Bertemu mbah. Bertemu pakde. Bertemu budhe. Bertemu paklek. Bertemu bulek. Ponakan-ponakan. Sepupu-sepupu. Misan. Dll. Asyiknya bukan main.
Bagaimana rasa batin yang seperti ini diuraikan kata-kata? Bisakah? Bagi Didik Ali Mukti Hidayat, dan mungkin juga generasi Kenduruan yang lain, menguraikan yang seperti ini bukanlah pekerjaan mudah. Malah merupakan pekerjaaan yang luar biasa sulit yang tidak cukup dipikirkan tujuh hari tujuh malam. Kenapa, karena kita tidak terbiasa mengasah rasa menjadi kata-kata.
Gagasan dari Pakde Wan, dan juga semuanya, untuk terus menyambung silaturahim meskipun MBAH KAJI sudah tiada, mungkin salah satunya karena beliau sangat sadar sekali tentang “Efek domino” dari silaturahim itu sendiri.
Jauh menengok kebelakang, pada abad Ke-7, Muhammad SAW yang juga seorang "Pengusaha Tulen" itu sudah menekankan betapa pentingnya Silaturahim dalam rangka mengetahui Costumer Insight dengan menggunakan silaturahim sebagai salah satu seni dalam berdagang, yang tentu saja secara tidak langsung akan menaikkan omzet perdagangan.
Saat itu si Pengusaha Tulen tersebut yakin bahwa Silaturahim memiliki arti dan pengertian yang jauh lebih dalam ketimbang hanya sebatas hubungan bisnis saja. Hingga akhirnya Pengusaha Tulen ini menemukan suatu key bahwa dengan siltaurahim ia dapat membangun networking yang tanpa batas.
Siapa yang menduga seorang pengusaha tulen bisa menjadi seorang “Pemimpin Dunia” yang namanya terus berkibar hingga kini bahkan hingga akhir jaman kelak. Pengusaha Tulen ini sangat sadar sangat bahwa dengan “Silaturahim” beliau bisa menyebarkan agama, bisa berdagang, menyambung tali persaudaraan, menyatukan Sesutu yang terurai menjadi yang utuh, yang rusak menjadi baik bahkan menjadikan “Musuh” menjadi “Sahabat Sejati”. Efek Domino Silaturahim inilah yang akhirnya merubah seorang pengusaha tulen hingga akhirnya menjadi pemimpin dunia yang membawa suatu perubahan yang sangat cukup DASYAT di dunia ini…..
Lantas?
”sudahkah kita biasakan silaturahim di antara kita?
ya meskipun tidak bisa tiap minggu.. ya tiap bulan..
or tiap tahun.. or mungkin tiap 2 tahunan.”
Mohon maaf sebelumnya. Terkait dengan gagasan itu, saya pribadi cukup sulit mempraktekkannya. Contoh yang paling sederhana, saya juga jarang berkunjung ke rumah Pakde Wan, walau jaraknya bisa ditempuh kurang dari
Mohon maaf sebelumnya, mungkin ini bisa jadi bahan obrolan, bahan diskusi, bahan instropeksi, bahan apa saja agar tali-temali yang sudah diikat Mbah Kaji tak lepas, tak putus ditengah jalan. (*)
--Rifqi,Rifqa--
3 komentar:
om,,, aku mau posting,,,, ngirim ke mana?
dari kenduruan juga Pak
Kalau ingin bisnis Pulsa Elektrik Silahkan mampir disni
Transaksi 24 Jam
Gak ada Target Penjualan
Min Deposit 100.000
ada Web Report
S5 5250, S10 10050, AS5 5250, AS10 100100, M10 9750
Kunjungi http://ecelltronik.co.cc
bisnis pulsa tanpa minimal deposit
http://analisisdata.co.cc
Posting Komentar