangnya akan ada sekitar Rp. 5,1 trilyun uang yang beredar di daerah. Dengan uang sebesar itu, tentu menjadi sangat potensial untuk menggerakkan perekonomian masyarakat di desa.
Memang setiap gerakan dan interaksi masyarakat yang bersifat kolektif akan berdampak pada gerak ekonomi, hanya saja terkadang gerakan itu kurang terarah sehingga sentuhan kemanfaatannya belum dapat dirasakan oleh mereka yang benar-benar membutuhkan. Pada umumnya, di desa-desa tempat dimana para pemudik pulang kampung banyak penduduk yang kurang berdaya dibidang ekonomi, pada sisi lain para pemudik tersebut datang dengan membawa rupiah yang tidak kecil. Kalau seandainya kedua kepentingan ini bisa diketemukan, misalnya dengan memposisikan penduduk setempat menyediakan kebutuhan para pemudik dan pemudik membelanjakan uangnya tidak kemana-mana kecuali kepada mereka saja, tentu menjadi wadah yang sangat potensial untuk mempertautkan hati anatara para pemudik dan saudaranya yang tetap tinggal di desa. Hal ini tentu sejalan dengan makna dari silaturahmi itu sendiri, sekaligus dapat memberikan suntikan gairah bagi penduduk setempat dalam memberdayakan ekonomi mereka.
Contoh diatas adalah buah fikiran yang sangat sederhana dari yang bukan ahlinya dan belum tentu dapat diterapkan untuk semua desa, tetapi barangkali yang perlu menjadi renungan kita adalah semangat perubahannya. Bagaimana memasukkan unsur produktif dari kegiatan seremonial mudik yang dapat memberikan dampak pada pemberdayaan masyarakat di desa. Kemudian yang menjadi pertanyaan, akankah muncul pikiran-pikiran kreatif dari kita semua untuk mencoba melakukan eksperimen ? (miswan hadi)

Amanat yang Tertunda dari Ide Besar


Dua tahun terakhir, ada satu tema besar yang menjadi bahasan utama ketika Keluarga Besar H. Mukti Mustadjab berkumpul. Di tengah suasana gayengnya lebaran bersama seluruh keluarga besar juga sanak kadang dan para tetangga di ‘Hotel’ istimewa peninggalan Mukti Mustadjab, tema besar yang masuk bahasan utama itu adalah rencana penyerahan seluruh aset peninggalan almarhum untuk dikelola generasi penerusnya.
Tak semua kerabat bisa ikut ambil bagian dalam rapat tersebut. Yang pasti, berdasarkan etika, juga menurut pansus (panitia khusus) yang entah sejak kapan terbentuk, yang bisa ikut dalam pertemuan penting ini hanyalah para keluarga inti Mukti Mustadjab. Terdiri dari generasi Mukti Mustadjab pertama, kedua, ketiga, keempat (generasi keempat sepertinya belum ada, namun tak ada salahnya dicatatkan terlebih dahulu karena suatu saat generasi itu pasti datang, red).
“Penyerahan aset, itu adalah gagasan besar. Tidak bisa dipikul dengan sebelah bahu. Juga tidak cukup hanya dengan pertemuan setahun sekali. Minimal harus ada pertemuan lanjutan dan komunikasi intensif untuk membicarakan masalah tersebut. Ini benar-benar gagasan besar. Sebab, setelah aset diserahkan, bagaimana dengan proyeksi jangka panjangnya. Mau diapakan? Bentuknya bagaimana?,” kata Dr Thini Nurul Rohmah yang sejak dua tahun lalu mendapat amanat bersama Prof Arifin untuk menjajaki kemungkinan tersebut.
Sejak mencuatnya gagasan itu dari generasi pertama: H. Arifin Rohman, Soepadmi, Hj Roekmini, Hj Roestimah, Hj, Moersita, Muji Bekti, BA, Prof Dr Ir M. Muslich Mustadjab, Msc, ide pun bergulir. Lebaran 1426 H silam sudah muncul ide untuk membangun sebuah yayasan. Terjadi dialog yang cukup hangat ketika itu. H Arifin Rohman yang menjadi narasumber utama sekaligus juru bicara generasi pertama mengatakan, yayasan tersebut diperlukan untuk nantinya bisa mengelola aset yang bakal dilimpahkan tersebut.
Hingga akhirnya muncul penugasan pertama kepada generasi kedua. Penugasan itu terkait dengan kemungkinan penjajakan untuk mendirikan sebuah yayasan. Termasuk di dalamnya mekanisme apa yang ditempuh sebagai syarat berdirinya sebuah yayasan. Ketika itu, generasi kedua yang dibebani tugas tak ringan itu adalah Prof Arifin dan Dr Thini. Kendati masih dalam tataran ide, masih jauh panggang dari api, sudah bermunculan usulan nama jika yayasan itu benar-benar berdiri. Usulan nama yang paling banyak masuk ternyata tak jauh dari dua kata; Mukti dan Mustadjab.
Setahun berselang, persisnya lebaran tahun lalu, bahasan utama itu kembali mengemuka. Hanya saja kali ini lebih mengerucut ketimbang tahun sebelumnya yang masih serba grambyangan. Prof Arifin dan Dr Thini yang sudah melakukan pengumpulan berbagai informasi dan juga barangkali observasi, diperoleh simpulan jika dibentuk sebuah yayasan ternyata pengelolaannya tidak segampang yang dibayangkan. Malah terkesan terlalu rumit karena harus berurusan dengan undang-undang dan juga hukum.
Dari simpulan itu muncul ide yang lebih cair, yaitu membentuk sebuah paguyuban. Nampaknya gayung bersambut. Sebab, paguyuban rasanya lebih familier di telinga. Lebih gampang sosilisasinya. Lebih fleksibel cara kerjanya dengan tidak menafikan yang namanya tanggung jawab dari generasi kedua kepada generasi pertama yang sudah memberikan amanat. Ketika itu muncul kata sepakat, generasi pertama untuk segera menginventaris “harta” yang nantinya bakal diserahkan ke paguyuban.
Bentuk pasti paguyuban secara resmi memang belum ada. Namun itu bukan masalah yang berarti, sebab SDM di keluarga besar Mukti Mustadjab ibarat tinggal comot pasti jadi. Ibaratnya lagi, sudah ada menu favorit garang asem di meja makan dan tinggal menyantapnya. Pasti lezat. Pasti mak nyuss. Pasti yang terpilih di jajaran teras paguyuban nantinya adalah pilihan yang terbaik. Dan tentu mumpuni. Kini tinggal menanti, rekomendasi apa yang bakal muncul di rapat pansus 1428 H ini? (widi antoro)

