08 Agustus 2013

BANI MOEKTI sampai KAPAN..??????? -- by Miswan Hadi

Bani Mukti adalah sebuah nama dari keluarga sepasang suami isteri petani kecil bersahaja H Mukti Mustadjab dan Hj Rupiah yang menikah sekitar tahun 1939. Keluarga ini berasal dari desa Kenduruan kabupaten Tuban, pada masa itu desa Kenduruan termasuk desa kering dan minus, sehingga penduduknya menyandang berbagai keterbatasan. Kondisi yang demikian, berimplikasi pada beban bagi orang tua untuk bisa membuat kelayakan hidup bagi keluraganya yang semakin berat, termasuk keluarga H Mukti Mustajab yang menanggung 7 orang anak putra dan purti. Beban itu semakin terasa berat oleh Ibu Hj Rupiah yang ditinggal wafat suaminya pada saat anak-anaknya masih kecil, bahkan anak terkecil nomor tujuh masih bayi saat itu. Berkat doa tulus sang ibu ditunjang dengan kemauan kerja keras putra-putrinya kemudian setapak demi setapak keluarga ini terus berkembang, dan dari 7 orang anak tersebut sampai dengan tahun 2013 berkembang menjadi 114 orang, dan 42 orang diantaranya berhasil menyelesaikan pendidikan tingkat sarjana dari berbagai disiplin ilmu, yang antara lain meliputi 3 orang Profesor Doktor, 4 orang Doktor, 13 orang master dan 22 orang sarjana.


Keluarga ini berkembang menjadi besar karena dari awal oleh pendahulunya selalu ditumbuhkan rasa kebersamaan, tenggangrasa, saling mengasihi, saling menyayangi, saling memotivasi, saling membantu baik dalam suka maupun duka, saling memberdayakan, dan yang sangat mengesankan adalah selalu bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah dalam bentuk apapun. Sesepuh Bani Mukti pernah berpesan bahwa salah satu cara bersyukur antara lain adalah dengan selalu mengingat asal-usul kita yang berawal dari serba keterbatasan, kalau sekarang berkembang menjadi serba kecukupan itu tidak lain karena campurtangan Allah yang maha rohman dan rohim, tidak semata-mata kepintaran otak kita. Apa yang beliau sampaikan tidak hanya berhenti pada ucapan petuah, tetapi secara nyata beliau contohkan dalam membina keluarga besar ini. Hal-hal praktis dalam bentuk tauladan itulah yang kemudian menjadi pengokoh ikatan kekeluargaan, sehingga sampai saat ini tetap membekas dalam benak kita sebagai warisan berharga yang semestinya terus kita lestarikan.
Tantangan dan otokritikKokohnya ikatan kekeluargaan yang menjadi kebanggaan keluarga ini sangat terasa pada generasi satu dan kedua. Eratnya kekeluargaan pada generasi satu, memang sudah seharusnya kerena mereka masih saudara kandung, kemudian turun pada generasi kedua kekerabatan itu masih terasa cukup erat karena ayah dan ibu mereka mencontohkan selalu berkomunikasi secara baik dengan saudaranya. Selain itu kekerabatan juga diperkuat dengan seringnya interaksi secara langsung diantara mereka, baik dalam even khusus maupun urusan keseharian. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana dengan generasi ketiga, keempat dan selanjutnya, masih bisakah mereka melestarikan kebersamaan dalam ikatan kekeluargaan seperti yang sudah dirintis para pendahulunya????
Perkembangan dalam keluarga Bani Mukti sampai saat ini sudah melahirkan generasi keempat [generasi kesatu (G1): anak, generasi kedua (G2): cucu, generasi ketiga (G3): buyut dan generasi keempat (G4): canggah], tentu masing-masing dihadapkan pada tantangan yang berbeda sesuai dengan masanya. Seiring berjalannya waktu, kekokohan ikatan kekeluargaan akan diuji, masihkah mampu menyatukan rasa kesetiakawanan dalam menghadapi problematika kehidupan diantara sesama anggota keluarga yang semakin melebar.
Meski urusan komunikasi tidak menjadi masalah pada generasi ketiga, tetapi komunikasi hanya mengandalkan perangkat teknologi mempunyai kelemahan dibanding dengan komunikasi yang diselenggarakan secara tatapmuka. Kekuatan ikatan kekeluargaan pada generasi 2 kalau di telusuri sebetulnya berawal dari situasi dan kondisi bahwa mereka pernah disatukan atau dikumpulkan dalam waktu yang relatif panjang sehingga diantara mereka saling mengenal karakter dari masing-masing saudara.  Interaqksi yang inten dan dalam waktu panjang membuat mereka pernah merasa senansib seperjuangan, itulah kemudian yang membentuk ikatan emosional diantara mereka.
Menginjak pada generasi ketiga tautan kekeluargaan terasa tidak seerat generasi kedua, kerenggangan ikatan kekerabatan ini antara lain dapat diukur dari tingkat keakraban diantara mereka yang lintas kakek/nenek. Mengapa demikian?  Iya, mereka sangat jarang bisa berinteraksi secara langsung, karena jarak tempat tinggal dan kesibukan orang tua yang mengakibatkan frekuensi ketemu secara fisik sangat jarang dan kalau bertemupun waktunya sangat singkat, kondisi demikian tidak memungkinkan mereka dapat saling mengenal karakter masing-masing saudaranya yang lintas kakek/nenek.
Komunikasi merupakan bagian penting dari upaya mempertahankan tautan kekeluargaan. Saat ini kemajuan teknologi sangat memudahkan komunikasi karena media komunikasi tersedia cukup banyak dan canggih. Anggota keluarga Bani Mukti sangat menyadari akan hal ini, dan memnafaatkan sebagai media komunikasi untuk saling tukar informasi, kuantitas komunikasi semakin besar karena setiap saat dapat saling berbagi informasi terkini tentang masing-masing anggota. Kondisi seperti ini memang menjadi kelebihan dalam berkomunikasi untuk era sekarang, bagi kita generasi kedua yang telah terbangun hubungan  emosional, hadirnya media komunikasi ini sungguh sangat membantu untuk menyambung komunikasi yang sempat tertatih akibat jarak tinggal dan kesibukan masing-masing.
Dibalik hangatnya kekerabatan dan ramainya komunikasi antar kaeluarga ini ternyata ada pula proses komunikasi yang belum berjalan dengan baik. Kasus pernikahan saudara kita Yoyok pada tanggal 7 April 2013 di Jakarta, permasalahan berawal dari ketidak sepahaman antara Yoyok dengan orang tua dan saudara kandungnya dalam menilai siapa yang tepat menjadi pendamping dalam berumah tangga setelah kegagalan pada pernikahan pertama. Akibat tidak didapatya titik temu terhadap perbedaan pandang diantara mereka, akhirnya pernikahan yang kedua ini harus dijalani oleh Yoyok sendirian. Ternyata permasalahan ini menimbulkan efek yang menimpa pada saudara anggota keluarga besar Bani Mukti yang lain dalam menetapkan sikap antara menghadiri atau tidak menghadiri pernikahan, kedua opsi pilihan menjadi serba salah. Disisi lain, bagi Yoyok, ini cobaan besar yang harus dijalani. Bisa dibayangkan betapa rumit dan pusingnya seseorang yang akan melangsungkan pernikahan untuk dirinya sendiri beserta resepsinya, tetapi segala sesuatunya harus dipersiapkan dan dilakukan seorang diri tanpa dukungan dan bantuan kerabatnya, dan tempatnya di Jakarta lagi.Ikatan emosional yang terbangun antara kita sebagai buah dari kebersamaan sejak masa kecil, merasa tidak nyaman menerima kenyataan yang demikian pelik, mengapa harus ada pengucilan kepada salah seorang anggota keluarga yang sedang menjalankan perbuatan sunah. Haru dan sedih berpadu dalam dada, dan tak terasa telah melelehkan air mata prihatin, mengapa harus terjadi ada anggota Bani Mukti yang kesepian ditengah riuhnya keluarga besarnya ??? 

Optimalkan Pertemuan
Pertemuan tahunan yang disepakati sebagai wadah silaturahmi keluarga besar pada hari kedua lebaran atau setiap tanggal 2 Syawal, sebetulnya merupakan salah satu wahana untuk mereduksi kegalauan kita dalam upaya melestarikan ikatan kekeluargaan Bani Mukti yang kita khawatirkan akan meredup ditelan masa. Agar lebih optimal manfaat dari pertemuan tersebut memang dibutuhkan kreator yang mampu untuk mengemas secara lebih tepat dan menarik untuk semua.  Hal yang perlu dibenahi didalam penyelenggaraan pertemuan tahunan adalah mengupayakan agar tidak hanya serasa sekedar menggugurkan kewajiban bertemu kemudian selesai. Hal-hal yang mestinya kita kondisikan dalam setiap pertemuan dan diluar pertemuan antara lain:

1.    Mengupayakan berlangsungnya saling mengenal atau diperkenalkan diantara mereka, mengenal dalam arti yang sebenarnya
2.    Menciptakan kondisi saling berinteraksi secara aktif dan alami diantara mereka dalam bentuk kegiatan bersama
3.    Menyediakan waktu yang cukup untuk berinteraksi, tidak sekedar formalitas pertemuan rapat
4.    Membudayakan saling membantu dan tolong-menolong antar anggota keluarga dalam berbagai hal baik yang kondisi menyenangkan ataupun kesusahan
5.    Mengembangkan komunikasi antar sesama dengan memanfaatkan semaksimal mungkin media yang ada

Tidak ada komentar: