
Sepasang Pengantin Seribu Generasi
Kenduruan tahun 1900. Suram. Itu terjadi dimana-mana. Tak hanya terjadi di Kenduruan. Kehidupan mencekam karena masih bercokolnya bangsa penjajah. Seluruh negeri menderita lapar, miskin, dan dibodohkan. Dan sejarah menorehkannya sebagai periode pahit. Zaman yang teramat susah untuk dilupakan meski sudah datang waktu seabad lamanya.
Disekujur kesuraman zaman itu, disanalah leluhurku pernah hidup. Bertahan sekuat daya agar tidak mati kelaparan. Berusaha sekuat daya untuk menyelamatkan anak keturunannya agar kelak seribu generasi ada yang mampu bertutur tentang moyangnya. Berusaha keras untuk menjadi tidak bodoh meski diterapkan sistem pembodohan oleh penjajah.
Seratus tahun berlalu, zaman pun berganti. Aku punya kerinduan tak terbendung untuk merangkai cerita tentang moyangku. Siapa tahu, rangkaian kisah ini akan berguna kelak untuk seribu generasi. Namun, ternyata, bukan perkara mudah merangkai sebuah cerita yang nampaknya hanya sederhana. Sebab, ketika menyirap berbagai informasi yang terkait dengan Kenduruan, aku hanya mendapat cuilan-cuilan cerita. Tak ada yang mampu merekonstruksi ulang jalinan kisah moyangnya secara komplit.
Beruntunglah aku masih bisa menemukan H. Arifin Rochman. Eyangku sendiri. Satu-satunya orang yang masih mampu mengingat dan bercerita tentang Kenduruan di awal tahun 1900-an. Tidak detail memang, maklum itu rekaman peristiwa yang dimulai sejak seratus tahun silam. Namun itu sudah luar biasa, mampu melengkapi cuilan-cuilan yang selama ini sulit dirangkai ujung dan pangkalnya.
Nah, jika cuilan-cuilan cerita itu digabung dengan rekonstruksi Eyang Rochman, kemudian diimbuhi dengan kata sambung, lalu dibubuhkan kata kerja, dilengkapi dengan kalimat penderita, dan dibumbui dengan sedikit tafsir berikut imajinasi, maka kisah sepasang pengantin seribu generasi itu jadinya akan seperti ini:
Kenduruan awal abad 20 nyaris masih seperti belantara hutan. Belukar masih sambung menyambung hingga Jatirogo, wilayah terdekat. Dan Blora wilayah terdekat yang lain. Sementara Tuban serta Cepu sisi jauh dari wilayah Kenduruan. Tidak banyak jalan untuk menembus masing-masing wilayah itu. Padahal jalan-jalan penting yang menjadi jalur utama distribusi informasi, bahan pangan, dll, di masa penjajahan itu acapkali dikuasai begal, kecu, dan perampok.
Dalam situasi yang serba suram sebagai bangsa terjajah itu, di Kenduruan hidup seorang terpandang bernama Eyang Haji Abdul Khamid. Embah Kaji Khamid, demikian warga menyebutnya, adalah seorang juragan tanah. Sawahnya dimana-dimana. Pekarangannya juga tak beda. Belum lagi terhitung tanah tegalan yang bisa menghasilkan panen kelapa, pohon jati, dll. Dengan keadaan seperti itu pantaslah ia digelari juragan di Kenduruan. Sudah juragan, haji pula. Tabik.
Sang juragan beranak pinak. Enam orang anak dilahirkan dari rahim istrinya. Salah seorang anak itu, yang paling mbarep diberi nama Mukti Mustadjab. Mukti itu kamukten. Sama dengan kemuliaan, kebahagian, ora kurang sandang pangan. Mustadjab itu pengharapan dari sebuah doa. Doa yang diijabah biasanya disebut doa yang mustajab. Khasanahnya, Mukti Mustadjab adalah nak mbarep yang selalu didoakan agar mendapat kamukten untuk selamanya, berikut anak turunnya. Kira-kira begitu ketika Embah Kaji Khamid yang juga orang Jawa tulen itu menggadang-gadang anak lelaki mbarepnya.
