27 September 2008

Kampungku Juara Green & Clean


Aku dan keluargaku sejak 18 tahun yang lalu telah menjadi penghuni Kota Surabaya yang kini dipadati oleh sekitar 3 juta jiwa penduduknya. Dengan jumlah penduduk sebesar itu, Kota Surabaya menjadi kota yang semakin padat, dan yang kemudian menjadi permasalahan adalah sampah, lingkungan yang tidak sehat, perumahan yang padat dan kumuh, lahan terbuka yang semakin kecil. Sebagai penghuni Kota Surabaya, keluargaku tinggal di sebuah kampung yang bernama Jetis Wetan. Sebuah kampung lama di daerah selatan Kota Surabaya setingkat RW dengan 6 RT, jmlah penduduk 1993 jiwa. Layaknya di sebuah kampung atau desa, pada umumnya sifat kekerabatan dan gotongroyong diantara mereka masih sangat erat. Namun dalam kenyataan bukan hanya sifat kekerabatan yang menonjol disana, tetapi justru sebagian besar diantara mereka memang masih mempunyai ikatan keluarga. Bisa jadi penghuni dari kampung ini awalnya adalah dari sumber (nenek moyang) yang sama kemudian beranak-pinak dan tinggal di dearah ini juga. Keluargaku termasuk sala satu penduduk pendatang yang tidak memiliki hubungan kekeluargaan dengan sesepuh kampung ini.

Dimasa kecilku bapakku pernah menjadi ketua RT selama dua periode dan sejak tahun 2004-2007 beliau dipilih warga untuk menjadi Ketua RW kemudian dipilih kembali untuk periode kedua sampai tahun 2010 bersamaan dengan itu, pada bulan September 2007 ibuku dipilih menjadi fasilitator kader lingkungan untuk tingkat Kelurahan dan harus mengikuti pelatihan selama 1 minggu di Kantor Pemerintah Kota Surabaya.

Sejak itu, ibuku sering memberikan penyuluhan kepada warga tidak hanya di lingkungan RW kami di Jetis Wetan, tetapi juga kewilayah RW lain di lingkup kelurahan Margorejo. Yang pasti kesibukan ibu diluar rumah semakin padat, karena dirumah tidak ada pembantu akibatnya rumah menjadi kosong sehingga seringkali kunci rumah harus dititipkan tetangga.

Para famili mungkin akan merasakan ada perubahan yang mencolok pada saat memasuki kampung Jetis Wetan yang dahulu dengan yang sekarang. Lingkungan semakin tertata lebih rapi, tanaman hijauan semakin merata sepanjang gang, sampah semakin sedikit terlihat tercecer. Ini adalah salah dua dari dampak upaya fasilitator lingkungan yang notebene adalah ibuku sendiri membentuk kader-kader lingkungan di seluruh kampung kami. Kader lingkungan diajari mulai memilah sampah, mendaur ulang sampah menjadi kompos dan kerajinan, membudidayakan tanaman sebagai sumber penghasilah dan penghijauan sampai membiasakan perilaku warga terhadap sampah dan kebersihan.

Yang cukup membanggakan adalah terpilihnya dua RT diwilayah kami menjadi peraih penghargaan Green and Clean Surabaya 2008. Dari 1700 peserta lomba Green and Clean Surabaya 2008 dua RT dilwilayah kami yaitu RT. 04 terpilih menjadi pemenang peringkat kedua dan RT. 05 menduduki peringkat ke 26 untuk kategori berkembang. Perubahan perilaku warga di wilayah kami yang paling terlihat adalah sikap mereka terhadap sampah plastik, khususnya bekas kemasan air mineral. Dahulu kalau kita amati sebuah acara hajatan, maka setelah selesai acara kita akan dapat plastik kemasan air dan kotak kue berserakan dimana-mana. Tetapi pada saat sekarang sudah sangat berbeda, karena diantara warga telah menyadari perlunya kebersihan dan disamping itu plastik-plastik kemasan air dan karton bekas kotak kue mempunyai nilai jual sehingga mereka berusaha mengumpulkannya.

(Rosyida)

Tidak ada komentar: