09 Oktober 2007

Berjibaku Karena Hanya Punya Ibu



Haji Mukti Mustadjab yang karena kesungguhannya memaknai hidup dan kehidupan dalam perspektif ibadah mampu menumbuhkan generasi yang siap berkontribusi memberikan jawaban atas tantangan pada jamannya. Secara fisik generasi yang telah berhasil mereka kembangkan dalam kurun waktu sejak beliau berdua menikah tahun 1929 sampai dengan tahun 2007 jumlah anggota keluarga menjadi 102 orang . Berikut penuturan sesepuh dari generasi pertama, H. Arifin Rochman kepada Rosyida dari “Kalam Bani Mukti” setelah sang peletak dasar seribu generasi itu pergi.

Pada saat Eyang Mukti Mustadjab meninggal, Eyang Rochman kan masih kecil, apa peristiwa tersebut tidak menjadikan putus harapan ?
Eyang Mustajab meninggal tahun 1948. Saat itu eyang Rohman masih kelas 3 Taman Dewasa (setingkat SMP) di Cepu. Bahkan pada saat jenazah dimakamkan, eyang baru datang. Ketika itu yang dikeluhkan adalah bagaimana harus melanjutkan sekolah. Untuk ukuran anak yang belum lulus SMP pertanyaan ini sangat wajar. Sosok ayah yang menjadi penopang biaya sekolahnya harus meninggalkan mereka untuk selamanya. Belum lagi enam adik-adik masih kecil, bahkan Eyang Muslich masih bayi saat itu. Pada saat itulah Kiai Zuhdi, teman Haji Mukti menasehati, bahwa Allah Maha Murah dan kaya. Asal engkau sungguh-sungguh berusaha dan berdoa pasti akan diberikan.

Bagaimana ceritanya sampai keluarga ini banyak yang keluar dari kenduruan?
Pada tahun 1945 masuk SMP di Tuban, baru berjalan setengah tahun proklamasi kemerdekaan di proklamirkan. Maka sekolah dibubarkan. Eyang pulang ke Kenduruan, maksud hati ingin meneruskan ke Taman Dewasa Cepu namun eyang Mustajab tidak mengijinkan karena akan dimasukkan pondok pesantren. Akhirnya Eyang Mustajab mengijinkan Eyang Rohman untuk masuk sekolah di Taman Siswa tingkat Taman Dewasa, setingkat SMP di Cepu.
Setelah keluar dari sekolah Taman Dewasa tahun 1948, terjadi pemberontakan PKI, sehingga semua penduduk mengungsi di hutan. Setelah pemberontakan reda dan kondisi aman kembali eyang ikut paman bernama Muhamad berdagang hasil pertanian khususnya cabe dari Kenduruan ke Jepon, Blora. Transportasi antara Kenduruan-Jepon yang berjarak sekitar 25 Km itu ditempuh dengan jalan kaki. Dari kenduruan membawa hasil pertanian khususnya cabe untuk dijual di Jepon, sedangkan hasil penjualan dibelikan kain di Jepon untuk dijual di Kenduruan.

Sambil sekolah?
Iya. Atas anjuran Eyang Warsito yang saat itu sudah menjadi guru, Eyang masuk ke Mobilisan Pelajar (Mopel) sampai diasramakan di Jatirogo. Setelah berhasil mengikuti latihan tertentu akhirnya diasramakan di Tuban. Bersama teman-teman Mopel Eyang memperoleh kesempatan untuk dapat melajutkan sekolah di SMA Front Nasional di Surabaya. Pada saat itu Eyang mohon ijin kepada Eyang Rupi untuk melanjutkan ke Surabaya. Eyang Rupi mengijinkan, namun karena tidak memiliki biaya, Eyang Rupi hanya bisa memberikan bekal berupa dinar emas oleh-oleh dari Eyang Mustajab pada saat menunaikan haji.

Pasti saat itu tantangannya berat Eyang?
Sudah pasti sangat berat. Hanya tekad baja saja yang bisa membuat semuanya seperti serba mudah. Dengan berbekal tadi, Eyang berangkat ke Surabaya, bersama teman Mopel. Disana ditampung di rumah saudara teman Mopel di Jl. Tembok Dukuh Gang 6. Sekolah SMA Front Nasional berada di Jl. Kepanjen yang sekarang menjadi SMPN 2. Setelah berjalannya waktu, rumah di Tembok Dukuh sudah tidak nampung lagi, kemudian Eyang pindah pemondokan di Jojoran. Karena kondisi di SMA Front Nasional kurang kondusif, akhirnya pindah ke SMA Belanda (VHO). Jarak tempuh dari Jojoran ke sekolah makin jauh. Untuk itu membutuhkan sarana transportasi berupa sepeda angin. Eyang pulang ke Tuban dan atas izin Eyang Rupi akhirnya menjual kerbau untuk beli sepeda.

