
“biji ditanam
akan menjadi
tujuh tangkai seratus biji…”
biji ditanam, akan menjadi, tujuh tangkai seratus biji…
Nyuwun sewu, saya lupa bunyi lengkap syair di atas. Tapi penggalan syairnya hapal luar kepala. Benar-benar hapal lho, dan sering merenungkannya. Sedikit mencontek kalimat klise si Thukul Arwana yang sedang ngetop di “Empat Mata” itu, jangan minta saya mencari dimana buku yang memuat syair itu bisa ditemukan, wong bentuk bukunya saja saya tidak tahu dan tidak tidak pernah melihatnya kok. Lha bagaimana pripun bisa menunjukkan.
Pertanyaannya, kalau tidak pernah melihat dan tidak pernah tahu kok sampai bisa hapal luar kepala, kok bisa menghayati? Ya, hanya pernah melihat sebuah pertunjukan teater yang kebetulan mengutip syair itu dalam salah satu dialognya. Atau pernah juga mendengar syair ini digubah menjadi sebuah komposisi lagu Qasidah yang apik, walau juga tak pernah lengkap.
Meski hanya mampu mengingat penggalannya saja, minimal saya agak berani mengatakan siapa pencipta syair itu. Kalau tidak salah, dan mudah-mudahan juga tidak keliru (kalau sampai keliru ini benar-benar memalukan bekas dosen saya di Fakultas Sastra Univ. Airlangga yang kini malah menjadi kakak ipar saya), pencipta syair itu adalah penyair sufi besar dari Timur Tengah yang menamakan dirinya Rabiyyah al Adawiyah.
Syair ini sesungguhnya sudah ada beberapa abad silam. Nah, silamnya kapan.. itu yang saya kurang tahu pasti. Sebab itu, untuk kali ini, saya tidak berani mengatakannya. Maluuuu dong kalau ketahuan salah. Hanya yang jelas, syair ini sebenarnya memuat bait-bait sangat pajang. Mungkin agak-agak mirip dengan syair Raja Ali Haji atau Gurindam Dua Belas. Atau mirip juga dengan pupuh-pupuh Jawa yang sering ditembangkan di Keraton Solo dan Jogja dihadapan seorang raja.
Nyuwun sewu, tulisan ini tidak dimaksudkan dalam rangka mengkaji dunia perpuisian. Saya hanya mencoba untuk merangkai kedalaman makna penggalan syair Rabiyyah al Adawiyah itu dalam konteks Lebaran, Idul Fitri, Mudik Lebaran, Maaf-maafkan, Bertukar Kabar, Berbagi Rezeki, Membuka Kebagiaan, Mengumpulkan ‘Serpihan Balung-balung Terpisah’ Tanpa Sengaja dan Tanpa Disadari, yang dicoba ‘ditradisikan’ oleh sebuah keluarga yang kini menjadi sangattt besarrr dengan tokoh sentral Alm. H. Mukti Mustdjab yang berasal dari sebuah wilayah pinggir utara Kota Tuban bernama Kenduruan.
Dalam konteks Kenduruan dengan tokoh sentral H. Mukti Mustadjab, saya termasuk orang yang percaya pada perjalanan sebuah biji. Persis seperti yang tersurat dalam penggalan syair Rabiyyah al Adawiyah di atas. Jika sebuah biji ditanam (ada juga yang tidak pernah ditanam karena terbang dibawa angin, dibawa kelelawar, dll, namun bisa sempurna seperti biji yang ditanam), maka, ia akan tumbuh tunas. Tunas dalam perjalanan waktunya sendiri, akan menjadi cabang. Cabang yang bakal menjadi banyak dan tak terhitung lagi jumlahnya. Fase lanjutnya, akan tumbuh buah. Nah, pada saatnya kelak, si buah akan kembali ke dunia biji. Jika mongsonya sudah tiba, biji itu akan kembali ke tanah untuk ditanam lagi, dan seterusnya. Sebuah siklus yang ajaib dan menjadi rahasia Illahi.