Berjibaku Karena Hanya Punya Ibu



Haji Mukti Mustadjab yang karena kesungguhannya memaknai hidup dan kehidupan dalam perspektif ibadah mampu menumbuhkan generasi yang siap berkontribusi memberikan jawaban atas tantangan pada jamannya. Secara fisik generasi yang telah berhasil mereka kembangkan dalam kurun waktu sejak beliau berdua menikah tahun 1929 sampai dengan tahun 2007 jumlah anggota keluarga menjadi 102 orang . Berikut penuturan sesepuh dari generasi pertama, H. Arifin Rochman kepada Rosyida dari “Kalam Bani Mukti” setelah sang peletak dasar seribu generasi itu pergi.

Pada saat Eyang Mukti Mustadjab meninggal, Eyang Rochman kan masih kecil, apa peristiwa tersebut tidak menjadikan putus harapan ?
Eyang Mustajab meninggal tahun 1948. Saat itu eyang Rohman masih kelas 3 Taman Dewasa (setingkat SMP) di Cepu. Bahkan pada saat jenazah dimakamkan, eyang baru datang. Ketika itu yang dikeluhkan adalah bagaimana harus melanjutkan sekolah. Untuk ukuran anak yang belum lulus SMP pertanyaan ini sangat wajar. Sosok ayah yang menjadi penopang biaya sekolahnya harus meninggalkan mereka untuk selamanya. Belum lagi enam adik-adik masih kecil, bahkan Eyang Muslich masih bayi saat itu. Pada saat itulah Kiai Zuhdi, teman Haji Mukti menasehati, bahwa Allah Maha Murah dan kaya. Asal engkau sungguh-sungguh berusaha dan berdoa pasti akan diberikan.

Bagaimana ceritanya sampai keluarga ini banyak yang keluar dari kenduruan?
Pada tahun 1945 masuk SMP di Tuban, baru berjalan setengah tahun proklamasi kemerdekaan di proklamirkan. Maka sekolah dibubarkan. Eyang pulang ke Kenduruan, maksud hati ingin meneruskan ke Taman Dewasa Cepu namun eyang Mustajab tidak mengijinkan karena akan dimasukkan pondok pesantren. Akhirnya Eyang Mustajab mengijinkan Eyang Rohman untuk masuk sekolah di Taman Siswa tingkat Taman Dewasa, setingkat SMP di Cepu.
Setelah keluar dari sekolah Taman Dewasa tahun 1948, terjadi pemberontakan PKI, sehingga semua penduduk mengungsi di hutan. Setelah pemberontakan reda dan kondisi aman kembali eyang ikut paman bernama Muhamad berdagang hasil pertanian khususnya cabe dari Kenduruan ke Jepon, Blora. Transportasi antara Kenduruan-Jepon yang berjarak sekitar 25 Km itu ditempuh dengan jalan kaki. Dari kenduruan membawa hasil pertanian khususnya cabe untuk dijual di Jepon, sedangkan hasil penjualan dibelikan kain di Jepon untuk dijual di Kenduruan.

Sambil sekolah?
Iya. Atas anjuran Eyang Warsito yang saat itu sudah menjadi guru, Eyang masuk ke Mobilisan Pelajar (Mopel) sampai diasramakan di Jatirogo. Setelah berhasil mengikuti latihan tertentu akhirnya diasramakan di Tuban. Bersama teman-teman Mopel Eyang memperoleh kesempatan untuk dapat melajutkan sekolah di SMA Front Nasional di Surabaya. Pada saat itu Eyang mohon ijin kepada Eyang Rupi untuk melanjutkan ke Surabaya. Eyang Rupi mengijinkan, namun karena tidak memiliki biaya, Eyang Rupi hanya bisa memberikan bekal berupa dinar emas oleh-oleh dari Eyang Mustajab pada saat menunaikan haji.

Pasti saat itu tantangannya berat Eyang?
Sudah pasti sangat berat. Hanya tekad baja saja yang bisa membuat semuanya seperti serba mudah. Dengan berbekal tadi, Eyang berangkat ke Surabaya, bersama teman Mopel. Disana ditampung di rumah saudara teman Mopel di Jl. Tembok Dukuh Gang 6. Sekolah SMA Front Nasional berada di Jl. Kepanjen yang sekarang menjadi SMPN 2. Setelah berjalannya waktu, rumah di Tembok Dukuh sudah tidak nampung lagi, kemudian Eyang pindah pemondokan di Jojoran. Karena kondisi di SMA Front Nasional kurang kondusif, akhirnya pindah ke SMA Belanda (VHO). Jarak tempuh dari Jojoran ke sekolah makin jauh. Untuk itu membutuhkan sarana transportasi berupa sepeda angin. Eyang pulang ke Tuban dan atas izin Eyang Rupi akhirnya menjual kerbau untuk beli sepeda.

Setelah itu apa yang terjadi Eyang?
Selepas dari SMA di Surabaya, Eyang diangkat menjadi guru di Bojonegoro. Setelah jadi guru Eyang harus memikirkan adik-adik. Karena ini sudah menjadi amanat dan kewajiban. Dari Bojonegoro Eyang memasukkan Eyang Roes ke SMP Tuban. Dari Tuban Eyang Roes saya dipindahkan lagi ke Bojonegoro dan dipondokkan di belakang sekolah guru. Setelah lulus SMP Bojonegoro, Eyang Roes melanjutkan ke Sekolah Guru Atas (SGA) di Surabaya. Tapi bersamaan dengan itu Eyang di pindahkan ke Kediri. Meski sudah di Kediri Eyang harus tetap memikirkan Eyang Mur yang sekolah di SMP Tuban. Untuk mempermudah pengawasan, Eyang kemudian memindahkan sekolahnya dari Tuban ke Kediri. Lulus SMP di Kediri, kemudian Eyang Mur masuk sekolah Bidan di Surabaya. Begitu juga dengan Eyang Muji, selepas dari SMAN 6 Surabaya Eyang dukung hingga kuliah di IKIP Surabaya sampai Sarjana Muda. Lalu yang Eyang Muslich, setelah lulus di SMPN 1 Pacar kemudian Eyang tarik ke Surabaya dan sekolah di SMAN 2 komplek di Surabaya. Kemudian bisa kuliah di Unibraw Malang dan akhirnya menempuh S2 dan S3 di Philipine, Malaysia dan Australia.

Bagaimana cara Eyang Rupi’ah yang hanya seorang janda dapat membiayai sekolah ketujuh anaknya ?
Justru karena menyadari hanya seorang janda dan hanya mengandalkan hasil pertanian, kami punya komitmen untuk menerapkan kesatuan dan kebersamaan. Kami berusaha mengoptimalkan pengelolaan asset lahan pertanian yang terbatas didukung dengan kesatuan niat untuk kepentingan bersama. Bahwa diantara kami tidak pernah menuntut hak dari masing-masing terhadap asset Semua mencari uang sendiri-sendiri karena kemurahan dari Allah dengan mau prihatin dan tahan banting, Allah pasti membantu. Dalam prakteknya memang dilakukan pembagian tugas. Eyang Mini dengan Eyang Mus yang ahli dibidang pertanian dan perdagangan bertugas mengelola asset keluarga di Kenduruan secara produktif dan hasilnya dipergunakan untuk membantu pembiayaan pendidikan adik-adiknya. Sedangkan Eyang Rochman bertugas mencarikan sekolah, mengarahkan, membimbing, mengawasi dan membantu pembiayaan pendidikan mereka.

Apa yang menjadi kata kunci, sehingga Eyang Rupi’ah bisa berhasil membesarkan putra-putranya ?
Tumbuhkan semangat kerja yang tinggi, sedia bersusah-susah untuk meraih yang lebih tinggi, kembangkan silaturahmi dan setia kawan, keimanan yang kuat dan akhirnya seimbangkan antara ikhtiar dan doa. (Rosyida)

08 Oktober 2007

Jagad Cilik Bernama Kenduruan




Beberlah peta, masuklah ke dalamnya. Cari sebuah wilayah yang bernama Kenduruan. Atau sebuah Desa bernama Sidomukti. Untuk keperluan mencari dua nama wilayah ini, tak perlulah membeber peta dunia, karena di sana jelas tak tercantum nama Sidomukti atau pun Kenduruan.

Sebelum makin jauh menyusuri peta, tak ada salahnya menyiapkan kaca pembesar. Malahan jika perlu hadirkan mikroskop di meja dimana peta dibeber. Ini mungkin berlebihan, karena jelas tak masuk akal mengintip peta dengan alat mikroskop. Sebab, peruntukkan alat tersebut sudah bukan pada tempatnya.



Tentu ini hanya kiasan. Imajinasinya, jika alat canggih itu mampu melihat makhluk super kecil seperti amuba atau jenis bakteri-bakteri super kecil lainnya yang tak mampu dilihat dengan mata telanjang, harusnya mampu juga meneropong Sidomukti atau Kenduruan yang tak hanya sekadar bakteri bersel satu.


Peta dunia sudah jelas tak mungkin lagi dibeber. Simpan saja dilaci, mungkin suatu saat kalau pergi jalan-jalan ke Tiongkok atau New York peta itu akan lebih berguna. Kalau begitu sekarang beber saja peta Indonesia. Mari kita sama-sama melotot, menelusuri dua obyek dan target yang sudah ditentukan itu. Namun sampai mata kita loncat di atas kertas peta, niscaya tak ada sebuah tempat yang bernama Sidomukti dan Kenduruan.
Oke, kita perkecil persepsi. Beber peta Jawa Timur (Jatim) karena kedua wilayah yang kecilnya menyerupai Amuba di peta Indonesia itu berada di Propinsi Jatim. Sampai mata pedes dan jereng, masih merupakan niscaya dua target itu tercantum di peta.


Baiklah kita persempit ruang berpikir, berikutnya kita beber Kabupaten Tuban sebab kedua target masuk dalam otoritas Bupati Tuban. Nah lumayan, kita sudah temukan Jatirogo. Di peta, Jatirogo sudah dibold hitam. Karena cetakan hurufnya sudah lebih ditebalkan, tentu dua target sudah dekat sebab dua wilayah yang sedang kita cari itu tak jauh-jauh amat dari Jatirogo.
Garis-garis berkelok menunjukkan jalan disusuri. Begitu juga garis-garis merah yang menunjukkan sungai dicermati, namun Sidomukti dan Kenduruan belum ditemukan juga. Coba yang blok-blok hitam menujukkan wilayah hutan sekali lagi dilihat. Kenapa dilihat? Karena sesungguhnya Kenduruan masih dalam jangkauan wilayah yang berhutan-hutan. Kali ini cukup pakai kaca pembesar saja. Huuhh! Tetap tak terlihat.


Putus asa? Pasti! Sudah beberapa peta dilihat, dipelototi, ditelusuri tapi Sidomukti dan Kenduruan tetap tak mau menunjukkan jati dirinya. Barangkali, sejak awal kita sudah salah memilih dan membeber peta. Sehingga tak ada hasil akhir yang bisa dicapai untuk menghadirkan Sidomukti dan Kenduruan benar-benar nyata tertera dalam peta, walau dalam ukuran wilayah kabupaten sekalipun.


Barangkali, sejak awal, kita sudah salah menerapkan strategi saat mengubek-ubek peta. Harusnya, melihat Sidomukti dan Kenduruan tidak perlu repot-repot membeber peta Indonesia, Jatim ataupun Tuban. Cukup datang ke kecamatan dan desa, di sana pasti bisa dilihat dua obyek yang sedang kita cari dan bicarakan itu dengan lebih detail dan gambling sehingga kita tidak akan kesasar. Lagi pula sebenarnya siapa sih yang tidak hafal dengan kenduruan kecuali dua kemungkinan yakni Pertama, ia adalah anggota baru di keluarga besar Haji Mukti Mustadjab. Kedua, ia adalah orang lama di keluarga besar namun sudah bertahun ketlingsut dan lama tidak silaturahim ke Kenduruan.