Di antara enam saudara itu, hanya Mukti Mustadjab yang mendapat julukan ‘Kaji Cilik’. Ada dua kemungkinan kenapa Mukti cilik dijuluki seperti itu. Pertama karena ia anak juragan yang juga Kaji. Kedua, ia menjadi teladan bagi sebayanya ketika sudah berada di dalam surau saat pelajaran ngaji dimulai. Dua kemungkinan yang dua-duanya bisa dipakai sekaligus.
Kaji Cilik tumbuh pesat menjadi dewasa. Jelas ganteng untuk ukuran saat itu, wong dia lelaki tulen kok. Banyak keluarga berharap anak perempuannya bisa dipersunting si Kaji Cilik yang saat itu sudah tidak cilik lagi. Selain ganteng, ia juga dari kelurga terpandang. Minimal aman bisa bernaung di keluarga seperti ini di zaman penjajahan. Karena jelas tidak bakal kekurangan sandang, pangan, dan boleh jadi papan.
Kaji Cilik yang melekat pada Mukti Mustadjab ternyata bukan hanya sekadar julukan kosong. Ia benar-benar pintar dan cerdik. Tahu kalau banyak yang mengincar dirinya untuk dijadikan mantu dan besanan dengan bapaknya, secara jitu ia segera minta dipersuntingkan dengan seorang kembang desa yang benar-benar pilihan di Kenduruhan saat itu. Nama gadis itu adalah Rupi’ah.
Gadis Rupi’ah ternyata bukan perempuan sembarangan. Selain terkenal jadi kembang desa karena saking cantiknya, Rupi’ah memiliki garis darah paling terpandang di seantero Kenduruhan. Ia putri seorang lurah. Haji Abdul Syukur namanya. Pada masa itu, siapa yang berani main-main dengan putri seorang lurah? Tidak ada! Alhasil banyak pemuda yang hanya berani membatin saja suatu saat bisa mempersunting si Rupi’ah.
Keluarga Haji Abdul Syukur tak jauh berbeda dengan Haji Abdul Khamid. Sama-sama memiliki keluarga besar. Dan yang penting adalah banyak anak. Hanya selisih 3 biji di antara keduanya. Yang satu enam, Haji Abdul Syukur 9. Tampaknya mereka tak begitu sumelang dengan persoalan perekonomian yang diambang batas karena penjajahan. Karena pada dasarnya mereka adalah turunan orang kaya dan ulet berusaha.
Rupiah adalah putri kelima dari sembilan bersaudara. Sembilan orang tersebut tujuh di antaranya adalah perempuan, dan dua orang lainnya lelaki. Tak ada yang bisa mengingat pasti, siapa di antara sembilan bersaudara putra-putri Lurah Kenduruan itu yang menikah duluan. Hanya berdasarkan kebiasaan, berdasarkan unggah-ungguh priyantun Jawi, yang menikah atau dinikahkan duluan adalah nak mbarep. Lainnya baru susul menyusul hingga yang paling buncit.
Kabar mantan Kaji Cilik mempersunting kembang desa Rupi’ah seperti membuat geledek siang bolong bagi pemuda-pemuda dan gadis-gadis di Kenduran. Seketika mereka patah hati. Meski hati yang patah itu disimpan jauh-jauh di dalam dada. Sebab, idaman hati mereka sudah dipertemukan dalam jodoh. Jodoh yang sepadan. Jodoh yang sudah pas. Jodoh yang memang sudah dikehendaki Yang Maha Kuasa. Eyang Buyut Haji Abdul Syukur dan Eyang Buyut Haji Abdul Khamid sepakat bebesanan tahun 1929. Tahun yang masih dari hengkangnya bongso walondo dari negeri ini.