Nun jauh di Kenduruan, sebuah wilayah kecil yang barangkali tak pernah dicatat dalam sejarah kejayaaan Ronggolawe saat jadi penguasa Tuban, atau sebuah wilayah yang barangkali tak pernah terlihat dan hanya sekadar nylempit di peta bumi Indonesia, yang boleh jadi juga tak pernah terpantau satelit mata-mata NASA milik bangsa Amerika yang tak terlawan itu, Alm. H. Mukti Mustadjab dan Alm. Hj. Rupiah dari jauh-jauh hari dengan hati riang dan berbahagia, dengan doa siang dan malam, sudah “berdendang” syair menanam “biji”. Harapannya; biji ditanam, akan menjadi, tujuh tangkai seratus biji…
Di dunia pertanian, ada konsep alam yang sangat dipahami petani. Begitu menanam biji, tunasnya tumbuh, hasil akhirnya adalah panen. Nah, Mukti Mustadjab dan Rupiah, dengan segala kesederhananya, adalah gambaran “petani” yang sukses. Tak hanya sekadar menanam sebiji, melainkan tujuh biji sekaligus. Bisa dibayangkan ketika biji itu tumbuh dan masing-masing mengembangkan potensi dan jatidirinya. Hasilnya; akar, cabang dan dahannya bersilang-silang merajut daun, menguntai seribu bunga, yang akhirnya menjadi buah. Lalu panen. Panen yang sangat besar.
Selesai? Tentu belum! Kisah menanam biji hingga menjadi tujuh tangkai lalu panen dan kembali lagi menjadi seratus biji, seribu biji, bahkan tak terhingga biji akan terus berlanjut sesuai hukum Illahi. Tidak akan pernah berhenti, kecuali jika memang dikehendaki-Nya untuk berhenti. Mukti Mustadjab dan Rupiah tak mungkin mengawal dan merawat tanamannya secara terus-menerus. Ada masanya. Masa yang berlaku sesuai dengan hukum Illahi. Dan masa itu sudah tiba berpuluh tahun silam. Berarti, selesai pula beliau menunaikan tugasnya.
Kini, Lebaran Syawal 1428 H ini, “hasil panen” tokoh sentral H. Mukti Mustadjab dan Hj. Rupiah kembali berkumpul (baca juga: dikumpulkan). Harusnya ini menjadi momentum istimewa. Kita semua seperti bersama-sama sedang membaca syair ciptaan Rabiyyah al Adawiyah. Bayangkan, tujuh biji yang dulu beliau tanam dengan segenap kesederhanaan dan keprihatinan itu kini sudah menjadi ratusan orang. Generasi pertama, kedua, ketiga, anak, menantu, cucu, dan cicit jika dikumpulkan sudah mencapai angka ratusan. Bukan lagi puluhan. Barangkali sudah cukup rumit jika hanya dihitung dengan jari tangan plus jari kaki ditambah hidung, dua mata, dua telinga, dua alis, atau yang lainnya. Malahan, saat ini, sepertinya sudah diperlukan kalkulator untuk menghitung anak keturunan H. Mukti Mustadjab. Apalagi itu jika 20 tahun mendatang. Begitukah?!Ya, saya nyuwun dukungan agar Lebaran Syawal 1428 H ini dijadikan momentum istimewa. Dimana istimewanya? Minimal sudah ada langkah maju untuk menerbitkan “Kalam Bani Mukti” ini. Warta khusus dan juga edisi khusus. Khusus karena mengerjakannya serba kilat, gedubrak-gedubruk, telpon sana telpon sini, melekan, nggugahi yang sedang sare untuk dimintai pertimbangan, termasuk pemilihan judul edisi khusus ini. Dan, hasil akhirnya seperti ini. Serba terbatas, kurang kaya ide, tidak sempurna, jauh panggang dari api, dll. Tapi syukur tetap bisa terbit/cetak. Minimal amanah para sesepuh pada Lebaran Syawal 1427 H tahun lalu ada yang sudah direalisasikan. Berikutnya tinggal penyempurnaan, ngapiki, ndandani, nambah ide kreatif, nambah rubrikasi, nambah keberagaman tulisan, minta sumbangan tulisan dari masing-masing Keluarga Besar ini yang berangkat dari tujuh biji itu, membuang yang tidak perlu, masukan dan saran dari para sesepuh, dari edisi perdana yang masih anget ini. Siapa tahu, suatu saat, suatu ketika, pada suatu hari, “Kalam Bani Mukti” ini bisa menyaingi tiras Majalah Time Asia ketika memberitakan Soeharto adalah Presiden Indonesia Terkorup Nomor Satu di Dunia. Siapa tahu to. Nyuwun sewu. (widi antoro)
3 komentar:
hhhh.... kenduruan,
always leaves a little trace in the corner of my brain
prim... kok kamu pake nama bakul seh???
iyalah om namanya juga mbak primi...always be bakul hehehhehehe.......niru budhe ida tuh om...(rif-bersaudara)
Posting Komentar