Dalam konteks harafiah, Kenduruan/Sidomukti adalah benar-benar sebuah jagad cilik. Jagad cilik yang boleh jadi hanya nylempit di peta. Namun jagad cilik itu akan menjadi “jagad” yang besar di hati kita jika ada kemauan untuk memeliharanya. Buanglah rasa gundah dan resah. Jauhkanlah dari curiga dan prasangka. Tanamkan kebersamaan. Pupuk dengan kasih sayang. Dan Siramlah degan penuh cinta. Niscaya Kenduruan akan tetap singgah dalam peta hati kita. (widi antoro)

Sepasang Pengantin Seribu Generasi


Sepasang Pengantin Seribu Generasi

Kenduruan tahun 1900. Suram. Itu terjadi dimana-mana. Tak hanya terjadi di Kenduruan. Kehidupan mencekam karena masih bercokolnya bangsa penjajah. Seluruh negeri menderita lapar, miskin, dan dibodohkan. Dan sejarah menorehkannya sebagai periode pahit. Zaman yang teramat susah untuk dilupakan meski sudah datang waktu seabad lamanya.
Disekujur kesuraman zaman itu, disanalah leluhurku pernah hidup. Bertahan sekuat daya agar tidak mati kelaparan. Berusaha sekuat daya untuk menyelamatkan anak keturunannya agar kelak seribu generasi ada yang mampu bertutur tentang moyangnya. Berusaha keras untuk menjadi tidak bodoh meski diterapkan sistem pembodohan oleh penjajah.
Seratus tahun berlalu, zaman pun berganti. Aku punya kerinduan tak terbendung untuk merangkai cerita tentang moyangku. Siapa tahu, rangkaian kisah ini akan berguna kelak untuk seribu generasi. Namun, ternyata, bukan perkara mudah merangkai sebuah cerita yang nampaknya hanya sederhana. Sebab, ketika menyirap berbagai informasi yang terkait dengan Kenduruan, aku hanya mendapat cuilan-cuilan cerita. Tak ada yang mampu merekonstruksi ulang jalinan kisah moyangnya secara komplit.
Beruntunglah aku masih bisa menemukan H. Arifin Rochman. Eyangku sendiri. Satu-satunya orang yang masih mampu mengingat dan bercerita tentang Kenduruan di awal tahun 1900-an. Tidak detail memang, maklum itu rekaman peristiwa yang dimulai sejak seratus tahun silam. Namun itu sudah luar biasa, mampu melengkapi cuilan-cuilan yang selama ini sulit dirangkai ujung dan pangkalnya.
Nah, jika cuilan-cuilan cerita itu digabung dengan rekonstruksi Eyang Rochman, kemudian diimbuhi dengan kata sambung, lalu dibubuhkan kata kerja, dilengkapi dengan kalimat penderita, dan dibumbui dengan sedikit tafsir berikut imajinasi, maka kisah sepasang pengantin seribu generasi itu jadinya akan seperti ini:
Kenduruan awal abad 20 nyaris masih seperti belantara hutan. Belukar masih sambung menyambung hingga Jatirogo, wilayah terdekat. Dan Blora wilayah terdekat yang lain. Sementara Tuban serta Cepu sisi jauh dari wilayah Kenduruan. Tidak banyak jalan untuk menembus masing-masing wilayah itu. Padahal jalan-jalan penting yang menjadi jalur utama distribusi informasi, bahan pangan, dll, di masa penjajahan itu acapkali dikuasai begal, kecu, dan perampok.
Dalam situasi yang serba suram sebagai bangsa terjajah itu, di Kenduruan hidup seorang terpandang bernama Eyang Haji Abdul Khamid. Embah Kaji Khamid, demikian warga menyebutnya, adalah seorang juragan tanah. Sawahnya dimana-dimana. Pekarangannya juga tak beda. Belum lagi terhitung tanah tegalan yang bisa menghasilkan panen kelapa, pohon jati, dll. Dengan keadaan seperti itu pantaslah ia digelari juragan di Kenduruan. Sudah juragan, haji pula. Tabik.
Sang juragan beranak pinak. Enam orang anak dilahirkan dari rahim istrinya. Salah seorang anak itu, yang paling mbarep diberi nama Mukti Mustadjab. Mukti itu kamukten. Sama dengan kemuliaan, kebahagian, ora kurang sandang pangan. Mustadjab itu pengharapan dari sebuah doa. Doa yang diijabah biasanya disebut doa yang mustajab. Khasanahnya, Mukti Mustadjab adalah nak mbarep yang selalu didoakan agar mendapat kamukten untuk selamanya, berikut anak turunnya. Kira-kira begitu ketika Embah Kaji Khamid yang juga orang Jawa tulen itu menggadang-gadang anak lelaki mbarepnya.
Di antara enam saudara itu, hanya Mukti Mustadjab yang mendapat julukan ‘Kaji Cilik’. Ada dua kemungkinan kenapa Mukti cilik dijuluki seperti itu. Pertama karena ia anak juragan yang juga Kaji. Kedua, ia menjadi teladan bagi sebayanya ketika sudah berada di dalam surau saat pelajaran ngaji dimulai. Dua kemungkinan yang dua-duanya bisa dipakai sekaligus.
Kaji Cilik tumbuh pesat menjadi dewasa. Jelas ganteng untuk ukuran saat itu, wong dia lelaki tulen kok. Banyak keluarga berharap anak perempuannya bisa dipersunting si Kaji Cilik yang saat itu sudah tidak cilik lagi. Selain ganteng, ia juga dari kelurga terpandang. Minimal aman bisa bernaung di keluarga seperti ini di zaman penjajahan. Karena jelas tidak bakal kekurangan sandang, pangan, dan boleh jadi papan.
Kaji Cilik yang melekat pada Mukti Mustadjab ternyata bukan hanya sekadar julukan kosong. Ia benar-benar pintar dan cerdik. Tahu kalau banyak yang mengincar dirinya untuk dijadikan mantu dan besanan dengan bapaknya, secara jitu ia segera minta dipersuntingkan dengan seorang kembang desa yang benar-benar pilihan di Kenduruhan saat itu. Nama gadis itu adalah Rupi’ah.
Gadis Rupi’ah ternyata bukan perempuan sembarangan. Selain terkenal jadi kembang desa karena saking cantiknya, Rupi’ah memiliki garis darah paling terpandang di seantero Kenduruhan. Ia putri seorang lurah. Haji Abdul Syukur namanya. Pada masa itu, siapa yang berani main-main dengan putri seorang lurah? Tidak ada! Alhasil banyak pemuda yang hanya berani membatin saja suatu saat bisa mempersunting si Rupi’ah.
Keluarga Haji Abdul Syukur tak jauh berbeda dengan Haji Abdul Khamid. Sama-sama memiliki keluarga besar. Dan yang penting adalah banyak anak. Hanya selisih 3 biji di antara keduanya. Yang satu enam, Haji Abdul Syukur 9. Tampaknya mereka tak begitu sumelang dengan persoalan perekonomian yang diambang batas karena penjajahan. Karena pada dasarnya mereka adalah turunan orang kaya dan ulet berusaha.
Rupiah adalah putri kelima dari sembilan bersaudara. Sembilan orang tersebut tujuh di antaranya adalah perempuan, dan dua orang lainnya lelaki. Tak ada yang bisa mengingat pasti, siapa di antara sembilan bersaudara putra-putri Lurah Kenduruan itu yang menikah duluan. Hanya berdasarkan kebiasaan, berdasarkan unggah-ungguh priyantun Jawi, yang menikah atau dinikahkan duluan adalah nak mbarep. Lainnya baru susul menyusul hingga yang paling buncit.
Kabar mantan Kaji Cilik mempersunting kembang desa Rupi’ah seperti membuat geledek siang bolong bagi pemuda-pemuda dan gadis-gadis di Kenduran. Seketika mereka patah hati. Meski hati yang patah itu disimpan jauh-jauh di dalam dada. Sebab, idaman hati mereka sudah dipertemukan dalam jodoh. Jodoh yang sepadan. Jodoh yang sudah pas. Jodoh yang memang sudah dikehendaki Yang Maha Kuasa. Eyang Buyut Haji Abdul Syukur dan Eyang Buyut Haji Abdul Khamid sepakat bebesanan tahun 1929. Tahun yang masih dari hengkangnya bongso walondo dari negeri ini.
Keduanya anak terpandang. Anak orang mampu. Anak-anak yang mendapat cukup perhatian di masa penjajahan. Namun bukan berarti keduanya terus menggatungkan hidup dari kemapanan masing-masing keluarganya. Mukti Mustajab dan Rupi’ah berjibaku sendiri untuk menyambut sejarah baru dalam hidupnya. Sepasang pengantin ini ternyata klop satu sama lain. Sejak kecil, Mukti rajin belajar tani hingga dewasa akhirnya ahli dalam bertani. Mukti juga mempunyai naluri dagang yang jempolan. Sementara Rupi diam-diam tak kalah jempolannya mengurus soal dagangan.
Jadilah mereka pasangan yang sukses ketika itu. Mukti Mustadjab pun akhirnya mampu pergi berhaji. Tidak naik pesawat seperti jaman sekarang, tapi menumpang kapal laut yang baru berbulan-bulan kemudian sampai di tujuan. Berpuluh tahun setelah itu, dalam suasana yang berbeda. Rupi’ah menyusul pergi haji. Tidak lagi naik kapal laut, tapi sudah menumpang pesawat terbang. Mak wessss.. sekejab sudah sampai di Makkah.
Persis sama dengan pendahulunya, Haji Mukti Mustadjab dan Hajah Rupi’ah juga meniti keluarga besar. Tujuh anak dilahirkan dari rahimnya. Yang Mbarep Arifin Rochman kini di Surabaya/Malang, menyusul Supadmi tetap di Kenduruan, lalu Roekmini juga di Kenduruan, kemudian Roestimah menyusul kakang mbarep di Surabaya, berikutnya Moersita juga tinggal di Surabaya, disusul Muji Bekti tinggal di Surabaya, dan yang ragil Muslich tinggal di Malang. Lebih kurang empat puluh hari setelah si ragil lahir ke dunia, peletak generasi ‘Bani Mukti’ wafat. Meninggalkan semuanya, meninggalkan keinginan dan harapan bisa melihat seribu generasinya tumbuh, meninggalkan cita-cita yang masih sepotong membelah hutan Kenduruan. Eyangku, Eyang Haji Mukti Mustadjab mangkat tahun 1948. Dan baru seumur jagung negeri ini merdeka. (Rosyida Prihandini/widi/miswan hadi)

Hikayat Sebuah Biji



“biji ditanam
akan menjadi
tujuh tangkai seratus biji…”
biji ditanam, akan menjadi, tujuh tangkai seratus biji…

Nyuwun sewu, saya lupa bunyi lengkap syair di atas. Tapi penggalan syairnya hapal luar kepala. Benar-benar hapal lho, dan sering merenungkannya. Sedikit mencontek kalimat klise si Thukul Arwana yang sedang ngetop di “Empat Mata” itu, jangan minta saya mencari dimana buku yang memuat syair itu bisa ditemukan, wong bentuk bukunya saja saya tidak tahu dan tidak tidak pernah melihatnya kok. Lha bagaimana pripun bisa menunjukkan.
Pertanyaannya, kalau tidak pernah melihat dan tidak pernah tahu kok sampai bisa hapal luar kepala, kok bisa menghayati? Ya, hanya pernah melihat sebuah pertunjukan teater yang kebetulan mengutip syair itu dalam salah satu dialognya. Atau pernah juga mendengar syair ini digubah menjadi sebuah komposisi lagu Qasidah yang apik, walau juga tak pernah lengkap.
Meski hanya mampu mengingat penggalannya saja, minimal saya agak berani mengatakan siapa pencipta syair itu. Kalau tidak salah, dan mudah-mudahan juga tidak keliru (kalau sampai keliru ini benar-benar memalukan bekas dosen saya di Fakultas Sastra Univ. Airlangga yang kini malah menjadi kakak ipar saya), pencipta syair itu adalah penyair sufi besar dari Timur Tengah yang menamakan dirinya Rabiyyah al Adawiyah.
Syair ini sesungguhnya sudah ada beberapa abad silam. Nah, silamnya kapan.. itu yang saya kurang tahu pasti. Sebab itu, untuk kali ini, saya tidak berani mengatakannya. Maluuuu dong kalau ketahuan salah. Hanya yang jelas, syair ini sebenarnya memuat bait-bait sangat pajang. Mungkin agak-agak mirip dengan syair Raja Ali Haji atau Gurindam Dua Belas. Atau mirip juga dengan pupuh-pupuh Jawa yang sering ditembangkan di Keraton Solo dan Jogja dihadapan seorang raja.
Nyuwun sewu, tulisan ini tidak dimaksudkan dalam rangka mengkaji dunia perpuisian. Saya hanya mencoba untuk merangkai kedalaman makna penggalan syair Rabiyyah al Adawiyah itu dalam konteks Lebaran, Idul Fitri, Mudik Lebaran, Maaf-maafkan, Bertukar Kabar, Berbagi Rezeki, Membuka Kebagiaan, Mengumpulkan ‘Serpihan Balung-balung Terpisah’ Tanpa Sengaja dan Tanpa Disadari, yang dicoba ‘ditradisikan’ oleh sebuah keluarga yang kini menjadi sangattt besarrr dengan tokoh sentral Alm. H. Mukti Mustdjab yang berasal dari sebuah wilayah pinggir utara Kota Tuban bernama Kenduruan.
Dalam konteks Kenduruan dengan tokoh sentral H. Mukti Mustadjab, saya termasuk orang yang percaya pada perjalanan sebuah biji. Persis seperti yang tersurat dalam penggalan syair Rabiyyah al Adawiyah di atas. Jika sebuah biji ditanam (ada juga yang tidak pernah ditanam karena terbang dibawa angin, dibawa kelelawar, dll, namun bisa sempurna seperti biji yang ditanam), maka, ia akan tumbuh tunas. Tunas dalam perjalanan waktunya sendiri, akan menjadi cabang. Cabang yang bakal menjadi banyak dan tak terhitung lagi jumlahnya. Fase lanjutnya, akan tumbuh buah. Nah, pada saatnya kelak, si buah akan kembali ke dunia biji. Jika mongsonya sudah tiba, biji itu akan kembali ke tanah untuk ditanam lagi, dan seterusnya. Sebuah siklus yang ajaib dan menjadi rahasia Illahi.
Nun jauh di Kenduruan, sebuah wilayah kecil yang barangkali tak pernah dicatat dalam sejarah kejayaaan Ronggolawe saat jadi penguasa Tuban, atau sebuah wilayah yang barangkali tak pernah terlihat dan hanya sekadar nylempit di peta bumi Indonesia, yang boleh jadi juga tak pernah terpantau satelit mata-mata NASA milik bangsa Amerika yang tak terlawan itu, Alm. H. Mukti Mustadjab dan Alm. Hj. Rupiah dari jauh-jauh hari dengan hati riang dan berbahagia, dengan doa siang dan malam, sudah “berdendang” syair menanam “biji”. Harapannya; biji ditanam, akan menjadi, tujuh tangkai seratus biji…
Di dunia pertanian, ada konsep alam yang sangat dipahami petani. Begitu menanam biji, tunasnya tumbuh, hasil akhirnya adalah panen. Nah, Mukti Mustadjab dan Rupiah, dengan segala kesederhananya, adalah gambaran “petani” yang sukses. Tak hanya sekadar menanam sebiji, melainkan tujuh biji sekaligus. Bisa dibayangkan ketika biji itu tumbuh dan masing-masing mengembangkan potensi dan jatidirinya. Hasilnya; akar, cabang dan dahannya bersilang-silang merajut daun, menguntai seribu bunga, yang akhirnya menjadi buah. Lalu panen. Panen yang sangat besar.
Selesai? Tentu belum! Kisah menanam biji hingga menjadi tujuh tangkai lalu panen dan kembali lagi menjadi seratus biji, seribu biji, bahkan tak terhingga biji akan terus berlanjut sesuai hukum Illahi. Tidak akan pernah berhenti, kecuali jika memang dikehendaki-Nya untuk berhenti. Mukti Mustadjab dan Rupiah tak mungkin mengawal dan merawat tanamannya secara terus-menerus. Ada masanya. Masa yang berlaku sesuai dengan hukum Illahi. Dan masa itu sudah tiba berpuluh tahun silam. Berarti, selesai pula beliau menunaikan tugasnya.
Kini, Lebaran Syawal 1428 H ini, “hasil panen” tokoh sentral H. Mukti Mustadjab dan Hj. Rupiah kembali berkumpul (baca juga: dikumpulkan). Harusnya ini menjadi momentum istimewa. Kita semua seperti bersama-sama sedang membaca syair ciptaan Rabiyyah al Adawiyah. Bayangkan, tujuh biji yang dulu beliau tanam dengan segenap kesederhanaan dan keprihatinan itu kini sudah menjadi ratusan orang. Generasi pertama, kedua, ketiga, anak, menantu, cucu, dan cicit jika dikumpulkan sudah mencapai angka ratusan. Bukan lagi puluhan. Barangkali sudah cukup rumit jika hanya dihitung dengan jari tangan plus jari kaki ditambah hidung, dua mata, dua telinga, dua alis, atau yang lainnya. Malahan, saat ini, sepertinya sudah diperlukan kalkulator untuk menghitung anak keturunan H. Mukti Mustadjab. Apalagi itu jika 20 tahun mendatang. Begitukah?!Ya, saya nyuwun dukungan agar Lebaran Syawal 1428 H ini dijadikan momentum istimewa. Dimana istimewanya? Minimal sudah ada langkah maju untuk menerbitkan “Kalam Bani Mukti” ini. Warta khusus dan juga edisi khusus. Khusus karena mengerjakannya serba kilat, gedubrak-gedubruk, telpon sana telpon sini, melekan, nggugahi yang sedang sare untuk dimintai pertimbangan, termasuk pemilihan judul edisi khusus ini. Dan, hasil akhirnya seperti ini. Serba terbatas, kurang kaya ide, tidak sempurna, jauh panggang dari api, dll. Tapi syukur tetap bisa terbit/cetak. Minimal amanah para sesepuh pada Lebaran Syawal 1427 H tahun lalu ada yang sudah direalisasikan. Berikutnya tinggal penyempurnaan, ngapiki, ndandani, nambah ide kreatif, nambah rubrikasi, nambah keberagaman tulisan, minta sumbangan tulisan dari masing-masing Keluarga Besar ini yang berangkat dari tujuh biji itu, membuang yang tidak perlu, masukan dan saran dari para sesepuh, dari edisi perdana yang masih anget ini. Siapa tahu, suatu saat, suatu ketika, pada suatu hari, “Kalam Bani Mukti” ini bisa menyaingi tiras Majalah Time Asia ketika memberitakan Soeharto adalah Presiden Indonesia Terkorup Nomor Satu di Dunia. Siapa tahu to. Nyuwun sewu. (widi antoro)