Keduanya anak terpandang. Anak orang mampu. Anak-anak yang mendapat cukup perhatian di masa penjajahan. Namun bukan berarti keduanya terus menggatungkan hidup dari kemapanan masing-masing keluarganya. Mukti Mustajab dan Rupi’ah berjibaku sendiri untuk menyambut sejarah baru dalam hidupnya. Sepasang pengantin ini ternyata klop satu sama lain. Sejak kecil, Mukti rajin belajar tani hingga dewasa akhirnya ahli dalam bertani. Mukti juga mempunyai naluri dagang yang jempolan. Sementara Rupi diam-diam tak kalah jempolannya mengurus soal dagangan.
Jadilah mereka pasangan yang sukses ketika itu. Mukti Mustadjab pun akhirnya mampu pergi berhaji. Tidak naik pesawat seperti jaman sekarang, tapi menumpang kapal laut yang baru berbulan-bulan kemudian sampai di tujuan. Berpuluh tahun setelah itu, dalam suasana yang berbeda. Rupi’ah menyusul pergi haji. Tidak lagi naik kapal laut, tapi sudah menumpang pesawat terbang. Mak wessss.. sekejab sudah sampai di Makkah.
Persis sama dengan pendahulunya, Haji Mukti Mustadjab dan Hajah Rupi’ah juga meniti keluarga besar. Tujuh anak dilahirkan dari rahimnya. Yang Mbarep Arifin Rochman kini di Surabaya/Malang, menyusul Supadmi tetap di Kenduruan, lalu Roekmini juga di Kenduruan, kemudian Roestimah menyusul kakang mbarep di Surabaya, berikutnya Moersita juga tinggal di Surabaya, disusul Muji Bekti tinggal di Surabaya, dan yang ragil Muslich tinggal di Malang. Lebih kurang empat puluh hari setelah si ragil lahir ke dunia, peletak generasi ‘Bani Mukti’ wafat. Meninggalkan semuanya, meninggalkan keinginan dan harapan bisa melihat seribu generasinya tumbuh, meninggalkan cita-cita yang masih sepotong membelah hutan Kenduruan. Eyangku, Eyang Haji Mukti Mustadjab mangkat tahun 1948. Dan baru seumur jagung negeri ini merdeka. (Rosyida Prihandini/widi/miswan hadi)
Kenduruan tahun 1900. Suram. Itu terjadi dimana-mana. Tak hanya terjadi di Kenduruan. Kehidupan mencekam karena masih bercokolnya bangsa penjajah. Seluruh negeri menderita lapar, miskin, dan dibodohkan. Dan sejarah menorehkannya sebagai periode pahit. Zaman yang teramat susah untuk dilupakan meski sudah datang waktu seabad lamanya.
Disekujur kesuraman zaman itu, disanalah leluhurku pernah hidup. Bertahan sekuat daya agar tidak mati kelaparan. Berusaha sekuat daya untuk menyelamatkan anak keturunannya agar kelak seribu generasi ada yang mampu bertutur tentang moyangnya. Berusaha keras untuk menjadi tidak bodoh meski diterapkan sistem pembodohan oleh penjajah.
Seratus tahun berlalu, zaman pun berganti. Aku punya kerinduan tak terbendung untuk merangkai cerita tentang moyangku. Siapa tahu, rangkaian kisah ini akan berguna kelak untuk seribu generasi. Namun, ternyata, bukan perkara mudah merangkai sebuah cerita yang nampaknya hanya sederhana. Sebab, ketika menyirap berbagai informasi yang terkait dengan Kenduruan, aku hanya mendapat cuilan-cuilan cerita. Tak ada yang mampu merekonstruksi ulang jalinan kisah moyangnya secara komplit.
Beruntunglah aku masih bisa menemukan H. Arifin Rochman. Eyangku sendiri. Satu-satunya orang yang masih mampu mengingat dan bercerita tentang Kenduruan di awal tahun 1900-an. Tidak detail memang, maklum itu rekaman peristiwa yang dimulai sejak seratus tahun silam. Namun itu sudah luar biasa, mampu melengkapi cuilan-cuilan yang selama ini sulit dirangkai ujung dan pangkalnya.
Nah, jika cuilan-cuilan cerita itu digabung dengan rekonstruksi Eyang Rochman, kemudian diimbuhi dengan kata sambung, lalu dibubuhkan kata kerja, dilengkapi dengan kalimat penderita, dan dibumbui dengan sedikit tafsir berikut imajinasi, maka kisah sepasang pengantin seribu generasi itu jadinya akan seperti ini:
Kenduruan awal abad 20 nyaris masih seperti belantara hutan. Belukar masih sambung menyambung hingga Jatirogo, wilayah terdekat. Dan Blora wilayah terdekat yang lain. Sementara Tuban serta Cepu sisi jauh dari wilayah Kenduruan. Tidak banyak jalan untuk menembus masing-masing wilayah itu. Padahal jalan-jalan penting yang menjadi jalur utama distribusi informasi, bahan pangan, dll, di masa penjajahan itu acapkali dikuasai begal, kecu, dan perampok.
Dalam situasi yang serba suram sebagai bangsa terjajah itu, di Kenduruan hidup seorang terpandang bernama Eyang Haji Abdul Khamid. Embah Kaji Khamid, demikian warga menyebutnya, adalah seorang juragan tanah. Sawahnya dimana-dimana. Pekarangannya juga tak beda. Belum lagi terhitung tanah tegalan yang bisa menghasilkan panen kelapa, pohon jati, dll. Dengan keadaan seperti itu pantaslah ia digelari juragan di Kenduruan. Sudah juragan, haji pula. Tabik.
Sang juragan beranak pinak. Enam orang anak dilahirkan dari rahim istrinya. Salah seorang anak itu, yang paling mbarep diberi nama Mukti Mustadjab. Mukti itu kamukten. Sama dengan kemuliaan, kebahagian, ora kurang sandang pangan. Mustadjab itu pengharapan dari sebuah doa. Doa yang diijabah biasanya disebut doa yang mustajab. Khasanahnya, Mukti Mustadjab adalah nak mbarep yang selalu didoakan agar mendapat kamukten untuk selamanya, berikut anak turunnya. Kira-kira begitu ketika Embah Kaji Khamid yang juga orang Jawa tulen itu menggadang-gadang anak lelaki mbarepnya.
Di antara enam saudara itu, hanya Mukti Mustadjab yang mendapat julukan ‘Kaji Cilik’. Ada dua kemungkinan kenapa Mukti cilik dijuluki seperti itu. Pertama karena ia anak juragan yang juga Kaji. Kedua, ia menjadi teladan bagi sebayanya ketika sudah berada di dalam surau saat pelajaran ngaji dimulai. Dua kemungkinan yang dua-duanya bisa dipakai sekaligus.
Kaji Cilik tumbuh pesat menjadi dewasa. Jelas ganteng untuk ukuran saat itu, wong dia lelaki tulen kok. Banyak keluarga berharap anak perempuannya bisa dipersunting si Kaji Cilik yang saat itu sudah tidak cilik lagi. Selain ganteng, ia juga dari kelurga terpandang. Minimal aman bisa bernaung di keluarga seperti ini di zaman penjajahan. Karena jelas tidak bakal kekurangan sandang, pangan, dan boleh jadi papan.
Kaji Cilik yang melekat pada Mukti Mustadjab ternyata bukan hanya sekadar julukan kosong. Ia benar-benar pintar dan cerdik. Tahu kalau banyak yang mengincar dirinya untuk dijadikan mantu dan besanan dengan bapaknya, secara jitu ia segera minta dipersuntingkan dengan seorang kembang desa yang benar-benar pilihan di Kenduruhan saat itu. Nama gadis itu adalah Rupi’ah.
Gadis Rupi’ah ternyata bukan perempuan sembarangan. Selain terkenal jadi kembang desa karena saking cantiknya, Rupi’ah memiliki garis darah paling terpandang di seantero Kenduruhan. Ia putri seorang lurah. Haji Abdul Syukur namanya. Pada masa itu, siapa yang berani main-main dengan putri seorang lurah? Tidak ada! Alhasil banyak pemuda yang hanya berani membatin saja suatu saat bisa mempersunting si Rupi’ah.