Setelah itu apa yang terjadi Eyang?
Selepas dari SMA di Surabaya, Eyang diangkat menjadi guru di Bojonegoro. Setelah jadi guru Eyang harus memikirkan adik-adik. Karena ini sudah menjadi amanat dan kewajiban. Dari Bojonegoro Eyang memasukkan Eyang Roes ke SMP Tuban. Dari Tuban Eyang Roes saya dipindahkan lagi ke Bojonegoro dan dipondokkan di belakang sekolah guru. Setelah lulus SMP Bojonegoro, Eyang Roes melanjutkan ke Sekolah Guru Atas (SGA) di Surabaya. Tapi bersamaan dengan itu Eyang di pindahkan ke Kediri. Meski sudah di Kediri Eyang harus tetap memikirkan Eyang Mur yang sekolah di SMP Tuban. Untuk mempermudah pengawasan, Eyang kemudian memindahkan sekolahnya dari Tuban ke Kediri. Lulus SMP di Kediri, kemudian Eyang Mur masuk sekolah Bidan di Surabaya. Begitu juga dengan Eyang Muji, selepas dari SMAN 6 Surabaya Eyang dukung hingga kuliah di IKIP Surabaya sampai Sarjana Muda. Lalu yang Eyang Muslich, setelah lulus di SMPN 1 Pacar kemudian Eyang tarik ke Surabaya dan sekolah di SMAN 2 komplek di Surabaya. Kemudian bisa kuliah di Unibraw Malang dan akhirnya menempuh S2 dan S3 di Philipine, Malaysia dan Australia.

Bagaimana cara Eyang Rupi’ah yang hanya seorang janda dapat membiayai sekolah ketujuh anaknya ?
Justru karena menyadari hanya seorang janda dan hanya mengandalkan hasil pertanian, kami punya komitmen untuk menerapkan kesatuan dan kebersamaan. Kami berusaha mengoptimalkan pengelolaan asset lahan pertanian yang terbatas didukung dengan kesatuan niat untuk kepentingan bersama. Bahwa diantara kami tidak pernah menuntut hak dari masing-masing terhadap asset Semua mencari uang sendiri-sendiri karena kemurahan dari Allah dengan mau prihatin dan tahan banting, Allah pasti membantu. Dalam prakteknya memang dilakukan pembagian tugas. Eyang Mini dengan Eyang Mus yang ahli dibidang pertanian dan perdagangan bertugas mengelola asset keluarga di Kenduruan secara produktif dan hasilnya dipergunakan untuk membantu pembiayaan pendidikan adik-adiknya. Sedangkan Eyang Rochman bertugas mencarikan sekolah, mengarahkan, membimbing, mengawasi dan membantu pembiayaan pendidikan mereka.

Apa yang menjadi kata kunci, sehingga Eyang Rupi’ah bisa berhasil membesarkan putra-putranya ?
Tumbuhkan semangat kerja yang tinggi, sedia bersusah-susah untuk meraih yang lebih tinggi, kembangkan silaturahmi dan setia kawan, keimanan yang kuat dan akhirnya seimbangkan antara ikhtiar dan doa. (Rosyida)

1 komentar:

HAMIL SEJAHTERA mengatakan...

Cerita keluarga besar Mukti Mustajab memang mengesankan.

Melihat kondisi riil masyarakat di Kenduruan sangat jauh berbeda dengan semangat, kegigihan dan kerja keras keluarga besar Anda.

Senang rasanya kalau Bapak/ Ibu dan Saudara/i berkanan memberikan motivasi bagi putra-putri Kenduruan untuk punya cita-cita dan semanagat.

Saya orang dari luar Kenduruan namun kebetulan mendapat amanah bekerja jadi dokter di Kenduruan, besar harapan kami mendapatkan sumbangan saran guna pembangunan masyarakat Kenduruan khususnya di bidang kesehatan.

Saya juga baru membuat Blog dengan alamat :
http://pkmkenduruan.blogspot.com