Keluarga Haji Abdul Syukur tak jauh berbeda dengan Haji Abdul Khamid. Sama-sama memiliki keluarga besar. Dan yang penting adalah banyak anak. Hanya selisih 3 biji di antara keduanya. Yang satu enam, Haji Abdul Syukur 9. Tampaknya mereka tak begitu sumelang dengan persoalan perekonomian yang diambang batas karena penjajahan. Karena pada dasarnya mereka adalah turunan orang kaya dan ulet berusaha.
Rupiah adalah putri kelima dari sembilan bersaudara. Sembilan orang tersebut tujuh di antaranya adalah perempuan, dan dua orang lainnya lelaki. Tak ada yang bisa mengingat pasti, siapa di antara sembilan bersaudara putra-putri Lurah Kenduruan itu yang menikah duluan. Hanya berdasarkan kebiasaan, berdasarkan unggah-ungguh priyantun Jawi, yang menikah atau dinikahkan duluan adalah nak mbarep. Lainnya baru susul menyusul hingga yang paling buncit.
Kabar mantan Kaji Cilik mempersunting kembang desa Rupi’ah seperti membuat geledek siang bolong bagi pemuda-pemuda dan gadis-gadis di Kenduran. Seketika mereka patah hati. Meski hati yang patah itu disimpan jauh-jauh di dalam dada. Sebab, idaman hati mereka sudah dipertemukan dalam jodoh. Jodoh yang sepadan. Jodoh yang sudah pas. Jodoh yang memang sudah dikehendaki Yang Maha Kuasa. Eyang Buyut Haji Abdul Syukur dan Eyang Buyut Haji Abdul Khamid sepakat bebesanan tahun 1929. Tahun yang masih dari hengkangnya bongso walondo dari negeri ini.
Keduanya anak terpandang. Anak orang mampu. Anak-anak yang mendapat cukup perhatian di masa penjajahan. Namun bukan berarti keduanya terus menggatungkan hidup dari kemapanan masing-masing keluarganya. Mukti Mustajab dan Rupi’ah berjibaku sendiri untuk menyambut sejarah baru dalam hidupnya. Sepasang pengantin ini ternyata klop satu sama lain. Sejak kecil, Mukti rajin belajar tani hingga dewasa akhirnya ahli dalam bertani. Mukti juga mempunyai naluri dagang yang jempolan. Sementara Rupi diam-diam tak kalah jempolannya mengurus soal dagangan.
Jadilah mereka pasangan yang sukses ketika itu. Mukti Mustadjab pun akhirnya mampu pergi berhaji. Tidak naik pesawat seperti jaman sekarang, tapi menumpang kapal laut yang baru berbulan-bulan kemudian sampai di tujuan. Berpuluh tahun setelah itu, dalam suasana yang berbeda. Rupi’ah menyusul pergi haji. Tidak lagi naik kapal laut, tapi sudah menumpang pesawat terbang. Mak wessss.. sekejab sudah sampai di Makkah.
Persis sama dengan pendahulunya, Haji Mukti Mustadjab dan Hajah Rupi’ah juga meniti keluarga besar. Tujuh anak dilahirkan dari rahimnya. Yang Mbarep Arifin Rochman kini di Surabaya/Malang, menyusul Supadmi tetap di Kenduruan, lalu Roekmini juga di Kenduruan, kemudian Roestimah menyusul kakang mbarep di Surabaya, berikutnya Moersita juga tinggal di Surabaya, disusul Muji Bekti tinggal di Surabaya, dan yang ragil Muslich tinggal di Malang. Lebih kurang empat puluh hari setelah si ragil lahir ke dunia, peletak generasi ‘Bani Mukti’ wafat. Meninggalkan semuanya, meninggalkan keinginan dan harapan bisa melihat seribu generasinya tumbuh, meninggalkan cita-cita yang masih sepotong membelah hutan Kenduruan. Eyangku, Eyang Haji Mukti Mustadjab mangkat tahun 1948. Dan baru seumur jagung negeri ini merdeka. (Rosyida Prihandini/widi/miswan hadi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar